Allahumma inni 'a'u zubika min fitnatil masi khid dajjal - Ya ALLAH, aku pohon perlindungan MU daripada fitnah Dajjal..

Mengapa Kita Belajar Sifat Dua Puluh ?

*

Ada sebahagian orang yang menentang pengajian sifat 20 sedangkan ianya telah dipelajari sejak berpuluh tahun bahkan beratus tahun oleh umat islam. Mereka yang menentang pengajian tersebut dengan pelbagai alasan yang sangat lemah sekali. Mereka mengikuti hawa nafsu, dan bertaklid buta dengan orang yang juga tidak mempelajari sifat 20 malah mereka inilah pula yang menyesatkan sifat 20.

Sebahagian dari alasan mereka yang menentang sifat 20 adalah sebagai berikut :

1 - Pengajian sifat 20 melahirkan orang-orang yang berakidahkan lemah, sebab diambil dari filsafah Yunani.

Kita jawab: Hal ini merupakan fitnah yang besar. Kegoncangan dan kelamahan aqidah generasi zaman sekarang karena mereka tidak belajar aqidah yang sebenarnya termasuk di dalamnya sifat 20. Kalau kita lihat realiti yang ada bahkan ilmu sifat 20 inilah yang telah menyelamatkan umat islam di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, negeri Fatani ( Selatan Thailand ) dari usaha pemurtadan penjajah-penjajah asing.

Negara-negara ini telah dijajah oleh penjajah-penjajah kafir yang ingin meluaskan kekuasaan dan agama mereka, tetapi umat islam di Nusantara tetap berpegang dengan aqidah mereka. Barang diingat pengajian tauhid yang tiga ( Tauhid versi Wahabi ) belum bergembang di Nusantara ketika itu. Jadi tauhid apakah yang menjaga umat dari bahaya murtad ? Sudah tentulah jawapannya ialah tauhid sifat dua puluh.

2 - Aqidah sifat 20 merupakan sesuatu yang sangat berat dikaji dan menyusahkan orang islam, sehingga ada tuduhan yg menyebut makcik-makcik ( Ibu-Ibu ) di Langkawi ( pulau di Malaysia ) yang tak laksanakan shalat tujuh puluh tahun lamanya karena tak faham sifat 20, sebab gurunya kata kalau tak hafal sifat dua puluh shalat tak sah.

Kita jawab : Sifat dua puluh merupakan sistem pengenalan terhadap Allah s.w.t yang sangat mudah sekali, karena menghafalnya lebih mudah dari mengahafal al-Qur`an. Para sahabat Rasul telah mengafal al-Qur`an, jadi di dalam al-Qur`an sendiri telah disebut sifat-sifat Allah, dengan makna lain mereka telah menghafal sifat-sifat Allah melalui al-Qur`an. Jadi jika umat islam disuruh untuk mengahafal sifat 20 dengan dalil Naql ( al-Qur`an dan Hadis ) dan akal itu lebih mudah dari pada menghafal seluruh al-Qur`an.

Sifat-sifat Allah terlalu banyak sekali, baik disebutkan didalam al-Qur`an maupun didalam hadis Rasul. Jadi jika umat islam disuruh untuk menghafal seluruh sifat -sifat yang ada, ini merupakan sesuatu yang memberatkan bagi umat islam. Sedangkan pengajian sifat dua puluh memudahkan umat islam dengan menyebutkan sifat-sifat yang paling berpengaruh dari seluruh sifat-sifat yang lainnya.

Jika sifat 20 ini tidak ada, maka sifat-sifat yang lain pun tidak akan ada pula, sebab itulah sifat-sifat Allah yang lain itu tergantng kepada sifat 20, dengan makna jika sifat wujud Allah tidak ada maka sifat pengampun, pemurah, penyayang dan lain-lainnya juga tidak ada. Jika sifat qidam Allah tidak ada maka sifat menciptakan, memberi, kuat dan lain-lainnya juga tidak akan ada.

Sebab itulah sifat dua puluh ini sangat perlu sekali di pelajari, karena terdiri dari inti sari aqidah yang terdapat di al-Qur`an dan al-Hadis.

Adapun cerita kononnya ada seorang perempuan tidak shalat selama tujuh puluh tahun disebabkan tidak hafal sifat 20, maka ini cerita yang diragui dan diada-adakan

Allah berfirman : إن جاء كم فاسق بنبإ فتبينوا
Artinya : Jika datang kepada kamu orang fasikyang membawa kabar hendaklah teliti dulu.

Maksudnya cerita yang dibawa oleh orang tersebut perlu diteliti benar tidaknya, dari sebanyak perjalanan saya dan sepengetahuan saya tidak pernah ada orang tinggalkan shalat disebabkan mempelajari sifat 20, alasan di atas adalah cerita yg berlebihan. Jika mahu bercerita ceritalah perkara yang masuk akal dan yang benar, sebab lidah itu akan di pertanyakkan Allah di hari akhirat.

Saya akan sebutkan sebahagian pusat pendidian yang menjadikan sisten sifat 20 sebagai dasar didalam tauhid mereka.

1 - al-Azhar as-Syarif Mesir : Dari peringkat Menengah, atas dan perkuliyahan sifat dua puluh di pelajari di lembaga pendidikan yang tertua ini, mengeluarkan setiap tahunnya ribuan pelajar dan mahasiswa tetapi mereka tetap shalat walaupun mengaji sifat 20.

2 - Madrasah Solatiyah : Merupakan pusat pengajian yang pertma sekali di bina di Makkah menjadikan dasar pengajiannya sifat 20, mereka semua shalat dengan bagus walapun mengaji sifat 20.

3 - Madrasah Mustafawiyah Purba Baru Mandailing Sumatra Utara : merupakan pusat pendidikan yang yang sanat terkenal di Indonesia, mengeluarkan setiap tahunnya lebih dari tujuh ratusan pelajar, mereka semua shalat walaupun mempelajari sifat 20 sama ada yang sudah hapal atau belum.

Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Tebu Ireng, pondok Lubuk Tapah ( Malaysia ), pondok Bakriyyah Pasir Putih dan banyak lagi pondok pesantren yang mempelajari sifat dua puluh di Nusantara.

Bahkan orang-orang yang mempelajari sistem tauhid tiga ( versi Wahabi ) kebanyakkannya terjatuh kepada aqidah mujassimah yang menyerupai Allah dengan makhluknya, sebab itulah Wahabi bersusah payah untuk menghilangkan tauhid sifat dua puluh, selama masih ada di bumi ini orang yang mempelajari sifat dua puluh selama itulah Wahabi yang mengangap diri mereka salafi golongan mujassimah Musyabbihah.

3 - Sifat dua puluh tidak ada pada zaman Rasulullah s.a.w dan para sahabat-sahabat yang mulia, tetapi ada setelah abad-abad yang mulia.

Kita jawab : Tidak adanya sifat dua puluh pada zaman Rasul dan sahabat bukanlah sebagai dalil untuk menolak pengajian sifat dua puluh, sebab isi dan kandungan sifat dua puluh sudah ada pada zaman Nabi dan sahabat, misalnya sifat wujud Allah, Qidam, Baqa, Mukhalafatu Lil Hawadis, Qiyamuhu Binnafsih, Wahdaniyyah, Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayah, kalam adalah sifat - sifat yang di kenal oleh Nabi dan para sahabat-sahabatnya.

Barangsiapa yang mengingkari bahwa Nabi mengetahui sifat-sifat ini berarti aqidahnya telah jauh dari aqidah islam, bagaimana boleh Nabi mengingkari Wujudnya Allah, ilmunya Allah, Baqa`nya Allah, Kalamnya Allah, sifat-sifat ini telah termuat didalam al-Qur`an dan Hadis Nabi.

Seperti Rukun shalat, Nabi tidak pernah katakan berapa rukun shalat, berapa sunnah-sunnah shalat, berapa syarat-syarat shalat, tetapi melalui al-Qur`an dan Hadis para ulama telah menyimpulkan dan menetapkan rukun-rukun shalat dari mulai bediri sampai salam, apakah perbuatan ulama-ulama tersebut suatu yang bid`ah, hal ini tidak bid`ah karena isi dan kandungannya dari al-Qur`an dan as-Sunnah.

Saya akan perlihatkan kepada pembaca seluruh sifat-sifat yang telah ulama sebutkan sebagai sifat yang paling terpenting sekali Allah miliki, jika Allah tidak bersifat seperti itu maka Allah tidak pantas menjadi tuhan, tetapi karena dalil Naqli dan akal telah menyebutkan Allah bersifat dengan sifat dua puluh maka sah-lah Allah sebagai tuhan yang di sembah.

Berikut sifat-sifat yang sangat penting sekali :

1 - Wujud

Sifat Wujud ini mesti ada pada tuhan yang di sembah jika tidak ada maka dia tidak berhak dianggap tuhan, sementara dalil yang di petik darial-Qur`an adalah :
أفرءيتم ما تمنون ( 58 ) وأنتم تخلقونه أم نحن الخالقون ( 59 ) نحن قدرنا بينكم الموت وما نحن بمسبوقين ( 60 ).الواقعة 58-60

Artinya : Tidakkah kamu memikirkan keadaan air mani yang kamu pancarkan ( ke dalam rahim )? ( 58 ) Adakah kamu yang menciptakannya atau kami yang menciptakannya? ( 59 ) Kamilah yang menentukan kematian diantara kamu, dan Kami tidak sekali-kali dapat dikalahkan atau dilemahkan ( 60 ).

2 - Qidam

Allah s.w.t bersifatkan qadim maksudnya wujud Allah s.w.t tidak didahuli oleh tiada, jika sesuatu didahului oleh tiada maka sesuatu itu tidak boleh disebut tuhan.

Dalilnya :هو الأول وهو الآخر

Artinya : Dia-lah yang awal dan yang akhir ( al-Hadid 3 ).

Sifat ini banyak dikritik dari kalangan wahabi, mereka menganggap bahwa qadim bukan sifat Allah karena, terdapat di dalam al-Qur`an.

Tidak semestinya jika al-Qur`an tidak menggunakannya untuk sifat Allah berarti tidak boleh gunakan, selama maksud sifat itu terdapat didalam al-Qur`an dan telah menjadi istilah yang di terima oleh ulama maka sifat itu boleh digunakan, sebab Imam Abu Hanifah, Imam Tohawi dan lain-lainnya juga menggunakan kalimat ini.

Sifat qidam juga telah di riwayatkan di Imam Ibnu Majah, Imam al-Hakim didalam Mustadrak, juga terdapat didalam sunan Ab Daud.

3 - Baqa :Wajib abgi Allah bersifat baqa` yang berarti tetap tidak diakhiri dengan kematian, Allah berfirman

ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام

Artinya : Dan kekallah Zat Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliyaan. ( ar-Rahman 27 ).

4 - مخالفة للحوادث
Sifat ini merupakan sefat yang paling penting di fahami oleh umat islam, bahwa segala sifat, perbuatan, dan prilaku yang baharu tidak boleh disamakan kepada Zat, sifat, perbuatan Allah, barang siapa yang mengingkari sifat ini maka dia telah keluar dari agama islam, jadi Allah tidak sama dengan makhluk-makhluknya.

Firman Allah : ليس كمثله شيئ وهو السميع البصير

Artinya : Tiada sesuatupun yang sebanding (serupa ) dengan ( Zat , sifat, perbuatan ),Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat (as-Syura 11 ).

Dan selanjutnya seluruh sifat-sifat yng telah ulama-ulama as-Sya`irah kemukaan didalan sifat dua puluh memiliki dalil-dalil yang jelas didalam al-Qur`an.

4 - Sifat Allah tidak hanya dua puluh kenapa mesti di batasi

Kita jawab : Asya`irah ketika membincang sifat dua puluh TIDAK PERNAH membataskan sifat-sifat Allah, bahkan mereka mengakui sifat-sifat Allah banyak, setiap sifat-sifat sempurana dan mulya itu adalah sifat Allah. Orang yang mengatakan Asya`irah hanya mengajar sifat dua puluh saja membuktikan dia tidak pernah membaca buku-buku aqidah aliran ahlussunnah Asya`irah, cuba lihat sebahagian kitab-kitab Asya`irah :

a - Matan as-Sanusiyyah : Kitab ini dikarang oleh Imam Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Yusuf as-Sanusi yang meninggal dunia tahun 895 hijriyah, kitab ini merupakan kitab yang paling penting di kalangan Asya`irah, telah mendapat perhatian khusus dari kalangan ulama dan pelajar agama, sehingga menjadi rujukkan aqidah bagi Asya`irah sedunia.

Di dalamnya menyebutkan :

فمما يجب لمولانا جل وعز عشرون صفة

Artinya : Sebahagian sifat yang wajib bagi Allah yang Mulia dan Tinggi adalah dua puluh sifat ( Matan Sanusia beserta Hasyiahnya Imam Bajuri :16 , terbitan Musthafa Halabi , 1374 - 1955 )

b - ad-Duru al-Farid Fi Aqa`idi Ahli Tauhid karangan Imam Ahmad bin Sayyid Abdurrahman an-Nahrawi

فمما يجب لله تعالى عشرون صفة واجبة

Artinya : Dan sebahadian dari sifat yang wajib bagi Allah adalah dua puluh sifat yang wajib (ad-Duru al-Farid Fi Aqa`idi Ahli Tauhid karangan Imam Ahmad bin Sayyid Abdurrahman an-Nahrawi beserta syarahnya Fathu al-Majid karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Banteni : 5 , terbitan Musthafa al-Halabi cetakan terakhir 1373 -1954 ).

Perlu di ketahui bahwa lafaz ( من ) pada kalimat ini bermaksud ( لتبعيض ) artinya menunjukkan sebahagian saja, dengan begitu sifat Allah banyak sekali, segala sifat yang patut, layak, dan mulia adalah sifat Allah, tetapi diantara sifat-sifat itu ada dua puluh sifat yang sangat perlu sekali di ketahui secara terperinci.

Oleh: Syeikh Muhammad Husni Ginting (Hafizahullah)

Sumber: https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1733772913555781&id=100007692669473

*

Jihad Lawan Nafsu

*

Kita telah pulang dari jihad yang kecil (peperangan) dan kita menuju kepada jihad yang lebih besar/paling besar. Para sahabat berkata: Apakah jihad yang paling besar? Rasulullah berkata: Jihad menentang hawa nafsu”.

STATUS HADIS -> https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1728639560753735&id=1697348283882863

*

AYAT MUTASYABIHAT

*

Ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat mansukh, ayat-ayat tentang Asma’ Allah & sifat-sifatnya, huruf-huruf hija’iyah di awal surah, hakikat hari kemudian serta ‘ilmus sa’ah.

Ayat-ayat mutasyabihat iaitu ayat-ayat yang lafaz zahirnya seolah-olah menggambarkan penyamaan Allah dengan makhluknya iaitu ayat-ayat yang menyebutkan wajah Allah, tangan Allah, mata Allah, Allah berada di langit dan sebagainya.

Para ulamak Khalaf (al-Asya’irah dan Maturidiyyah) mentakwilkannya (yakni mentafsirkan ayat-ayat tersebut dengan makna majaznya iaitu makna yang tersirat baginya untuk mengelak dari menyerupakan Allah dengan makhluk),

Ulamak-ulamak Salaf pula enggan mentakwilkannya, namun mereka berkata; makna zahir ayat tidak dimaksudkan (kerana ia menggambarkan penyerupaan Allah dengan makhluk), namun apa makna sebenarnya terserahlah kepada Allah (tidak perlu kita menyebukkan diri untuk mengorek rahsianya, yakni memadai dengan kita beriman sahaja dengan ayat-ayat tersebut).

Imam Ibnu Taimiyah, Ibnul-Qayyim dan beberapa ulamak lagi (yang menjadi ikutan golongan Salafiyah hari ini); ayat tersebut dipakai dengan makna zahirnya, tidak perlu ditakwilkan dan tidak perlu dianggap maknanya terserah kepada Allah kerana dengan makna zahir ayat kita sudah dapat memahami ayat itu mengikut kehendak Allah. Kita menerima zahir ayat, namun jangan kita menyamakan sifat yang disebut dalam ayat mutasyabihat itu dengan sifat manusia atau makhluk lain. Nama atau sebutan kebetulannnya sama, namun kaifiatnya berbeza antara Allah dan makhluk. Maka apabila al-Quran menyebutkan “Tangan Allah”, menurut pandangan ketiga ini; Allah sememangnya bertangan (kerana Allah menyebutnya), namun jangan kita gambarkan tangan Allah itu seperti tangan makhluk. Tangan Allah itu adalah sifatNya, bukan anggotaNya sebagimana tangan makhluk.

Mazhab Khalaf dinamakan sebagai mazhab Isbat wa Takwil (yakni menerima ayat-ayat mutasyabihat itu dengan mentakwil (mentafsirkan) maknanya), mazhab Salaf dinamakan mazhab Isbat wa Tafwidh (yakni menerima ayat-ayat mutasyabihat itu tetapi menyerahkan maknanya kepada Allah) dan Fahaman Ibnu Taimiyah (Salafiyah) dinamakan; Isbat wa Tanzih (menerima ayat-ayat mutasyabihat tadi dengan makna zahirnya tetapi dengan mentanzihkan Allah (yakni menyucikanNya) dari penyerupaan dengan makhluk).

Secara dasarnya, ketiga-tiga mazhab ini ada titik pertemuanya, iaitu semua mereka mengisbatkan (yakni menerima) ayat-ayat mutasyabihat. Begitu juga, semua mereka sepakat menafikan penyerupaan Allah dengan makhluk. 

Merujuk secara khusus kepada makna Istiwa Allah di atas ‘Arasyh, pandangan ketiga-tiga adalah seperti berikut;

1. Mazhab Khalaf; makna zahir istiwa ialah istaqarra dan ‘ala (iaitu menetap di atas sesuatu atau meniggi di atas sesuatu). Makna ini menurut Khalaf menyamakan Allah dengan makhluk, iaitu seolah-olah Allah itu bertempat dan berarah seperti makhluk. Kerana itu, hendaklah dipakai makna majaznya (yakni makna yang tersirat darinya) iaitu istaula atau malika yang bermaksud; menguasai atau memiliki, yakni “(Allah) ar-Rahman memiliki (atau menguasai) ‘ArasyhNya”.

2. Mazhab Salaf; istiwa Allah diyakini sebagaimana yang disebut oleh Allah tanpa perlu ditafsirkan apa maknanya. Sebarang makna bagi ayat tersebut yang menunjukkan seolah-olah Allah sama seperti makhluknya makna itu tidak dikehendaki (yakni perlu dinafikan), namun apa makna sebenarnya bagi istiwa itu hanya Allahlah yang mengetahuinya. Tidak perlu kita menyebukkan diri mencari-carinya atau membahasnya kerana ia tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabat. Imam Malik apabila ditanya tentang makna ayat tersebut, ia menjawab; “Tentang istiwanya Allah itu sedia diketahui (kerana Allah sendiri menceritakanya. Namun kaifiyat istiwa itu (yakni bagaimana pengertiannya Allah beristiwa itu) adalah majhul (yakni tidak diketahui (kerana Allah tidak menceritakannya). Sesiapa bertanya tentangnya (yakni menyebukkan diri untuk menyelidikinya) dia melakukan bid’ah (kerana Nabi dan para sahabat tidak melakukanya)”. Jawapan Imam Malik ini memberi gambaran kepada kita bagaimana pandangan Salaf tentang masalah ini. Berkata Imam Ibnu Kathir dalam tafsirnya; “Mazhab Salaf ialah menerima ayat sebagaimana datangnya (yakni membacanya sahaja) tanpa takyif (menggambarkan bagaimana caranya Allah beristiwa itu), tanpa tamsil (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan tanpa ta’til (menolak ayat atau menolak sifat Allah yang dinyatakan dalam ayatNya). Namun makna zahir ayat sebagaimana yang ada dalam kepala golongan musyabbihin (iaitu golongan yang menyamakan Allah dengan makhluk) hendaklah dinafikan makna itu dari Allah kerana tidak ada mana-mana makhluk yang menyerupai Allah” (Tafsir Ibnu Kathir, surah al-A’raf, ayat 54).

3. Golongan Salafiyah; mereka memakai makna zahir dari istawa iaitu istaqarra (menetap) dan ‘ala (meninggi), jadi makna Allah beristiwa di atas ‘Arasyhnya ialah Allah menetap dan meninggi di atas ‘ArasyNya. Ia selari dengan firman Allah yang menegaskan bahawa Allah di langit, kerana ‘AryashNya berada di langit. Namun jangan digambarkan menetap dan meninggiNya Allah itu sama seperti menetap dan meningginya kita di atas sesuatu (katil, kerusi, bangunan tingkat atas dan sebagainya) kerana sifat Allah tidak sama dengan sifat makhluk walaupun menggunakan lafaz dan bahasa yang sama (contohnya; Allah mendengar dan makhluk mendengar. “Mendengar” adalah perkataan yang sama digunakan untuk Allah dan untuk makhluk, namun apabila kita mengakui Allah bersifat dengan as-Sama’ (mendengar) wajib kita mengiktiqadkan bahawa mendengarnya Allah tidak sama seperti mendengarnya makhluk walaupun bahasa yang digunakan adalah sama. Maka keadaan yang sama bagi istilah istaqarra (menetap) dan ‘ala (meninggi). Sama juga halnya ketika kita membaca hadis Nabi; “Allah turun ke langi dunia ketika tiba saat 1/3 malam yang akhir”, maka menurut mazhab ini; Allah sememangnya turun ke langit dunia (kerana itu yang diceritakan Nabi), namun cara bagaimana turunnya Allah jangan kita gambarkan seperti turunnya makhluk dari tingat atas ke tingkat bawah).

Wallahu A'lam.

*

Contoh Bid'ah Hasanah oleh Sahabat

*


Ummul Mukminin Aishah r.aha ditanya mengenai solat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadan, jawab beliau: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melebihi 11 rakaat samada dalam bulan Ramadan atau pun selainnya”. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Al-Imam Jalaluddin al-Mahalli telah berkata di dalam kitab “al-Mahalli”, juzuk 1, halaman 217: Maksudnya: "Dan diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan selainnya dengan sanad yang sahih seperti yang dikatakan dalam Syarah al-Muhazzab, bahawasanya sahabat-sahabat Nabi sembahyang [tarawih] pada zaman `Umar bin al-Khattab radiyallahu`anhu sebanyak 20 rakaat".

Wallahu A'lam.


*

Link pilihan:

Pengertian Bid'ah

Hakikat Bid'ah Hasanah

Di bahagian mana Imam Asy Syafie mengucapkan pembahagian bid'ah ?

Bid'ah hasanah dan bidah lughatan

Adakah semua bid'ah adalah sesat ? 

Kullu Bid`atin - Ust. Luthfi

Segera Menyedari Kesalahan Dalam Memahami Bid’ah

Contoh-contoh bid'ah yang diamalkan para sahabat

Dapat Hadiah Emas 

Bid'ah bukan hukum - Video

Bid'ah Hasanah Dan Bid'ah Dholalah - Video

https://assunnahfahamku.wordpress.com/2011/12/28/penjelasan-ulama-masyhur-tentang-bidah

https://generasisalaf.wordpress.com/2013/04/08/bidah-hasanah-dalam-pandangan-imam-syafii



*

Kaum MAJORITI

*

Dari ‘Auf bin Malik, dia berkata: “..Dan demi Yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 golongan, yang 1 di Syurga, dan yang 72 golongan di Neraka,’ Ditanyakan kepada baginda, ‘Siapakah mereka (1 golongan yang masuk Syurga itu) wahai Rasulullah?’ Baginda menjawab, ‘Al-Jama’ah.’ (HR. Ibnu Majah)

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Kitab Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari rahimahullah yang menyatakan: “Berkata para ulama, bahwa jama’ah adalah as-sawadul a’zham (majoriti)".

Ulama telah membuat kesimpulan bahawa yang dikatakan sebagai Al-Jama'ah atau Ahlus Sunnah Wal Jama`ah atau As-sawadul a’zham adalah pilihan majoriti ulama atau golongan yang benar menurut majoriti ulama iaitu golongan al-Asya`irah dan al-Maturidiyyah 


Wallahu a'lam.




Makna “Kun Fayakun”

*

Dalam al-Qur’an, Allah berfirman: “Inama Amruhu Idza Arada Sya’ian An Yaqula Lahu Kun Fayakun” (Surah Yasin: ayat 82)

Dari Tafsir Ibnu Katsir : Yakni sesungguhnya Allah memerintahkan kepada sesuatu hanya dengan satu perintah, tidak perlu diulang atau ditegaskan. (Tafsir Ibnu Katsir )


Seperti apa yang dipelajari dari Kitab-kitab Tauhid yang Muktabar, mengenai Allah itu bersifat Kalam, diketahui bahawa Allah Taala itu berkata-kata dengan tidak berhuruf dan tidak bersuara.

MUSTAHIL bagi Allah Taala BERKATA-KATA MENYEBUT “Kun Fayakun”. 

Maha Suci Allah dari berkata-kata sesuatu yang menyerupai kata-kata manusia.

Dinyatakan di dalam Kitab AsySyarhul Qawwim Fi Halli Al-Fazi Assiratil Mustaqim, bagi Asy-Syaikh Abdullah Al-Harari Al-Ma’ruf Bil Habasiyyi, m/s 141 :

Dan, hanya sesungguhnya makna ini ayat bahawa, Allah Taala mengadakan segala benda dengan ketiadaan penat, dan kesusahan, dan dengan ketiadaan halangan dari seseorang kepada Allah.

Iaitu, sesungguhnya Allah Taala menjadikan akan benda-benda yang Dia kehendaki, bahawa Dia jadikan akan benda itu dengan bersegera, lagi dengan ketiadaan terlewat, daripada waktu yang Dia kehendaki adanya benda itu, pada waktu tertentu itu.

Maka adapun, makna,


Ertinya, “Jadilah, maka jadilah ia.”

Ia menunjukkan di atas segera mengadakan. 

Kemudian, adalah perkataan, “Kun” itu bahasa ‘Arab. Sedangkan Allah Taala itu, telah ada sebelum adanya bahasa-bahasa makhluq semuanya. Dan, Allah Taala telah ada sebelum adanya berbagai-bagai bangsa makhluq.

Dan, demi sesungguhnya, berkatalah Qaum Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Al-Asya’irah), “Kalaulah ada Allah Taala itu berkata-kata dengan huruf dan suara, nescaya Allah Taala berlaku di atasnya segala sifat-sifat kemakhluqan, seperti bergerak, dan diam, dan sejuk, dan kering, dan berwarna-warni, dan ada bauan tertentu, dan rasa tertentu, dan lain-lain lagi. Sedangkan, ini semua adalah Mustahil bagi Allah.”

Dan, bermula Allah Taala menjadikan sebahagian daripada ‘Alam atau Makhluq itu bergerak-gerak pada satu ketika, dan diam pada satu ketika, mereka itulah manusia dan jin dan malaikat, dan angin, dan cahaya, dan gelap, dan bayang-bayang.

Sedangkan Allah Taala, langsung tidak menyerupai akan sesuatu pun daripada ini ‘Alam atau makhluq kesemuanya.


Wallahu a'lam.


Disunting dari http://jamaluddinab.blogspot.my/2011/02/taubat-si-jemaah-tabligh-2-tentang-ayat.html

*

Sumber Hukum Dalam Islam bukan Al Qur’an dan Hadis sahaja

*

Sumber hukum Islam yang disepakati jumhur(majoriti) ulama adalah Al Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas.

Jumhur ulama juga sepakat dengan turutan/keutamaan dalil-dalil :
(1. Al Qur’an, 2. Hadis/Sunnah, 3. Ijma’ 4. Qiyas).

Ijma’ ialah persetujuan kesepakatan pendapat dari para mujtahid (para ulama yang mempunyai kemampuan dalam meng-istinbath hukum dari dalil-dalil syara’ ) atas suatu hukum syara’. Ijtihad adalah keputusan seorang ulama mujtahid (sendirian). Jika semua mujtahid yang ramai mempunyai ijtihad yang sama, jadilah ijma’. Ijma’ adalah sandaran hukum, merupakan salah satu sumber hukum di dalam islam ketika tidak ditemukan landasan dalil di dalam Al Qur’an, Hadits. Sedangkan ijtihad bukan sandaran hukum yang wajib diikuti.

Qiyas adalah menyamakan sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan sesuatu yang ada nash hukumnya kerana adanya persamaan illat hukum.

Sumber rujukan:
1. Wahbah al-Zuhaili, Ushul Fiqh al-Islami.
2. Abdul Wahhab al-Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh.
3. Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqh.

Wallahu a'lam.

*

Manhaj Salaf Yang Sebenar

*

Istawa Dalam Tafsir Imam Ibnu Katsir.

Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir -Surat al-A’raf – ayat 54 sebagai berikut :

وأما قوله تعالى: { ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ } فللناس في هذا المقام مقالات كثيرة جدا، ليس هذا موضع بسطها، وإنمايُسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح: مالك، والأوزاعي، والثوري،والليث بن سعد، والشافعي، وأحمد بن حنبل،وإسحاق بن راهويه وغيرهم، من أئمة المسلمين قديما وحديثا، وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولاتعطيل. والظاهر المتبادر إلى أذهان المشبهين منفي عن الله، فإن الله لا يشبهه شيء من خلقه، و { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌوَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ } بل الأمر كما قال الأئمة -منهم نُعَيْم بن حماد الخزاعي شيخ البخاري -: “من شبه الله بخلقه فقدكفر، ومن جحد ما وصف الله به نفسه فقد كفر”. وليس فيما وصف الله به نفسه ولا رسوله تشبيه، فمن أثبت للهتعالى ما وردت به الآيات الصريحة والأخبار الصحيحة، على الوجه الذي يليق بجلال الله تعالى، ونفى عن الله تعالىالنقائص، فقد سلك سبيل الهدى.

“Ada pun firman Allah taala { ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ } maka bagi manusia pada tempat ini pernyataan yang banyak sekali, di sini tidak mengupas semua nya, di sini hanya menempuh Madzhab Salafus Shalih yaitu imam Malik, dan al-Auza’i, dan Al-tsuri, al-laits bin sa’ad dan imam Syafi’i dan imam Ahmad dan Ishaq bin rahawaih dan selain mereka dari ulama-ulama islam masa lalu dan masa sekarang, dan Madzhab Salaf adalah memperlakukan ayat tersebut sebagaimana datang nya, dengan tanpa takyif (memerincikan kaifiyat nya) dan tanpa tasybih (menyerupakan dengan makhluk) dan tanpa ta’thil (meniadakan) dan makna dhohir (lughat) yang terbayang dalam hati seseorang, itu tidak ada pada Allah, karena sesungguhnya Allah tidak serupa dengan sesuatupun dari makhluk-Nya, dan [tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia maha mendengar lagi maha melihat. QS Asy-Syura ayat 11], bahkan masalahnya adalah sebagaimana berkata para ulama diantaranya adalah Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru al-Bukhari, ia berkata : “Barang siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka sungguh ia telah kafir, dan barang siapa yang mengingkari sifat yang Allah sifatkan (sebutkan) kepada diri-Nya, maka sungguh ia telah kafir”. Dan tidak ada penyerupaan (Tasybih) pada sifat yang disifatkan/disebutkan oleh Allah dan Rasul kepada diri-Nya, maka barang siapa yang menetapkan bagi Allah taala akan sesuatu yang telah datang ayat yang shorih (ayat Muhkam) dan Hadits yang shohih, dengan cara yang layak dengan keagungan Allah taala, dan meniadakan segala kekurangan dari Allah taala, maka sungguh ia telah menempuh jalan yang terpetunjuk”.[Tafsir Ibnu Katsir -Surat al-A’raf – ayat 54]

Mari kita fahami huraian Ibnu Katsir satu persatu :

فللناس في هذا المقام مقالات كثيرة جدا، ليس هذا موضع بسطها، وإنما يُسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح: مالك، والأوزاعي، والثوري،والليث بنسعد، والشافعي، وأحمد بن حنبل، وإسحاق بن راهويه وغيرهم، من أئمة المسلمين قديما وحديثا

“maka bagi manusia pada tempat ini pernyataan yang banyak sekali, di sini tidak mengupas semua nya, di sini hanya menempuh Madzhab Salafus Sholih yaitu imam Malik, dan al-Auza’i, dan Al-tsuri, al-laits bin sa’ad dan imam Syafi’i dan imam Ahmad dan Ishaq bin rahawaih dan selain mereka dari ulama-ulama islam masa lalu dan masa sekarang”

Huraian: Pada ayat-ayat Mutasyabihat seperti ayat tersebut ada banyak pendapat manusia, dan di sini Ibnu Katsir tidak membahas semua nya, hanya membahas bagaimana pendapat kebanyakan ulama Salaf saja seperti Imam Malik, dan al-Auza’i, dan Al-tsuri, al-laits bin Sa’ad dan Imam Syafi’i dan Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih.

وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل. والظاهر المتبادر إلى أذهان المشبهين منفي عن الله

“dan Madzhab Salaf adalah memperlakukan ayat tersebut sebagaimana datangnya, dengan tanpa takyif (memerincikan kaifiyat nya) dan tanpa tasybih (menyerupakan dengan makhluk) dan tanpa ta’thil (meniadakan) dan makna dhohir (lughat) yang terbayang dalam hati seseorang, itu tidak ada pada Allah”

Huraian: Menurut Ibnu Katsir, Manhaj Salaf adalah memberlakukan ayat-ayat Mutasyabihat sebagaimana datang nya dari Al-Quran, artinya para ulama Salaf ketika membahas atau membicarakan atau menulis ayat tersebut, selalu menggunakan kata yang datang dalam Al-Quran tanpa menggunakan kata lain, baik dengan Tafsirnya atau Ta’wilnya atau bahkan terjemahannya, atau biasa disebut dengan metode Tafwidh makna, dan tanpa menguraikan kaifiyatnya, artinya tanpa membicarakan apakah itu sifat dzat atau sifat fi’il, apakah itu sifat atau ta’alluq-nya atau lain nya, dan tanpa Tasybih artinya menyerupakan atau memberi makna yang terdapat penyerupaan di situ, dan tidak meniadakan nya karena keadaan nya yang tidak diketahui makna nya, artinya bukan berarti ketika tidak diketahui makna nya, otomatis telah mengingkari sifat Allah, karena telah menetapkan sifat Allah dengan kata yang datang dari Al-Quran, sedangkan makna atau terjemahan yang dipahami oleh seseorang, makna tersebut tidak ada pada Allah, artinya sebuah makna yang otomatis dipahami ketika disebutkan sebuah kalimat, maka makna tersebut bukan maksud dari ayat Mutasyabihat, karena makna tersebut tidak boleh ada pada Allah, kerena dengan menyebutkan makna tersebut kepada Allah, otomatis ia telah melakukan penyerupaan Allah dengan makhluk, Ibnu Katsir di atas menyebut dengan sebutan “Musyabbihin” kepada orang yang memahami makna dhohirnya, ini artinya menyebutkan makna dhohir kepada Allah otomatis telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Ulama Salaf dan Khalaf sepakat bahwa makna terjemahan dhohiriyah dalam bab Mutasyabihat tidak layak dengan keagungan Allah, dan menjadikan orang nya sebagai orang yang telah menyerupakan Allah dengan makhluk.inilah metode kebanyakan dari ulama Salaf, dan nampak jelas perbedaan manhaj Salaf dengan manhaj Salafy Wahabiyah.

فإن الله لا يشبهه شيء من خلقه، و { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ }

“karena sesungguhnya Allah tidak serupa dengan sesuatupun dari makhluk-Nya, dan [tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia maha mendengar lagi maha melihat. QS Asy-Syura ayat 11]”

Maksudnya : kenapa makna dhohirnya tidak boleh, karena Allah tidak serupa sedikit pun dengan makhluk-Nya sebagaimana disebutkan dalam surat asy-Syura ayat 11, dan ketika makna dhohirnya terdapat sedikit keserupaan, maka makna dhohir tersebut tidak boleh pada Allah.


بل الأمر كما قال الأئمة -منهم نُعَيْم بن حماد الخزاعي شيخ البخاري -: “من شبه الله بخلقه فقد كفر، ومن جحد ما وصف الله به نفسه فقد كفر”

“bahkan masalahnya adalah sebagaimana berkata para ulama diantaranya adalah Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru al-Bukhari, ia berkata : “Barang siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka sungguh ia telah kafir, dan barang siapa yang mengingkari sifat yang Allah sifatkan (sebutkan) kepada diri-Nya, maka sungguh dia telah kafir”.

Maksudnya : Bukan saja masalah nya sebatas tidak boleh, bahkan orang tersebut boleh menjadi kafir dengan sebab ini, sebagaimana berkata para ulama diantaranya adalah Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru al-Bukhari, ia berkata : “Barang siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka sungguh ia telah kafir, dan barang siapa yang mengingkari sifat yang Allah sifatkan (sebutkan) kepada diri-Nya, maka sungguh ia telah kafir”. artinya termasuk dalam orang dihukumi kafir adalah orang yang beriman dengan makna dhohir, karena sudah dijelaskan di atas bahwa dalam makna dhohir sudah terkandung Tasybih, dan tidak termasuk dalam mengingkari sifat Allah adalah orang yang mengingkari makna dhohir, karena alasan tersebut juga. Maka dapat dipastikan bahwa beriman dengan makna dhohir dalam masalah ini adalah akidah yang salah, bukan akidah Ahlus Sunnah Waljama’ah, bahkan bukan Manhaj Salaf, sekalipun tentang hukum kafir orang nya terdapat perbedaan pendapat ulama, karena kemungkinan dimaafkan bagi orang awam, mengingat ini adalah masalah yang sulit, na’uzubillah.

وليس فيما وصف الله به نفسه ولا رسوله تشبيه

“Dan tidak ada penyerupaan (Tasybih) pada sifat yang disifatkan/disebutkan oleh Allah dan Rasul kepada diri-Nya”

Maksudnya : Tidak ada Tasybih pada kata-kata yang datang dalam Al-Quran dan hadits tentang sifat Allah, bukan pada makna nya, sementara pada makna nya tergantung bagaimana memaknainya, sekaligus ini alasan kenapa tidak boleh mengimani makna dhohiriyah, karena semua sifat yang Allah sebutkan dalam Al-Quran dan Rasul sebutkan dalam Hadits untuk sifat Allah, tidak ada satu pun yang ada Tasybih (penyerupaan), maka makna dhohir tersebut dapat dipastikan bukan sifat Allah, karena pada nya terdapat keserupaan.

فمن أثبت لله تعالى ما وردت به الآيات الصريحة والأخبار الصحيحة، على الوجه الذي يليق بجلال الله تعالى، ونفى عن الله تعالى النقائص، فقد سلك سبيلالهدى.

“maka barang siapa yang menetapkan bagi Allah taala akan sesuatu yang telah datang ayat yang shorih (ayat Muhkam) dan Hadits yang shohih, dengan cara yang layak dengan keagungan Allah taala, dan meniadakan segala kekurangan dari Allah taala, maka sungguh ia telah menempuh jalan yang terpetunjuk”.

Maksudnya : Kesimpulan dari uraian di atas, siapa yang menetapkan bagi Allah akan sifat-sifat yang datang dalam ayat-ayat yang shorih yakni ayat-ayat yang Muhkam, bukan malah yakin dengan makna tasybih dalam ayat Mutasyabihat, dan yang datang dalam hadits-hadits yang shohih, dengan metode yang layak dengan keagungan Allah, bukan malah dengan metode yang identik dengan makhluk, dan meniadakan pada Allah segala bentuk kekurangan dari pada sifat-sifat makhluk atau keserupaan dengan makhluk, maka ia telah menempuh jalan yang terpetunjuk yaitu bertauhid dengan tauhid yang benar.


Tafsir An-Nasafi

Imam an-Nasafi menulis :

{ استوى } استولى . عن الزجاج ، ونبه بذكر العرش وهو أعظم المخلوقات على غيره . وقيل : لما كان الاستواء على العرش وهو سرير الملك مما يردف الملك جعلوه كناية عن الملك فقال استوى فلان على العرش أي ملك وإن لم يقعد على السرير ألبتة وهذا كقولك «يد فلان مبسوطة» أي جواد وإن لم يكن له يد رأساً ، والمذهب قول علي رضي الله عنه : الاستواء غير مجهول والتكييف غير معقول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة لأنه تعالى كان ولا مكان فهو على ما كان قبل خلق المكان لم يتغير عما كان .

“Istawa artinya Istaula (menguasai) dihikayatkan dari Imam az-Zajjaj as-Salafi (241-311 H), dan memberitahu dengan penyebutan ‘Arasy atas lain nya, dan dia adalah sebesar-besar makhluk, dan dikatakan : manakala Istiwa’ atas ‘Arasy yaitu singgasana Raja adalah sebagian dari sesuatu yang berhubungan dengan milik, maka para ulama menjadikan Istiwa’ sebagai kinayah dari pada milik, maka dikatakan Istawa fulan atas ‘Arasy artinya memiliki nya, sekalipun ia tidak duduk atas singgasana sama sekali, demikian seperti perkataan “tangan si fulan luas” artinya pemurah sekalipun ia tidak punya tangan pada kenyataan nya. Dan pendapat kuat itu pernyataan Sayyidina Ali –radhiyallahu ‘anhu- : Istiwa’ tidak majhul, dan menguraikan kaifiyat nya tidak ma’qul, dan beriman dengan nya wajib, dan bertanya tentang nya Bid’ah, karena sesungguhnya Allah taala ada dan tidak ada tempat, maka Allah tetap sebagaimana sebelum menciptakan tempat, Allah tidak berubah sebagaimana ada-Nya”.

Mari kita fahami huraian Imam an-Nasafi satu persatu :

{ استوى } استولى . عن الزجاج

“Istawa artinya Istaula (menguasai) dihikayahkan dari Imam az-Zajjaj as-Salafi (241-311 H)”

Huraian: Imam an-Nasafi merujuk ke Tafsir Imam az-Zajjaj as-Salafi, dalam Tafsirnya az-Zajjaj menta’wil Istawa dengan Istaula, inilah bukti bahwa Ta’wil juga berasal dari Manhaj Salaf, karena sebagian ulama Salaf melakukan Ta’wil pada sebagian ayat Mutasyabihat, Cuma kebanyakan ulama Salaf lebih memilih Tafwidh makna dan tidak mengkafirkan ulama yang bermanhaj Ta’wil (takwil ma'na), dua manhaj Ta’wil dan Tafwidh adalah metode agar tidak terjebak dengan Tasybih dalam makna dhohir.

Salaf sebenar, mereka "tafwidh ma'na" atau "takwil ma'na".

Salafi Wahabi mereka,  (ithbat ma'na) mentafsirkannya dengan makna dhohir.

ونبه بذكر العرش وهو أعظم المخلوقات على غيره

“dan memberitahu dengan penyebutan ‘Arasy atas lain nya, dan dia adalah sebesar-besar makhluk”

Huraian: kenapa disebutkan ‘Arasy bila Istawa bermakna Istaula, padahal Allah menguasai semua makhluk-Nya, bukan hanya ‘Arasy, maka jawabnya dengan penyebutan ‘Arasy maka termasuklah semua makhluk lain, karena ‘Arasy adalah makhluk yang paling besar.

وقيل : لما كان الاستواء على العرش وهو سرير الملك مما يردف الملك جعلوه كناية عن الملك

“dan dikatakan : manakala Istiwa’ atas ‘Arasy yaitu singgasana Raja adalah sebagian dari sesuatu yang berhubungan dengan milik, maka para ulama menjadikan Istiwa’ sebagai kinayah dari pada milik”

Huraian : Sebagian ulama mentafsirkan Istawa dengan makna memiliki, karena punya hubungan antara makna Istiwa’ dan makna milik, karena tertegah memaknai nya dengan makna dhohir Istawa, maka kata Istawa adalah kinayah dari memiliki.

فقال استوى فلان على العرش أي ملك وإن لم يقعد على السرير ألبتة وهذا كقولك «يد فلان مبسوطة» أي جواد وإن لم يكن له يد رأساً

“maka dikatakan Istawa fulan atas ‘Arasy artinya memiliki nya, sekalipun ia tidak duduk atas singgasana sama sekali, demikian seperti perkataan “tangan si fulan luas” artinya pemurah sekalipun ia tidak punya tangan pada kenyataan nya”

Huraian : ketika dikatakan bahwa “si fulan bersemayam /beristiwa’ atas singgasana, maka artinya si fulan memiliki singgasana tersebut walaupun ia tidak berada /bersemayam di atas nya, demikian juga seperti dikatakan “Tangan si fulan luas” maka artinya si fulan adalah seorang yang pemurah, sekalipun ia tidak punya tangan sama sekali, karena kata tangan adalah kiasan dari pemurah, sebagaimana Istawa adalah kiasan dari memiliki.

والمذهب قول علي رضي الله عنه : الاستواء غير مجهول

“Dan pendapat kuat itu pernyataan Sayyidina Ali –radhiyallahu ‘anhu- : Istiwa’ tidak majhul”

Huraian : Pendapat kuat dalam masalah makna ayat Mutasyabihat adalah sebagaimana Manhaj kebanyakan ulama Salaf yaitu pernyataan Sayyidina Ali –Radhiyallahu ‘anhu- bahwa Istawa tidak majhul artinya telah dimaklumi kata Istawa dari Al-Quran dan dimaklumi makna dhohirnya, tapi tidak dimaklumi makna maksud darinya. Dapatlah diketahui bahwa tentang masalah makna nash Mutasyabihat adalah masalah khilafiyah, ketika makna dhohirnya tidak boleh dinisbahkan kepada Allah, maka boleh memaknainya dengan makna apa saja yang layak dengan keagungan dan kesempurnaan Allah, sehingga lahirlah bermacam ta’wil dengan makna yang layak dengan Allah, sementara kebanyakan ulama Salaf lebih memilih tidak menentukan satu makna tertentu untuk kata tersebut, karena apapun makna yang dipakai, semua makna itu tidak akan mampu mewakili kata yang telah dipilih oleh Allah untuk diri-Nya.

والتكييف غير معقول

“menguraikan kaifiyat, tidak ma’qul”

Huraian : berbicara tentang kaifiyat nya adalah tidak masuk akal (mustahil), bagaimana pun mengurai kaifiyat nya, namun yakinlah bahwa Allah tidak seperti demikian.

والإيمان به واجب

“dan beriman dengannya wajib”

Huraian : Wajib beriman dengan kata Istawa karena jelas penyebutan nya dalam Al-Quran, bukan beriman dengan makna dhohir, sementara beriman dengan makna dhohir adalah tidak boleh karena terdapat Tasybih padanya, maka mengingkari makna dhohir tidak menjadi kafir karena nya, tapi kafir bila ingkar kata Istawa, maka termasuk dalam orang yang beriman di sini adalah orang yang bermanhaj Ta’wil.

والسؤال عنه بدعة

“dan bertanya tentang nya Bid’ah”

Huraian : Bertanya tentang Istawa Bid’ah dan bahkan membicarakan dan menguraikan ini adalah Bid’ah, tapi mudah-mudahan ini Bid’ah hasanah, karena para ulama telah menguraikan nya, selama tidak membicarakan kaifiyat nya.

لأنه تعالى كان ولا مكان

“karena sesungguhnya Allah taala ada dan tidak ada tempat”

Huraian : Ini fakta penting, apa hubungannya dengan Istawa, seandainya makna dhohir Istawa yaitu bersemayam itu layak dengan keagungan dan kesempurnaan Allah, maka tidak ada hubungan Istawa dengan pernyataan Sayyidina Ali ini, tapi Sayyidina Ali mengatakan Allah telah ada dan tidak ada tempat, artinya sebelum ada ‘Arasy Allah tidak bersifat dengan bertempat/bersemayam, maka setelah menciptakan ‘Arasy juga demikian, maka makna dhohir yang dipahami bahwa Allah bertempat atau bersemayam di atas ‘Arasy setelah menciptakan ‘Arasy adalah tidak layak dengan keagungan dan kesempurnaan Allah, karena terdapat Tasybih di dalam nya, inilah hubungan antara pernyataan ini dengan Istawa.

فهو على ما كان قبل خلق المكان لم يتغير عما كان

“maka Allah tetap sebagaimana sebelum menciptakan tempat, Allah tidak berubah sebagaimana ada-Nya”.

Huraian : Dzat Allah dan sifat-sifat Allah tidak berubah atau bertambah, sebagaimana Allah ada sebelum menciptakan apa pun, begitu juga Allah setelah menciptakan makhluk-Nya dan selama nya.

Kesimpulan dari Tafsir an-Nasafi adalah :

· Sepakat ulama Salaf TIDAK memahami nash Mutasyabihat dengan makna dhohir (ithbat ma'na),

· Sepakat ulama Salaf memahami nash Mutasyabihat dengan dua metode SAHAJA, Tafwidh makna dan Ta’wil makna.

· Kebanyakan ulama Salaf memilih Tafwidh dan sebagian ulama Salaf memilih Ta’wil.

· Ta’wil Istawa dengan Istaula adalah Ta’wil dari Manhaj sebagian Salaf.

· Ulama Salaf tidak anti Ta’wil.

· Manhaj Salaf bukan mentafwidh kaifiyat, tapi mentafwidh makna maksud kepada Allah.


Istawa Dalam Tafsir Imam al-Qurthubi

Mulia dengan Manhaj Salaf adalah selogan yang agung dan benar adanya, namun ketika fakta nya mereka yang mereka yang selalu mengagung-agungkan manhaj Salaf, pada kenyataan nya mereka sendiri sangat bertentangan dan jauh menyimpang dari Manhaj Salaf, mereka hanya membanggakan diri, tapi tidak ada yang bisa dibanggakan dari mereka, tidak mungkin ada kemuliaan pada dua sisi yang saling bertentangan, itulah gambaran bagi para pengikut Manhaj Wahabi, Manhaj Salaf versi mereka adalah Manhaj mereka sendiri, tidak ada hubungan dengan Manhaj Salaf nya para ulama Salaf, ini salah satu buktinya :

Imam al-Qurthubi menuliskan dalam Tafsir nya sebagai berikut :

وهذه الآية من المشكلات، والناس فيها وفيما شاكلها على ثلاثة أوجه، قال بعضهم : نقرؤها ونؤمن بها ولا نفسرها؛ وذهب إليه كثير من الأئمة، وهذا كما روي عن مالك رحمه الله أن رجلاً سأله عن قوله تعالى ٱلرَّحْمَـٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَى,قال مالك : الاستواء غير مجهول، والكيف غير معقول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة، وأراك رجل سَوْء! أخرجوه. وقال بعضهم : نقرؤها ونفسّرها على ما يحتمله ظاهر اللغة. وهذا قول المشبّهة. وقال بعضهم : نقرؤها ونتأوّلها ونُحيل حَمْلها على ظاهرها

“Dan ayat ini sebagian dari ayat-ayat yang sulit, Dan manusia pada ayat ini dan pada ayat-ayat sulit lainnya, ada tiga (3) pendapat : Sebagian mereka berkata : “kami baca dan kami imani dan tidak kami tafsirkan ayat tersebut, pendapat ini adalah pendapat mayoritas para Imam, dan pendapat ini sebagaimana diriwayatkan dari Imam Malik –rahimahullah- bahwa seseorang bertanya kepada nya tentang firman Allah taala (Ar-Rahman ‘ala al-‘Arsyi Istawa), Imam Malik menjawab : Istiwa’ tidak majhul, dan kaifiyat tidak terpikir oleh akal (mustahil), dan beriman dengan nya wajib, dan bertanya tentang nya Bid’ah, dan saya lihat anda adalah orang yang tidak baik, tolong keluarkan dia”. Dan sebagian mereka berkata : “kami bacakan dan kami tafsirkan menurut dhohir makna bahasa (lughat)”, pendapat ini adalah pendapat Musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk). Dan sebagian mereka berkata : “kami bacakan dan kami Ta’wil dan kami berpaling dari memaknainya dengan makna dhohir”.[Tafsir al-Qurthubi. Surat al-Baqarah ayat 29]

Imam al-Qurthubi sangat shorih dalam menafsirkan ayat tersebut, dan beliau juga sangat telilti dalam menjelaskan metode dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat, dan kita tahu bagaimana aqidah Imam al-Qurthubi, mari kita pahami syarahan dari Imam al-Qurthubi di atas.

وهذه الآية من المشكلات

“Dan ayat ini sebagian dari ayat-ayat yang sulit”

Huraian : Ayat tersebut termasuk dalam bagian ayat-ayat yang sulit, yaitu yang sering disebut dengan ayat-ayat Mutasyabihat, memahami ayat ini tidak semudah memahami ayat lain, menandakan ada “sesuatu” pada ayat tersebut, karena memahami ayat ini dengan metode yang sama dengan ayat lain, akan membuat seseorang terjebak dalam aqidah Tasybih, maka nya Imam al-Qurthubi mengatakan bahwa ayat tersebut termasuk dalam ayat yang sulit, dan tertolaklah anggapan sebagian orang yang menyangka semua ayat mudah dan ditafsirkan dengan cara yang sama.

والناس فيها وفيما شاكلها على ثلاثة أوجه

“Dan manusia pada ayat ini dan pada ayat-ayat sulit lainnya, ada tiga pendapat”

Huraian : Setelah melakukan penelitian, Imam al-Qurthubi mendapati ada tiga macam pendapat atau metode dalam memahami ayat-ayat Mutasyabihat.

قال بعضهم : نقرؤها ونؤمن بها ولا نفسرها

“Sebagian mereka berkata : kami baca dan kami imani dan tidak kami tafsirkan ayat tersebut”

Huraian : Pendapat pertama adalah mereka membaca dan beriman dengan kata yang datang dari Al-Quran dengan tidak mentafsirkannya, mereka memperlakukan kata tersebut sebagaimana datangnya tanpa mentafsirkan nya dengan kata lain yang sama artinya, metode mereka adalah tidak mentafsirkan baik dengan makna dhohir atau makna ta’wil, baik dalam membaca atau mengungkapkannya atau pun dalam mengimani nya, mereka bukan mengimani maknanya karena mereka tidak mentafsirkan nya, inilah yang disebut Tafwidh atau Ta’wil Ijmali. Maka disini jelas kesalahan orang yang mengatakan bahwa Tafwidh adalah Tafwidh kaifiyat bukan Tafwidh makna. 

وذهب إليه كثير من الأئمة

“pendapat ini adalah pendapat majoriti para Imam”

وهذا كما روي عن مالك رحمه الله أن رجلاً سأله عن قوله تعالى ٱلرَّحْمَـٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَى

”dan pendapat ini sebagaimana diriwayatkan dari Imam Malik –rahimahullah- bahwa seseorang bertanya kepada nya tentang firman Allah taala (Ar-Rahman ‘ala al-‘Arsyi Istawa)”

Huraian : Imam al-Qurthubi memahami metode ini dari sebuah riwayat bahwa Imam Malik ditanyakan oleh seseorang tentang ayat (Ar-Rahman ‘ala al-‘Arsyi Istawa),

قال مالك : الاستواء غير مجهول، والكيف غير معقول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة، وأراك رجل سَوْء! أخرجوه

“Imam Malik menjawab : Istiwa’ tidak majhul, dan kaifiyat tidak terfikir oleh akal (mustahil), dan beriman dengannya wajib, dan bertanya tentang nya bid’ah, dan saya lihat anda adalah orang yang tidak baik, tolong keluarkan dia”

Huraian : Imam Malik menjawab bahwa lafadz Istiwa’ tidak majhul, ada dua versi dalam memahami perkataan ini, pertama : Tidak majhul artinya lafadh Istawa ma’lum karena telah datang dalam Al-Quran, kedua : Tidak majhul artinya makna lughat Istawa ma’lum dari bahasa Arab, namun kedua versi tersebut tidak saling bertentangan karena sepakat bahwa Imam Malik tidak mentafsirkannya kepada makna lughat atau makna dhohir, sebagaimana Imam al-Qurthubi dan Imam Ahlus Sunnah lainnya, memahami dari pernyataan Imam Malik ini bahwa Imam Malik memberlakukan lafadh tersebut sebagaimana datangnya tanpa mentafsirkan nya dengan satu makna maksud, jadi jelaslah bahwa maksud “tidak majhul” adalah bukan maklum makna maksud (makna murad). Selanjutnya Imam Malik berkata : dan kaifiyatnya tidak ma’qul, artinya kaifiyatnya mustahil pada Allah, bukan hanya sebatas tidak diketahui oleh manusia, artinya Allah taala tidak bersifat dengan kaifiyat.

Salafi Wahabi meyakini Allah bersifat dengan kaifiyat tapi mereka mentafwidh kaifiyatnya.

Aqidah ahlus sunnah wal jama’ah. meniadakan kaifiyat.


Selanjutnya Imam Malik berkata : dan beriman dengannya wajib, artinya beriman dengan kata Istawa wajib hukumnya, dan kafirlah siapa pun yang mengingkari Istawa, tapi bukan beriman dengan “Bersemayam” atau dengan makna lughat Istawa lain nya, karena tidak pernah mentafsirkan kata Istawa, jadi di sini pun maksudnya adalah beriman dengan kata Istawa bukan dengan makna lughat Istawa. Selanjutnya Imam Malik berkata : dan bertanya tentang nya adalah Bid’ah, menunjukkan ini adalah pembahasan baru yang tidak ada di masa Rasulullah, lalu Imam Malik meminta agar orang tersebut dikeluarkan karena beliau melihat ia tidak bermaksud baik.

وقال بعضهم : نقرؤها ونفسّرها على ما يحتمله ظاهر اللغة

“Dan sebagian mereka berkata : kami bacakan dan kami tafsirkan menurut dhohir makna bahasa (lughat)”

Huraian : Pendapat kedua adalah sebagian orang dalam bab Mutasyabihat memilih metode membaca lalu mentafsirkan atau menterjemahkan ke dalam arti bahasa, 

وهذا قول المشبّهة

“pendapat ini adalah pendapat Musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk)”

Huraian : Metode menterjemahkan ayat-ayat Mutasyabihat ke dalam arti lughat adalah metode kaum Musyabbihah dulu, artinya dengan berpegang dengan metode ini maka dengan sendiri nya sudah termasuk dalam Musyabbihah (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), karena dalam metode tersebut tersimpan Tasybih. Dan dari pernyataan ini dapatlah diketahui bahwa Imam al-Qurthubi tidak setuju dengan metode ini kerana "menyerupakan Allah dengan makhluk".

وقال بعضهم : نقرؤها ونتأوّلها ونُحيل حَمْلها على ظاهرها

“Dan sebagian mereka berkata : kami bacakan dan kami Ta’wil dan kami berpaling dari memaknainya dengan makna dhohir”

Huraian : Pendapat ketiga adalah sebagian orang yang memilih metode membaca lalu menta’wil atau mentafsirkan nya dengan makna yang layak dengan kesempurnaan Allah, bukan dengan makna lughat, dan dari pernyataan ini dapat diketahui bahwa Imam al-Qurthubi tidak mencela metode ini, dan menghargainya selayak nya sebuah khilafiyah, dan Imam al-Qurthubi juga mengatakan bahwa metode ini tidak bertentangan dengan Manhaj Salaf, karena sebagian Salaf juga melakukan Ta’wil pada sebagian ayat Mutasyabihat, cuma majoriti ulama lebih memilih metode pertama di atas (Tafwidh).

Wallahu a’lam.

Disunting dari laman: http://www.ngaji.web.id/2015/05/tawil-dan-tafwidh-istiwa-dalam-ayat-ar.html




Link pilihan:

MEMAHAMI FAHAMAN TAJSIM

Akidah Salafi Wahabi - Isbat Makna Tafwid Kaifiat

Di mana salahnya aqidah fahaman Wahabi Salafi


*

Di Mana Salahnya Aqidah Fahaman Wahhabi Salafi ?

*

Ada baiknya saya jelaskan kebenaran aqidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah berkenaan isu "Ainallah" (di mana Allah?).

Soalan seperti ini adalah soalan yang salah kerana "aina" (dimana) menunjukkan tempat. Sedangkan "tempat" adalah makhluk ciptaan Allah.

Bagaimana mungkin Allah mengambil ruang atau tempat, atau diliputi tempat dan arah sedangkan semua itu (tempat, arah, ruang) adalah makhluk yang baru dicipta. Jadi jika Allah itu bertempat, sebelum Allah ciptakan tempat, di mana Allah?

Maka soalan "dimana" bagi Allah itu adalah soalan yang salah dan mustahil sepertimana yang dikatakan oleh Imam Abu Hanifah rah. (Pengasas mazhab Hanafi, seorang Tabien): "Allah itu wujud tanpa tempat sebelum Dia menciptakan makhluk. Maka Allah wujud tanpa di mana, tanpa makhluk dan tanpa sesuatu apa pun (bersamaNya). Dialah yang cipta segalanya (termasuk tempat)." (Al-Fiqh Absath : 25)

Tapi, di zaman Arab Jahiliah, ada juga orang musyrikin yang suka lontarkan soalan-soalan macam tu. Mereka mahu lihat Allah seperti mereka melihat berhala mereka. Jawapan yang Allah beri adalah jawapan yang methaphore yang bukannya jawapan literal/direct/zahir kepada soalan "aina" kerana ianya tidak teraplikasi pada zat Allah. Jawapan Allah: “ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat “.( Al Baqarah [2]:186 ).

Daripada jawapan ini dapat kita fahami bahawa Allah itu tidak diliputi tempat dan arah secara fizikal. Jika Allah itu bertempat, tentulah Allah sudah nyatakan tempatnya dimana.

Jika ada yang tak puas hati dengan jawapan Allah dan tetap nak tahu di mana koordinat Allah (mungkin terlampau banyak ngaji ilmu geografi), maka jawablah padanya: "Allah wujud tanpa tempat."

Inilah jawapan yang diberi oleh para ulama ahlu sunnah wal jamaah samada Salaf (terdahulu) atau Khalaf (terkemudian) berdasarkan dalil dari hadis sahih Nabi bersabda mafhumnya:
"Sesungguhnya Allah telah pun wujud dan tiada yang wujud bersamanya." (Sahih Bukhari)

Jadi jelas dan terang bahawa kewujudan Allah itu "Ahad" (tunggal), tiada diliputi tempat, ruang, arah mahupun bersentuhan dengan Arasy.

Di kalangan Salaf, mereka juga berakidah sedemikian: Sayyidina Ali r.a berkata: "Sesungguhnya Allah itu tidak bertempat, Dia sekarang dalam keadaan seperti mana Dia sebelum ini (jika sebelum ciptakan tempat Dia tidak bertempat, maka selepas Allah ciptakan tempat pun Dia tidak bertempat)." (Al-Farq bainal Firaq: 333)

Imam kebanggaan kita, Imam Syafie r.a menyatakan: "Allah wujud tanpa tempat. Dia yang ciptakan tempat, sedangkan Dia tetap dengan sifat-sifat keabadianNya, sepertimana sebelum Dia ciptakan makhluk. Tidak layak Allah berubah sifat atau zatNya." (Ittihaf Sadatil Muttaqin : 2/24)

Imam ibn Hibban r.a juga menyatakan: "Sesungguhnya Allah tidak tertakluk pada tempat dan masa." (Al-Ihsan Fi tartib Ibn Hibban : 4/8)

Dan banyak lagi kalam para ulama ahlu sunnah wal jamaah samada yang Salaf atau Khalaf. Kalau semua saya tulis kat sini, akan jadi panjang sangat.

Dan percayalah, walau pun dah bagi sejuta dalil sekalipun, puak-puak Khawarij moden tetap akan lontarkan soalan: "Dalil mana dalil?? Dalil? Dalil?"

Dan saya yakin lagi percaya akan ada yang bagi ayat dalam Quran yang menyatakan:
"Kemudian (Allah) ber-istawa atas Arasy." Lalu mereka akan kata: "Ini ayat Quran, Allah sendiri kata Allah sedang duduk di atas Arasy. Nak lawan ke? Nak percaya Allah ke nak percaya imam-imam? 

Lagipun semua imam dah kata kalau ada pendapat mereka yang bercanggahan dengan Quran Hadis, kita mesti campak ke dinding pendapat tu semua dan utamakan Quran Hadis!"

Ayat ini berjaya menipu jutaan Muslim. Mereka cuba menuduh para imam dan ulama tidak tahu Quran Hadis seperti mereka. Mereka cuba menuduh para imam dan ulama suka-suka keluarkan pendapat tanpa rujuk Quran Hadis.

Adalah satu kecacatan otak yang fatal apabila memikirkan insan sehebat Imam Syafie, Imam Hanafi dan lainnya tidak JUMPA ayat Quran tentang istawa nya Allah di atas Arasy.

Bahkan masing-masing sudah pun memberikan komentar dan penjelasan tentang itu.

Kebanyakannya para ulama Salaf, mereka beriman penuh kepada ayat tersebut, mereka beriman Allah itu ber-istawa di atas Arasy TANPA MENYATAKAN MAKNA ISTAWA SECARA TETAP, mereka menyerahkan makna sebenar "istawa" kepada Allah. Mereka mengekalkan lafaz Istawa secara jelas. Kaedah ini dinamakan TAFWIDH (menyerahkan maknanya pada Allah).

Di tempat yang lain mereka mengecam dan mengkafirkan sesiapa yang menetapkan makna "istawa" sebagai "jalasa" (duduk) sepertimana kata Imam Syafi'e: "Sesiapa yang berkeyakinan bahawa Allah itu DUDUK di atas ArasyNya, maka ia kufur." (Riwayat Ibn Mualim Al-Qurasyi dalam kitabnya Najmil Muhtadi wa Rajmil Mu'tadi: 551)

Kemudian selepas Islam tersebar luas dan menghadapi puak-puak sesat seperti muktazilah, ahli falsafah Yunani, mujassimah, Syiah dan lain-lain yang banyak mengeluarkan zhon (sangkaan) kepada Allah. Target mereka ialah orang awam yang jahil.

Maka ketika itu para ulama menjawab balas persoalan dan keraguan mereka secara detail dan jelas. Jawapan "Wallahualam" seperti yang dilakukan para ulama Salaf tidak lagi dapat selamatkan akidah orang awam apabila ditanya tentang "istawa".

Maka para ulama zaman itu bersepakat untuk mengharuskan (bukan mewajibkan) takwil makna ayat mutasyabihat kepada makna yang sesuai dengan keagungan Allah.

Contohnya dalam Quran ada ayat " Yadd Allah di atas tangan mereka."
Ulama Salaf, bila ditanya tentang apa makna Yadd, mereka serahkan kepada Allah.

Ulama Khalaf (yang datang kemudian) apabila ditanya apa makna Yadd, mereka akan jawab "bantuan" Allah. (Yakni mereka takwilkan makna yadd kepada bantuan kerana sesuai dengan keagungan Allah.)

Maka jawapan seperti itu berjaya menghapuskan keraguan dalam hati orang awam yang ditimbulkan musuh Islam.


JADI DIMANA SALAHNYA AQIDAH FAHAMAN WAHHABI ?

BUKANKAH PENDIRIAN MEREKA SAMA SEPERTI ULAMA SALAF YANG BERIMAN KEPADA ZAHIR AYAT LALU MENYERAHKAN MAKNA SEBENAR PADA ALLAH ?

BUKANKAH KEDUA-DUA KAEDAH IAITU SALAF (TAFWIDH) DAN KHALAF (TAKWIL) ITU BENAR ?

MENGAPA MASIH TIDAK MAHU MENGIKTIRAF AKIDAH WAHHABI ?

Ya, persoalan ini sangàt halus dan hanya dapat difahami oleh para ulama yang sangat dalam ilmunya berkenaan akidah. 

Wahhabi akan dianggap benar oleh orang awam kerana mereka jahil. Oleh sebab itu pengikut Wahhabi kebanyakannya adalah golongan muda yang malas mengaji, sebaliknya hanya belajar dari Google dan YouTube. Jadi mereka mudah dimanipulasikan.

Sebenarnya, perbezaan akidah Wahhabi dengan akidah ahli sunnah wal jamaah dalam hal ini ialah KAEDAH yang digunakan.

Ulama ahli sunnah hanya mempunyai 2 kaedah sahaja dalam memahami ayat mutasyabihat iaitu TAFWIDH dan TAKWIL.

Ada pun yang Salafi Wahhabi guna ialah kaedah (ITHBAT ma'na), iaitu mereka menetapkan makna ayat mutasyabihat secara pasti mengikut makna dhohir . Yang mereka serahkan pada Allah ialah "kaifiyyat" nya (tafwidh kaifiyyat).

Contohnya, bila ditanya apa makna "istawa", Wahhabi akan jawab maknanya "duduk" secara pasti. Bahkan ada Wahhabi yang ekstrim, mengkafirkan mana-mana Muslim yang tidak menyatakan Allah itu "duduk" seperti yang mereka fahami. Lalu mereka akan serahkan (tafwidh) kaifiyyat nya pada Allah, iaitu mereka akan berkata: "Macam mana (kaifiyyat) Allah duduk, itu kita serah pada Allah." Kaedah ini dinamakan ITHBAT kerana mensabitkan makna secara pasti. 

Dan KAEDAH ini TIDAK dicontohi oleh mana-mana ulama Islam selama 1400 tahun kecuali kumpulan Mujassimah (satu ajaran sesat pada zaman dahulu yang suka menyamakan Allah dengan makhluk) dan diteruskan kaedah ini oleh ulama Wahhabi seperti Muhammad Abd Wahhab, Albani, Bin Baz, Soleh Fauzan, Uthaimin dan lain-lain.

Sedangkan para ulama ahlu sunnah telah bersepakat bahawa tidak boleh menetapkan makna zahiriah yang tidak layak bagi Allah pada ayat mutasyabihat.

Imam al-Qurthubi menuliskan dalam Tafsir nya sebagai berikut :

وقال بعضهم : نقرؤها ونفسّرها على ما يحتمله ظاهر اللغة. وهذا قول المشبّهة.

“Dan sebagian mereka berkata : kami bacakan dan kami tafsirkan menurut dhohir makna bahasa (lughat) dan ini adalah pendapat Musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk)”.


Jadi perbezaan ahli sunnah dan Wahhabi: Apabila ditanya apa makna "istawa"-

Ahli sunnah Salaf (tafwidh ma'na): " Kami tidak tahu, kami beriman kepada semua ayat Allah dan makna sebenarnya kami serah pada Allah."


Ahli sunnah Khalaf (takwil ma'na): "Kami juga tidak tahu maknanya secara pasti, tapi untuk orang awam tidak rosak pemikirannya terhadap Allah, maka kita haruskan ia ditakwil dengan makna "menguasai". "


Wahhabi (ithbat ma'na): "Maknanya duduk, kita wajib beriman Allah itu duduk. Sesiapa yang tidak beriman Allah itu duduk sedangkan Allah telah berkata demikian dalam Quran, bermakna dia telah kafir kepada Quran. Jadi kita wajib beriman Allah itu duduk, tapi bagaimana Allah duduk, itu bukan urusan kita, kita serahkan pada Allah. Yang penting, Allah tidak duduk seperti kita kerana Allah itu tidak sama dengan makhluk."


Jadi fahaman Wahhabi mengelirukan kerana telah menjisimkan Allah dan samakan Allah dengan makhluk tetapi menafikan menjisimkan Allah dan samakan Allah dengan makhluk.

Jadi akhirnya, mereka berada dalam kecelaruan yang dahsyat sebab tiada pendirian kukuh berkenaan hal ini samada ithbat ma'na, tafwidh kaifiyyat dan nafi tasybih.


Yang jelas, akidah dan kaedah mereka TERKELUAR dari manhaj ahli sunnah wal jamaah. 


Sumber: https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=267510196920899&id=100009857621810

*


Kita hanya boleh menyampaikan kebenaran.. Sesungguhnya hidayah milik Allah jua..

Wallahu a'lam.



Link pilihan:

Manhaj SALAF Yang Sebenar



*

Popular Posts