"Tiap-tiap diri akan merasai mati. Sesungguhnya akan disempurnakan pahala kamu pada hari kiamat. Sesiapa yang TERSELAMAT DARI NERAKA dan dimasukkan ke dalam syurga, sesungguhnya BERJAYA lah dia, dan ingatlah bahawa kehidupan di dunia ini hanyalah kesenangan yang memperdaya." (Ali Imran : 185)

Ta'wil / Takwil

*

Ta'wil ialah memalingkan makna zahir kepada makna lain yang masih dapat dikandungnya, yang sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah. (Al-Imam Al-Jurjani ,At-Ta‘rifât, 50).

Menjauhkan makna dari segi zahirnya kepada makna yang lebih layak bagi Allah, ini kerana zahir makna nas al-Mutasyabihat tersebut mempunyai unsur jelas persamaan Allah dengan makhluk.

Memberi makna lain kepada sesuatu lafaz, berdasarkan qarinah (petunjuk) dalam jumlah keseluruhan atau sebahagian ayat tersebut.

Oleh itu, kalimah Istawa difahami seperti berikut:
* Beriman dengan kalimah Istawa daripada Al-Quran
* Kemudian ditakwilkan MAKNAnya kepada Istaula (استولى) yang bermaksud menguasai.

Bukti ada Salaf yang amal TAKWIL :

Imam Abu Abdir Rahman Abdullah ibn Yahya ibn al-Mubarak (w 237 H), dalam karyanya berjudul Gharib al-Quran Wa Tafsiruh dalam menafsirkan firman Allah QS. Thaha: 5 mengatakan: “Al-Istiwa’ maknanya al-Istaula (menguasai)”.[Gharib al-Quran wa Tafsiruh, h. 133]

Imam Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ath-Thabari (w 310 H) mentakwil firman Allah QS. Al-Baqarah: 29 “Tsummastawa Ilas sama’” berkata: “Maknanya ketinggian kekuasaan (uluww Mulk wa sulthan), bukan dengan makna tinggi bertempat, pindah dan berubah”.[Jami’ al-Bayan ‘an ta’wil Ay al0Quranm j. 1, h. 191-192]

Imam an-Nasafi menulis: Istawa ertinya Istaula, dari Imam Salaf Az-Zajjaj (241-311 H). (Tafsir An-Nasafi - Surat al-A’raf – ayat 54).

Imam al-Lughawiy Abu Ishaq Ibrahim ibn as-Sariyy az-Zajjaj (w 311 H) memaknakan Istawa dengan Istaula.[Ma’ani al-Quran wa I’rabuh, j. 3, h. 350]

Imam al-Lughawiy Abu al-Qasim Abdul Rahman ibn Ishaq az-Zajjaji (w 340 H) menuliskan bahawa nama Allah al-‘Alyy dan al-Ali adalah dalam pengertian yang Maha menguasai dan Maha menundukkan atas segala sesuatu.[Istiqaq asma’ Allah, h. 109]

Imam al-Mutakallim Abu Mansur Muhammad ibn Muhammad al-Maturidi al-Hanafi (w 333 H) menafsirkan firman Allah QS. Thaha: 5, berkata: “atau dalam makna menguasainya (menguasai arasy), kerana tidak ada menguasainya dan tidak ada yang mengaturnya selain Dia Allah”.[Ta’wilat Ahlussunnah, j. 1, h. 85]


*
Dalil berkaitan TAKWIL: Rasulullah berdoa kepada Ibnu Abbas dengan doa: Maknanya: “Ya Allah alimkanlah dia dengan hikmah dan ta'wil Al quran”. (H.R Ibnu Majah)

Hadis riwayat Ibnu al-Mundziri:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ :(وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهُ اِلاَّ اللهُ وَ الرَّاسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ) قَالَ: اَنَـامِمَّنْ يَعْلَمُوْنَ تَـأْوِيْـلَهُ.(رواه ابن المنذر)

"Dari Ibnu Abbas tentang firman Allah: 'Dan tidak mengetahui takwilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya'. Berkata Ibnu Abbas: 'Saya adalah di antara orang yang mengetahui takwilnya."


1) Ibnu Abbas menta’wîl ayat : يوم يُكْشَفُ عَ ن ساقٍ “Pada hari betis disingkapkan.” (QS. al Qalam [68]:42) Ibnu Abbas ra. berkata : “Disingkap dari kegentingan.” Disini kata ساقٍ (BETIS) dita’wîl dengan makna شِدَّ ةٌKEGENTINGAN”.

Ta’wîl ayat di atas ini telah disebutkan juga oleh Ibnu Hajar dalam Fathu al Bâri,13/428 dan Ibnu Jarir dalam tafsirnya 29/38. Ia mengawali tafsirnya dengan mengatakan, “Berkata sekelompok sahabat dan tabi’în dari para ahli ta’wîl, maknanya (ayat al-Qalam:42) ialah, “Hari di mana disingkap (diangkat) perkara yang genting.”

2) Ibnu Abbas ra. menta’wîl ayat : و السَّمَا ءَ بَنَيْناهَا بِأَيْدٍ و إِنَّا لَمُوسِعُو ن “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.” (QS adz Dzâriyât [51] : 47). Kata أَیْدٍ secara lahiriyah adalah TANGAN, ia bentuk jama’ dari kata یَدٌ . Ibnu Abbas ra. mena’wîl erti kata YADD/TANGAN dalam ayat Adz-Dzariyat ini dengan بِقُوَّةٍ erti KEKUATAN. Demikian diriwayatkan al-Hafidz Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya, 7/27. Selain dari Ibnu Abbas ra., ta’wîl serupa juga diriwayatkannya dari para tokoh Tabi’în dan para Salaf seperti Mujahid, Qatadah, Manshur Ibnu Zaid dan Sufyan.

3). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَٰذَا
“Maka pada hari ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini…” (QS. al A’râf [7]:51). Ibnu Abbas ra. menta’wil ayat ini yang menyebut perkataan MELUPAKAN dengan ta’wîl "MEMBIARKAN”. Ibnu Jarir berkata: “iaitu maka pada hari ini iaitu hari kiamat, Kami MELUPAKAN mereka, Dia berfirman, Kami MEMBIARKAN mereka dalam siksa..’ (Tafsir Ibnu Jarir, 8/201)

4) Ath-Thabari mengemukakan dua riwayat yang bersanad kepada Ibnu Abbas, berkenaan dengan penafsiran firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbunyi, “Kursi Allah meliputi langit dan bumi. ” Ath-Thabari berkata, “Para ahli takwil berselisih pendapat tentang arti kursi. Sebagian mereka berpendapat bahwa yang dimaksud adalah ilmu Allah. Orang yang berpendapat demikian bersandar kepada Ibnu Abbas yang mengatakan, ‘Kursi-Nya adalah ilmu-Nya.’ Ada pun riwayat lainnya yang juga bersandar kepada Ibnu Abbas mengatakan, ‘Kursi-Nya adalah ilmu-Nya’ Bukankah kita melihat di dalam firman-Nya, ‘Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya.’” (Tafsir ath-Thabari, jld 3, hal 7.)

5) Tafsiran firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbunyi, “Segala sesuatu pasti binasa kecuali WAJAH-Nya” (QS. al-Qashash: 88), dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbunyi, “Dan tetap kekal WAJAH Tuhanmu, yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (QS. ar-Rahman: 27),

Ath-Thabari berkata, “Mereka berselisih tentang makna firman-Nya, ‘kecuali WAJAH-Nya’. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa yang dimaksud ialah, segala sesuatu pasti binasa 'KECUALI DIA'. Sementara sebagian lain berkata bahwa maknanya ialah, 'kecuali yang dikehendaki wajah-Nya', dan mereka mengutip sebuah syair untuk mendukung takwil mereka, “Saya memohon ampun kepada Allah dari dosa yang saya tidak mampu menghitungnya Tuhan, yang kepada-Nya lah wajah dan amal dihadapkan.” (Tafsir ath-Thabari, jld 2, hal 82).

Al-Baghawai berkata, “Yang dimaksud dengan ‘kecuali wajah-Nya’ ialah ‘kecuali Dia’. Ada juga yang mengatakan, ‘kecuali kekuasaan-Nya’.

Abul ‘lyalah berkata, “Yang dimaksud ialah ‘kecuali yang dikehendaki wajah-Nya’.” (Tafsir al-Baghawi).

Di dalam kitab ad-Durr al-Mantsur, dari Ibnu Abbas yang berkata, “ertinya ialah ‘kecuali yang dikehendaki wajah-Nya’.” Dari Mujahid yang berkata, “Yang dimaksud ialah ‘kecuali yang dikehendaki wajah-Nya.’”

Dari Sufyan yang berkata, “Yang dimaksud ialah ‘kecuali yang dikehendaki wajah-Nya, dari amal perbuatan yang saleh’.”


Ibnu Abbas ra. adalah seorang sahabat. Mujahid adalah seorang tabi’în. Ibnu Jarir, ath-Thabari adalah Ulama Tafsir kalangan Salaf…

SEBAHAGIAN salaf, termasuk Ibnu Abbas mentakwil ayat-ayat Al-Quran. KEBANYAKAN Salaf  lebih memilih Tafwidh tetapi tidak mengkafirkan SEBAHAGIAN yang bermanhaj Ta’wil.

Wallahu A'lam.


*


Link pilihan:

Ulama Salaf Dan Khalaf Yang Mentakwil Istawa

Manhaj SALAF Yang Sebenar

Kefahaman yang Sahih tentang fahaman SALAF

MEMAHAMI FAHAMAN TAJSIM

Fakta Golongan Salaf dan Khalaf melakukan TAKWIL

Di mana salahnya aqidah fahaman Wahabi Salafi




*

3 ulasan:

  1. Kalam Allah swt itu adalah, "Sebagaimana yg Dia Firmankan menurut erti yg DikehendakiNya".
    Begitulah kita bertafwidh.

    WaAllahu'alam !

    BalasPadam
    Balasan
    1. Takwil pula, kita bertaklid kpd para Imam kita yg lebih arif dan lebih memahami. Kita tidak bertaklid buta sbgmn yg sesetgh golongan menuduh, kerana kita juga memahami alasan alasan dan hujah hujah para Imam kita. Namun makna hakikinya tetap juga diserah kpd Yg Empunya Kalam.

      WaAllahu'alam !

      Padam
  2. Hari ini saya ingin mengunkapkan tentang perjalanan hidup saya,karna masalah ekonomi saya selalu dililit hutang bahkan perusahaan yang dulunya saya pernah bagun kini semuanya akan disitah oleh pihak bank,saya sudah berusaha kesana kemari untuk mencari uang agar perusahaan saya tidak jadi disitah oleh pihak bank dan akhirnya saya nekat untuk mendatangi paranormal yang terkenal bahkan saya pernah mengikuti penggandaan uang dimaskanjeng dan itupun juga tidak ada hasil yang memuaskan dan saya hampir putus asa,,akhirnya ketidak segajaan saya mendengar cerita orang orang bahwa ada paranormal yang terkenal bisa mengeluarkan uang ghaib atau sejenisnya pesugihan putih yang namanya Mbah Rawa Gumpala,,,akhirnya saya mencoba menhubungi beliau dan alhamdulillah dengan senan hati beliau mau membantu saya untuk mengeluarkan pesugihan uang ghaibnya sebesar 10 M saya sangat bersyukur dan berterimakasih banyak kepada Mbah Rawa Gumpala berkat bantuannya semua masalah saya bisa teratasi dan semua hutang2 saya juga sudah pada lunas semua,,bagi anda yang ingin seperti saya dan ingin dibabtu sama Mbah silahkan hubungi 085 316 106 111 saya sengaja menulis pesan ini dan mempostin di semua tempat agar anda semua tau kalau ada paranormal yang bisah dipercaya dan bisa diandalkan,bagi teman teman yang menemukan situs ini tolong disebar luaskan agar orang orang juga bisa tau klau ada dukun sakti yg bisa membantuh mengatasi semua masalah anda1.untuk lebih lengkapnya buka saja blok Mbah karna didalam bloknya semuanya sudah dijelaskan PESUGIHAN DANA GHAIB TANPA TUMBAL

    BalasPadam

Popular Posts