"Tiap-tiap diri akan merasai mati. Sesungguhnya akan disempurnakan pahala kamu pada hari kiamat. Sesiapa yang TERSELAMAT DARI NERAKA dan dimasukkan ke dalam syurga, sesungguhnya BERJAYA lah dia, dan ingatlah bahawa kehidupan di dunia ini hanyalah kesenangan yang memperdaya." (Ali Imran : 185)

Hukum memakai jilbab / purdah / cadar / niqab menurut Mazhab Syafi’e

*


Cadar adalah kain penutup muka atau wajah perempuan.[1] Dalam bahasa Arab disebut juga dengan niqab. Dalam Kamus Arab-Indonesia karangan Mahmud Yunus disebutkan bahwa niqab adalah penutup muka perempuan.[2] Lois Ma’luf, dalam Kamus al-Munjid menjelaskan bahwa niqab itu adalah kain penutup kepala yang diletakkan oleh para perempuan pada ujung hidungnya dan menutup wajahnya dengannya.[3] Sudah menjadi tradisi bagi perempuan Arab dari zaman dahulu menutup wajah mereka dengan cadar dan ini terus berlanjut sampai orang Arab memeluk Islam sebagai agama mereka. Setelah Islam menjadi agama bagi orang Arab, diantara mereka ada yang menganggap cadar sebagai kewajiban bagi setiap perempuan muslimah, tetapi ada juga yang menganggap sebagai sunnah saja, bukan kewajiban, bahkan ada yang menganggap cadar tidak ada hubungannya dengan agama, tetapi hanya tradisi Arab tempo dulu.
Dalam tulisan ini, kami mencoba menjelaskan hukum menggunakan cadar menurut mazhab Syafi’i. Membatasi kajian ini menurut mazhab Syafi’i saja karena mengingat mayoritas masyarakat muslim Indonesia dan sekitarnya adalah bermazhab Syafi’i. Untuk lebih jelasnya, mari kita perhatikan pendapat para ulama Mazhab Syafi’i tentang batasan aurat perempuan, sebagai berikut :
1. Imam Syafi’i menyatakan dalam al-Um ketika menjelaskan syarat-syarat shalat sebagai berikut :
وكل المرأة عورة إلا كفيها ووجهها
“Dan setiap tubuh perempuan adalah aurat kecuali telapak tangan dan wajahnya.”[4]

2. Ibnu al-Munzir mengatakan dalam kitabnya, al-Awsath sebagai berikut :
واختلفوا فيما عليها ان تغطي في الصلاة فقالت طائفة : على المرأة ان تغطي ما سوى وكفيها وجهها. هذا قول الاوزاعي والشافعي وابي ثور
“Para ulama berbeda pendapat dalam hal kewajiban perempuan menutup aurat dalam shalat. Sekelompok ulama mengatakan wajib atas perempuan menutup seluruh badannya kecuali kedua telapak tangan dan wajahnya. Ini merupakan pendapat al-Auza’i, Syafi’i dan Abu Tsur”[5]

Selanjutnya Ibnu al-Munzir menyebutkan pendapat ahli tafsir dalam menafsirkan Q.S. al-Nur : 31 sebagai dalil pendapat di atas. Q.S, al-Nur : 31 tersebut berbunyi :
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
Artinya : Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. (Q.S. al-Nur : 31)

Ibnu al-Munzir mengatakan bahwa Ibnu Abbas, ‘Atha’, Makhul dan Said Bin Jubair berpendapat bahwa maksud dari yang biasa yang nampak itu adalah kedua telapak tangan dan wajahnya.[6]
3. Abu Ishaq al-Syairazi mengatakan :
أما الحرة فجميع بدنها عورة إلا الوجه والكفين لقوله تعالى ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها قال ابن عباس: وجهها وكفيها ولأن النبي صلى الله عليه وسلم نهى المرأة في الحرام عن لبس القفازين والنقاب ولو كان الوجه والكف عورة لما حرم سترهما ولأن الحاجة تدعو إلى إبراز الوجه في البيع والشراء وإلى إبراز الكف للأخذ والإعطاء فلم يجعل ذلك عورة
Artinya: Adapun wanita merdeka, maka seluruh tubuhnya merupakan aurat, kecuali wajah dan dua telapak tangan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak dari padanya”. Ibnu ‘Abbas berkata (mengomentari ayat ini), ‘yang dimaksud adalah wajah dan dua telapak tangannya’. Dasar lainnya adalah karena Nabi SAW melarang wanita ketika ihram memakai sarung tangan dan cadar. Seandainya wajah dan telapak tangan merupakan aurat, Rasulullah tidak akan mengharamkan menutupnya. Alasan lainnya adalah karena adanya keperluan yang menuntut seorang wanita untuk menampakkan wajah dalam jual beli, dan menampakkan telapak tangan ketika memberi dan menerima sesuatu. Maka, tidak dijadikan wajah dan telapak tangan sebagai aurat.[7]
4. Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ mengatakan :
ان المشهور من مذهبنا أن عورة الرجل ما بين سرته وركبته وكذلك الامة وعورة الحرة جميع بدنها الا الوجه والكفين وبهذا كله قال مالك وطائفة وهي رواية عن احمد
“Pendapat yang masyhur dalam mazhab kami (syafi’iyah) bahwa aurat pria adalah antara pusar hingga lutut, begitu pula budak perempuan. Sedangkan aurat perempuan merdeka adalah seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangan. Demikian pula pendapat yang dianut oleh Malik dan sekelompok ulama serta menjadi salah satu pendapat Imam Ahmad.”[8]
5. Dalam Tuhfah al-Muhtaj, disebutkan :
(وَ) عَوْرَةُ (الْحُرَّةِ) وَلَوْ غَيْرَ مُمَيِّزَةٍ وَالْخُنْثَى الْحُرِّ (مَا سِوَى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ) ظَهْرُهُمَا وَبَطْنُهُمَا إلَى الْكُوعَيْنِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا أَيْ إلَّا الْوَجْهَ وَالْكَفَّيْنِ وَلِلْحَاجَةِ لِكَشْفِهِمَا وَإِنَّمَا حَرُمَ نَظَرُهُمَا كَالزَّائِدِ عَلَى عَوْرَةِ الْأَمَةِ لِأَنَّ ذَلِكَ مَظِنَّةٌ لِلْفِتْنَةِ
Artinya : Aurat wanita merdeka, meskipun dia itu belum mumayyiz dan aurat khuntsa merdeka adalah selain wajah dan dua telapak tangan, zhahirnya dan bathinnya sehingga dua persendiannya, berdasarkan firman Allah : “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak dari padanya”, yaitu kecuali wajah dan dua telapak tangan. Alasan lain adalah karena ada keperluan membukanya. Hanya haram menilik wajah dan kedua telapak tangan seperti halnya yang lebih dari aurat hamba sahaya wanita, karena yang demikian itu berpotensi menimbulkan fitnah.[9]

6. Al-Ziyadi mengatakan :

أَنَّ لَهَا ثَلَاثَ عَوْرَاتٍ عَوْرَةٌ فِي الصَّلَاةِ وَهُوَ مَا تَقَدَّمَ وَعَوْرَةٌ بِالنِّسْبَةِ لِنَظَرِ الْأَجَانِبِ إلَيْهَا جَمِيعُ بَدَنِهَا حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ وَعَوْرَةٌ فِي الْخَلْوَةِ وَعِنْدَ الْمَحَارِمِ كَعَوْرَةِ الرَّجُلِ
Artinya : Wanita memiliki tiga jenis aurat: (1) aurat dalam shalat -sebagaimana telah dijelaskan (2) aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad, (3) aurat ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki.[10]

7. Syaikh Taqiyuddin al-Hushni, penulis Kifaayatul Akhyaar, berkata:
ويُكره أن يصلي في ثوب فيه صورة وتمثيل ، والمرأة متنقّبة إلا أن تكون في مسجد وهناك أجانب لا يحترزون عن النظر ، فإن خيف من النظر إليها ما يجر إلى الفساد حرم عليها رفع النقاب
Artinya : Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh pula wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat, kecuali jika di masjid yang kondisinya sulit terjaga dari pandangan lelaki ajnabi. Jika wanita khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya melepaskan niqab.[11]

8. Dalam I’anah al-Thalibin disebutkan :
قال في فتح الجواد: ولا ينافيه، أي ما حكاه الإمام من اتفاق المسلمين على المنع، ما نقله القاضي عياض عن العلماء أنه لا يجب على المرأة ستر وجهها في طريقها، وإنما ذلك سنة، وعلى الرجال غض البصر لأن منعهن من ذلك ليس لوجوب الستر عليهن، بل لأن فيه مصلحة عامة بسد باب الفتنة. نعم، الوجه وجوبه عليها إذا علمت نظر أجنبي إليها أخذا من قولهم يلزمها ستر وجهها عن الذمية، ولأن في بقاء كشفه إعانة على الحرام.اه.
Artinya : Pengarang Fath al-Jawad mengatakan, “Apa yang diceritakan oleh al-Imam bahwa sepakat kaum muslimin atas terlarang (terlarang wanita keluar dengan terbuka wajah) tidak berlawanan dengan yang dikutip oleh Qadhi ‘Iyadh dari ulama bahwa tidak wajib atas wanita menutup wajahnya pada jalan, yang demikian itu hanya sunnah dan hanyasanya atas laki-laki wajib memicing pandangannya, karena terlarang wanita yang demikian itu bukan karena wajib menutup wajah atas mereka, tetapi karena di situ ada maslahah yang umum dengan menutup pintu fitnah. Namun menurut pendapat yang kuat wajib menutupnya atas wanita apabila diketahuinya ada pandangan laki-laki ajnabi kepadanya, karena memahami dari perkataan ulama “wanita wajib menutup wajahnya dari kafir zimmi” dan juga karena membiarkan terbuka wajah membantu atas sesuatu yang haram.[12]

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, dapat dipahami dalam mazhab Syafi’i sebagai berikut :
1. Aurat wanita merdeka dalam shalat dalam artian wajib ditutupinya adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan
2. Aurat wanita merdeka di luar shalat dalam artian haram memandangnya oleh laki-laki ajnabi (bukan mahramnya) adalah seluruh tubuh tanpa kecuali, yaitu termasuk wajah dan telapak tangan.
3. Aurat wanita merdeka di luar shalat dalam artian wajib menutupinya sama dengan aurat dalam shalat, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan
4. wajib menutup wajah dan telapak tangan di dalam dan diluar shalat atas wanita apabila diketahuinya ada pandangan laki-laki bukan muhrim kepadanya,
Adapun argumentasi aurat wanita merdeka dalam shalat dan diluar shalat dalam artian wajib ditutupinya adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan adalah firman Allah berbunyi :
ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها
Artinya : Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya (Q.S. al-Nur : 31)

Yang dimaksud dengan “illa maa zhahara minha” adalah wajah dan telapak tangan, sebagaimana keterangan Ibnu Abbas, ‘Atha’, Makhul dan Said Bin Jubair yang dikutip oleh Ishaq al-Syairazi dan Ibnu al-Munzir di atas.
Penjelasan Imam Syafi’i dan ulama lainnya di atas tidak boleh dipahami bahwa itu hanyalah masalah aurat perempuan dalam shalat saja, meskipun para ulama tersebut menjelaskannya dalam bab shalat, bahkan batasan aurat perempuan seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan juga berlaku di luar shalat. Hal ini karena dalil yang mereka gunakan untuk batas aurat perempuan seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan adalah berdasarkan Q.S. al-Nur : 31 di atas sebagaimana terlihat dalam penjelasan Ibnu al-Munzir, al-Syairazi dan Ibnu Hajar Haitamy di atas. Sementara sebagaimana dimaklumi Q.S. al-Nur : 31 tersebut berlaku untuk perempuan muslimah, baik dalam shalat maupun di luar shalat.
Ibnu Katsir menyebutkan sebab nuzul ayat ini adalah seorang muslimah bernama Asmaa binti Mursyidah pernah berada di antara kaum Bani Haritsah. Perempuan-perempuan dari Bani Haritsah menemuinya dalam keadaan tanpa busana yang semestinya, yang nampak gelang kaki di kaki mereka, dada dan jambul mereka. Asmaa pun berucap : “Alangkah sangat keji ini”. Maka turun ayat Q.S. al-Nur : 31 ini.[13] Penjelasan Ibnu Katsir ini juga telah dikemukakan oleh al-Suyuthi dalam kitab Luqab al-Nuqul fii Asbab al-Nuzul [14] Berdasarkan asbab al-nuzul-nya ini, maka dapat dipahami bahwa ayat Q.S. al-Nur : 31 ini tidak mungkin hanya dipahami sebagai penjelasan aurat perempuan dalam shalat saja, karena sebab nuzulnya tidak mungkin boleh keluar dari maksud ayat sebagaimana dimaklumi dalam ushul fiqh.
Alhasil pada dasarnya, aurat perempuan di luar shalat menurut mazhab Syaf’i adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan. Adapun nash sebagian ulama Syafi’iyah yang menyebutkan aurat perempuan di luar shalat adalah seluruh tubuh tanpa kecuali, hal itu adalah karena i’tibar faktor luar, seperti fitnah, dapat mengundang pandangan yang diharamkan atau lainnya sebagaimana sudah disebutkan dalam butir-butir kesimpulan di atas. Karena itu, kadang-kadang perempuan dalam kondisi tertentu wajib menutup seluruh tubuhnya tanpa kecuali, namun hukum dasarnya aurat perempuan tidak termasuk wajah dan telapak tangan.
Argumentasi wajib atas laki-laki menahan matanya dari sengaja memandang sebagian tubuh wanita termasuk wajahnya, berdasarkan firman Allah berbunyi :
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
Artinya : Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat (Q.S. al-Nur : 30)

Berdasarkan uraian dan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa memakai penutup wajah (cadar) dalam pandangan mazhab Syafi’i adalah tidak wajib. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa memakai cadar merupakan ekspresi akhlaq yang mulia dan menjadi sunnah, karena setidaknya hal itu dapat mencegah hal-hal yang menjadi potensi kemungkaran dan maksiat. Bahkan menjadi wajib kalau diduga kuat (dhan) seandainya membuka wajah akan mendatangkan pandangan haram laki-laki kepadanya.



[1] http://id.wiktionary.org/wiki/cadar
[2] Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, Haida Karya Agung, Jakarta, Hal. 464
[3] Lois Ma’luf, al-Munjid, Hal. 829
[4] Syafi’i, al-Um, (Tahqiq dan Takhrij oleh Dr Rifa’at Fauzi Abd al-Mutahallib), Juz. II, Hal. 201
[5] Ibnu al-Munzir, al-Awsath, Dar al-Falah, Riyadh, Juz. V, Hal. 53
[6] Ibnu al-Munzir, al-Awsath, Dar al-Falah, Riyadh, Juz. V, Hal. 53
[7] Abu Ishaq al-Syairazi, al-Muhazzab, dicetak bersama Majmu’ Syarh al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. III, Hal. 173
[8] Al-Nawawi, Majmu’ Syarh al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. III, Hal. 174
[9] Ibnu Hajar al-Haitamy, Tuhfah al-Muhtaj, dicetak pada hamisy Hawasyi Syarwani, Mathba’ah Mushthafa Muhammad, Mesir, Juz. II, Hal. 111-112
[10] Syarwani, Hawasyi Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, Mathba’ah Mushthafa Muhammad, Mesir, Juz. II, Hal. 112
[11] Syaikh Taqiyuddin al-Hushni, Kifayatuul Akhyar, Dar al-Kutub al-Arabiyah, Beirut, Hal. 144
[12] Sayyed al-Bakri al-Syatha, I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz. III, Hal. 258-259
[13] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. VI, Hal. 41
[14] Al-Suyuthi, Luqab al-Nuqul fii Asbab al-Nuzul, Muassisah al-Kutub al-Tsaqafiyah, Beirut, Hal. 187


Sumber: http://kitab-kuneng.blogspot.com/2015/01/hukum-memakai-cadar-menurut-mazhab.html

*

Zikir Guna Tasybih

*

Hadits diriwayatkan dari Umm al-Mukminin, salah seorang isteri Rasulullah, bernama Shafiyyah. Bahwa beliau (Shafiyyah) berkata:

دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَليهِ وَسَلّمَ وَبَيْنَ يَدَيَّ أَرْبَعَةُ آلاَفِ نَوَاةٍ أُسَبِّحُ بِهَا، فَقَالَ: لَقَدْ سَبَّحْتِ بِهَذَا؟ أَلاَ أُعَلِّمُكِ بِأَكْثَرَ مِمَّا سَبَّحْتِ بِهِ؟ فَقَالَتْ: عَلِّمْنِيْ، فَقَالَ: قُوْلِيْ سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ مِنْ شَىْءٍ (رواه الترمذي والحاكم والطبرانيّ وغيرهم وحسّنه الحافظ ابن حجر في تخريج الأذكار)

“Suatu ketika Rasulullah menemui ku dan ketika itu ada di hadapan ku empat ribu biji-bijian yang aku gunakan untuk berzikir. Lalu Rasulullah berkata: Kamu telah bertasbih dengan biji-bijian ini ? Mahukah kamu aku ajar yang lebih banyak dari ini? Shafiyyah menjawab: Ya, ajarkanlah kepadaku. Lalu Rasulullah bersabda: “Bacalah: “Subhanallah ‘Adada Ma Khalaqa Min Sya’i” (HR. at-Tirmidzi, al-Hakim, ath-Thabarani dan lainnya, dan dihasankan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam kitab Nata-ij al-Afkar Fi Takhrij al-Adzkar)

Faedah Hadits:

Dalam hadits ini Rasulullah mendiamkan, ertinya menyetujui (iqrar), dan tidak mengingkari isterinya yang berzikir dengan biji-bijian tersebut. Rasulullah hanya menunjukkan cara yang lebih afdlal dari menghitung dzikir dengan biji-bijian atau kerikil. Dan ketika Rasulullah menunjukkan kepada sesuatu yang lebih afdlal (al-afdlal), hal ini bukan bererti untuk menafikan yang sudah ada (al-mafdlul). Ertinya, yang sudah ada pun (al-mafdlul) masih boleh dilakukan.

Dari iqrar Rasulullah ini dapat diambil dalil bahwa bertasbih dengan kerikil atau biji-bijian ada keutamaan atau faedah pahalanya. Kerana seandainya tidak ada keutamaannya, bererti Rasulullah menyetujui ibadah yang sia-sia, yang tidak berpahala, dan jelas hal ini tidak mungkin terjadi. Rasulullah tidak akan mendiamkan sesuatu yang tidak ada gunanya.

Syekh Mulla ‘Ali al-Qari ketika menjelaskan hadits Sa’d ibn Abi Waqqash di atas, dalam kitab Syarh al-Misykat, menuliskan sebagai berikut:

وَهذَا أَصْلٌ صَحِيْحٌ لِتَجْوِيْزِ السُّبْحَةِ بِتَقْرِيْرِهِ صَلّى اللهُ عَليْهِ وَسَلّمَ فَإِنَّهُ فِيْ مَعْنَاهَا، إِذْ لاَ فَرْقَ بَيْنَ الْمَنْظُوْمَةِ وَالْمَنْثُوْرَةِ فِيْمَا يُعَدُّ بِهِ.

“Ini adalah dasar yang shahih untuk membolehkan penggunaan tasbih, kerana tasbih ini semakna dengan biji-bijian dan kerikil tersebut. Kerana tidak ada bezanya antara yang tersusun rapi (diuntai dengan tali) atau yang bertaburan (tidak teruntai), bahwa setiap itu semua adalah alat untuk menghitung bilangan zikir”[Syarh al-Misykat, j. 3, h. 54].

Wallahu A'lam.

*

IJMA' ULAMA: ALLAH WUJUD TANPA BERTEMPAT


*

IJMA' ULAMA: ALLAH WUJUD TANPA BERTEMPAT

الدِّلِيْلُ عَلَ ىتَنْـزِيْهِ اللهِ عَنِ الْمَكَانِ وَالْـجِهَةِ مِنَ الْإِجْمَاعِ

Dalil tentang mensucikan Allah daripada tempat dan arah berdasarkan Ijma`

اِعْلَمْ أَنَّ الْمُسْلِمِيْنَ اِتَّفَقُوْا عَلَى أَنَّ اللهَ تَعَالَى لَا يَـحُلُّ فِيْ مَكَانٍ، وَلَا يـَحْوِيْهِ مَكَانٌ وَلَا يَسْكُنُ السَّمَاءَ وَلَا يَسْكُنُ الْعَرْشَ، لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى مَوْجُوْدٌ قَبْلَ الْعَرْشِ وَقَبْلَ السَّمَاءِ وَقَبْلَ الْمَكَانِ، وَيَسْتَحِيْلُ عَلَى اللهِ التَّغَيُّرُ مِنْ حَالٍ إِلَى حَالٍ وَمِنْ صِفَةٍ إِلَى صِفَةٍ أُخْرَىْ، فَهُوَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كَانَ مَوْجُوْدًا فِي الْأَزَلِ بِلَا مَكَانٍ، وَبَعْدَ أَنْخَلَقَ الْمَكَانَ لَا يَزَالُ مَوْجُوْدًا بِلَا مَكَانٍ. وَمَا سَنَذْكُرُهُ فِيْهَذَا الْكِتَابِ بِـمَشِيْئَةِ اللهِ تَعَالَى وَعَوْنِهِ وَتَوْفِيْقِهِ مِنْ أَقْوَالٍ فِيْ تَنـزِيْهِ اللهِ عَنِ الْمَكَانِ لِأَعْلَامٍ ظَهَرُوْا عَلَى مَدَى أَرْبَعَةَ عَشَرَ قَرْنًا مِنَ الزَّمَنِ مُنْذُ الْصَدْرِ الْأَوَّلِ أَيْ مُنْذُ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى يَوْمِنَا هَذَا يُعْتَبَرُ مِنْ أَقْوَى الْأَدِلَّةِ عَلَى رُسُوْخِ هَذِهِ الْعَقِيْدَةِ وَثُبُوْتِـهَا فِيْ نُفُوْسِ الْمُسْلِمِيْنَ سَلَفًا وَخَلَفًا.

Maksudnya:

Ketahuilah bahawa sekalian umat Islam bersepakat bahawa Allah tidak menduduki suatu tempat, tiada tempat yang melingkungi-Nya, tidak juga Dia duduk di langit dantiada duduk di atas Arasy. Ini kerana wujudnya Allah adalah sebelum wujudnya Arasy, langit dan tempat. Mustahil pada akal bahawa Allah itu berubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain dan dari suatu sifat kepada sifat yang lain.Ini kerana kewujudan Allah pada azali adalah tanpa bertempat dan berterusanlah keadaan Allah sebegitu [iaitu tidak bertempat] setelah adanya tempat. Apa yang kami akan nyatakan dalam kitab ini, dengan kehendak Allah, bantuan dan petunjuk-Nya; adalah berkenaan pendapat-pendapat yang menyucikan Allah daripada bertempat berdasarkan [pendapat] para ulama semenjak 14 kurun yang lalu yakni semenjak zaman para sahabat sehingga zaman kita pada hari ini. Ia dianggap sebagai sebahagian daripada dalil-dalil yang ampuh untuk mengukuhkan aqidah ini dan menetapkannya di dalam jiwa kaum muslim yang dahulu [Salaf] dan yang terkemudian [khalaf].

لِيُعْلَمْ أَنَّ أَهْلَ الْـحَدِيْثِ وَالْفِقْهِ وَالتَّفْسِيْرِ وَاللُّغَةِ وَالنَّحْوِ وَعُلَمَاءِ الْأُصُوْلِ، وَعُلَمَاءِ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْـحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ وَالْـحَنَابِلَةِ ـ إِلَّا مَنْ لَـحِقَ مِنْهُمْ بِأَهْلِ التَّجْسِيْمِـ وَالصُّوْفِيَّةِ الصَّادِقِيْنَ كُلُّهُمْ عَلَى عَقِيْدَةِ تَنْـزِيْهِ اللهِ عَنِ الْمَكَانِ، إِلَّا أَنَّ الْمُشَبِّهَةَ وَمِنْهُمْ نَفَاةُ التَّوَسُّلِ شَذُّوْا عَنْ هَذِهِ الْعَقِيْدَةِ الْـحَقَّةِ فَقَالُوْا إِنَّ اللهَ يَسْكُنُ فَوْقَ الْعَرْشِ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ تَعَالَى.

Maksudnya:

Hendaklah diketahui bahawa para ulama’ hadith, fiqh, tafsir, bahasa, nahu, usuluddin dan ulama mazhab yang empat seperti mazhab Syafie, Hanafi, Maliki dan Hanbali melainkan golongan terkemudian daripada pengikut mazhab Hanbali yang berkeyakinan tajsim [menyamakan Allah dengan makhluk] dan para ulama sufi yang benar, sekalian mereka itu berpegang dengan aqidah menyucikan Allah daripada bertempat melainkan golongan musyabbihah [yang menyamakan Allah dengan makhluk] dan di antara mereka adalah golongan yang menafikan tawassul di mana mereka menyimpang daripada aqidah yang benar ini. Maka, golongan ini menyatakan bahawa Allah menetap di atas Arasy dengan zat-Nya. Wal‘iyazubillah.

1ـ وَمِـمَّنْ نَقَلَ إِجْمَاعَ أَهْلِ الْـحَقِّ عَلَى تَنـزِيْهِ اللهِ عَنِ الْمَكَانِ الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَاهِرِ بنُ طَاهِرٍ التَّمِيْمِيُّ الْبَغْدَادِيُّ (429 هـ)،فَقَدْ قَالَ مَا نَصُّهُ: "وَأَجْمَعُوْا ـ أَيْ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْـجَمَاعَةِ عَلَى أَنَّهُ -أَيْ اللهَ- لَا يَـحْوِيْهِ مَكَانٌ وَلَا يَـجْرِيْ عَلَيْهِ زَمَانٌ" اهـ.

Maksudnya:

"Dan di antara mereka yang menukilkan ijma‘ golongan yang benar atas menyucikan Allah daripada bertempat ialah asy-Syeikh Abdul Qahir bin Thahir at-Tamimi al-Baghdadi (w. 429H), sesungguhnya beliau berkata: “Dan sekalian mereka telah bersepakat iaitu Ahlussunnah waljama`ah atas sesungguh-Nya [Allah] tidak diliputi oleh tempat dan tidak berlalu di atas-Nya [Allah] oleh masa”.[1]

2. قَالَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (203 هــ): "وَمِنَ الْمَعْلُوْمِ أَنَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَاجِبُ الْوُجُوْدِ كَانَ وَلا زَمَانَ وَلا مَكَانَ".

Maksudnya:

Al-Imam asy-Syafi`e radiyallahu`anhu (w. 203H)berkata: "Dan telah diketahui umum (ijma` ulama` telah sepakat) bahawa sesungguhnya Allah Azza wa Jalla itu wajib atas kewujudan-Nya iaitu wujud tanpa masa dan tidak bertempat".[2]:

3ـوَقَالَ الشَّيْخُ إِمَامُ الْـحَرَمَيْنِ عَبْدُ الْمَلِكِ بن عَبْدُ اللهِ الْـجُوَيْنِيُّالشَّافِعِيُّ (478هـ) مَا نَصُّهُ: "وَمَذْهَبُ أَهْلِ الْـحَقِّ قَاطِبَةًأَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَتَعَالى عَنِ التَّحَيُّزِ وَالتَّخَصُّصِ بِالْـجِهَاتِ"اهـ.

Maksudnya:

Asy-Syeikh Imam al-Haramain `Abdul Malik bin `Abdullah al-Juwaini asy-Syafi`e (w. 478H) berkata:"Sekalian golongan yang berpegang dengan kebenaran bersepakat bahawasanya Allah subhanhu wa ta‘ala maha suci daripada memenuhi suatu kadar daripada ruang kosong dan tertentu pada suatu arah". [3]

4ـوَقَالَ الْمُفَسِّرُ الشَّيْخُ فَخْرُ الدِّيْنِ الرَّازِيّ (606هـ) مَا نَصُّهُ:"إِنْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَى أَنَّهُ سُبْحَانَهُ لَيْسَ مَعَنَا بِالْمَكَانِ وَالْـجِهَةِ وَالْـحَيِّزِ" اهـ.

Maksudnya:

Al-Mufassir asy-Syeikh Fakhruddin ar-Razi (w. 606H) berkata: “Telah berlaku ijma`[kesepakatan] atas bahawasanya Allah ta`ala tidaklah bersama kita dengan bertempat, berarah dan mengambil satu kadar daripada ruang kosong".[4]

5ـ وَقَالَ الشَّيْخُ إِسْـمَاعِيْلُ الشَّيْبَانِيُّ الْـحَنَفِيُّ (629هـ) مَا نَصُّهُ: "قَالَ أَهْلُ الْـحَقِّ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى مُتَعَالٍ عَنِ الْمَكَانِ، غَيْرُ مُتَمَكِّنٍ فِيْ مَكَانٍ، وَلَا مُتَحَيِّزٍ إِلَى جِهَةٍ خِلَافًا لِلْكَرَّامِيَّةِ وَالْمُجَسِّمَةِ" اهـ.

Maksudnya:

Asy-Syeikh Ismail asy-Syaibani al-Hanafi (w. 629H) berkata: "Golongan yang benar berkata: sesungguhnya Allah ta`ala maha suci daripada bertempat, tidak menduduki suatu tempat, dan tidak juga memenuhi suatu ruang pada sesuatu arah bersalahan dengan golongan Karramiyyah dan Mujassimah".[5]

6ـوَقَالَ سَيْفُ الدِّيْنِ الآمِدِيُّ (631هـ) مَا نَصُّهُ: "وَمَا يُرْوَى عَنِالسَّلَفِ مِنْ أَلْفَاظٍ يُوْهِمُ ظَاهِرَهَا إِثْبَاتَ الْـجِهَةِ وَالْمَكَانِفَهُوْ مَـحْمُوْلٌ عَلَى هَذَا الَّذِيْ ذَكَرْنَا مِنِ امْتِنَاعِهِمْ عَنْ إِجْرَائِهَاعَلَى ظَوَاهِرِهَا وَالْإِيْـمَانُ بِتَنْزِيْلِهَا وَتِلَاوَةُ كُلِّ ءَايَةٍ عَلَىمَا ذَكَرْنَا عَنْهُمْ، وَبَيْنَ السَّلَفِ الاِخْتِلَافُ فِي الْأَلْفَاظِ الَّتِيْيُطْلِقُوْنَ فِيْهَا، كُلُّ ذَلِكَ اخْتِلَافٌ مِنْهُمْ فِي الْعِبَارَةِ، مَعَاتَّفَاقِهِمْ جَمِيْعًا فِي الْمَعْنَى أَنَّهُ تَعَالَى لَيْسَ بِـمَتَمَكِّنٍ فِيْمَكَانٍ وَلَا مُتَحَيِّزٍ بِـجِهَةٍ" اهـ.

Maksudnya:

"Saifuddin al-Amadi (w. 631H) berkata: "Sebarang perkara yang diriwayatkan daripada golongan Salaf yang terdiri daripada lafaz-lafaz yang pada zahirnya memberi waham kepada sabitnya arah dan tempat bagi Allah, maka perkara tersebut perlu ditanggung mengikut kenyataan yang telah kami sebutkan sebelum ini iaitu yang terdiri daripada tegahan mereka daripada memahami ayat-ayat tersebut mengikut makna zahirnya. Dalam masa yang sama mereka beriman dengan ayat-ayat [mutasyabihat] tersebut dan mereka juga membaca setiap ayat-ayat tersebut sepertimana yang telah kami sebutkan tentang mereka sebelum ini. Dalam kalangan golongan salaf juga berlaku perselisihan dalam penggunaan lafaz bagi kalimah yang mutasyabihat tetapi kesemua perselisihan itu hanyalah berlaku pada penggunaan bahasa sahaja. Dalam konteks makna, mereka sepakat bahawa Allah TIDAK BERTEMPAT, MENGAMBIL SATU KADAR DARIPADA RUANG KOSONG DAN BERARAH".[6]

وَلِلشَّيْخِ ابْنِ جَهْبَل الْـحَلَبِي الشَّافِعِي (733هـ) رِسَالَةٌ ألَّفَهَا فِيْ نَفْيِ الْـجِهَةِ رَدَّ بِـهَا عَلَى الْمُجَسِّمِ الْفَيْلَسُوْفِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الْـحَرَّانِيْ الَّذِيْ سَفَّهَ عَقِيْدَةَ أَهْلِ السُّنَّةِ، وَطَعَنَ بِأَكَابِرِ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَعُمَرَ وَعَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا.

Maksudnya:

"Dan asy-Syeikh Ibnu Jahbal al-Halabi asy-Syafie (w. 733H) telah menyusun satu risalah yang menafikan wujudnya arah bagi Allah dan risalah ini bertujuan menolak fahaman golongan mujassimah dan falsafah seperti ibnu Taimiyah al-Harrani yang memperbodohkan aqidah ahlussunnah dan mencela sahabat-sahabat nabi sallallahu`alaihi wasallam yang agung seperti `Umar dan `Aliradiyallahu`anhuma".

7ـ قَالَ ابْنُ جَهْبَل مَا نَصُّهُ:"وَهَا نَـحْنُ نَذْكُر عَقِيْدَةَ أَهْلِ السُّنَّةِ، فَنَقُوْلُ: عَقِيْدَتُنَا أَنَّ اللهَ قَدِيْـمٌ أَزَلِيٌّ، لَا يُشْبِهُ شَيْئًا وَلَا يُشْبِهُهُ شَىْءٌ، لَيْسَ لَهُ جِهَةٌ وَلَا مَكَانٌ" اهـ.

Maksudnya:

Ibnu Jahbal berkata: "Dan di sini ingin kami sebutkan tentang aqidah ahli sunnah: maka kami berkata: aqidah kami, Allah itu qadim lagi azali [tidak ada permulaan bagi kewujudan-Nya], Dia tidak menyerupai sesuatupun dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya, tidak ada bagi-Nya arah dan tempat". [7]

8ـ نَقَلَ الشَّيْخُ تَاجُ الدِّيْنِ السُّبْكِيُّ الْأَشْعَرِيُّ (771هـ) عَنِ الشَّيْخِ فَخْرِ الدِّيْنِ بنِ عَسَاكِرَ أَنَّهُ كَانَ يَقْرَأُ العَقِيْدَةَ المرشَدَةَ التي فِيْهَا : "إِنَّ اللهَ تَعَالَى مَوْجُوْدٌ قَبْلَ الْـخَلْقِ لَيْسَ لَهُ قَبْلٌ وَلَا بَعْدٌ، وَلَا فَوْقٌ وَلَا تَـحْتٌ، وَلَا يَـمِيْنٌ وَلَا شِـمَالٌ، وَلَا أَمَامٌ وَلَا خَلْفٌ". ثُـمَّ قَالَ ابْنُ السُّبْكِيُّ بَعْدَ أَنَّ ذَكَرَ هَذِهِ الْعَقِيْدَةَ مَا نَصُّهُ: "هَذَا ءَاخِرُ الْعَقِيْدَةِ وَلَيْسَ فِيْهَا مَا يُنْكِرُهُ سُنِّـيٌّ" اهـ.

Maksudnya:

Syeikh Tajuddin as-Subki asy-Syafi`e al-Asy`ari (w. 771H) menukilkan daripada Syeikh Fakhruddin ibn Asakir bahawa beliau ada menyatakan: "Sebelum daripada kewujudan makhluk, Allah telahpun wujud dan tiada bagi-Nya sebelum dan selepas, atas, bawah, kiri dan kanan, hadapan dan belakang. Kemudian setelah menyatakan aqidah ini, Ibnu Subki berkata: inilah kemuncak bagi aqidah ini dan tiada dalam kalangan pengikut sunni yang mengingkarinya".[8]

9ـ وَوَافَقَهُ عَلَى ذَلِكَ الْـحَافِظُ الْمُحَدِّثُ صَلَاحُ الدِّيْنِ الْعَلَّائِيُّ (761هـ) أَحَدُ أَكَابِرِ عُلَمَاءِالْـحَدِيْثِ فَقَالَ مَا نَصُّهُ: "وَهَذِهِ "الْعَقِيْدَةُ الْمُرْشِدَةُ"جَرَى قَائِلُهَا عَلَى الْمِنْهَاجِ الْقَوِيْـمِ، وَالْعَقْدِ الْمُسْتَقِيْمِ،وَأَصَابَ فِيْمَا نَزَّهَ بِهِ الْعَلِيَّ الْعَظِيْمَ" اهـ.

Maksudnya:

Salah seorang ulama hadith yang terkemuka, Syeikh al-Hafiz al-Muhaddith Solahuddin Al-`Allai (w. 761H) bersetuju dengan ibnu Subki dan beliau menyatakan: "Inilah aqidah yang benar, orang yang berkata dengannya berpijak atas landasan yang betul, pegangan yang benar dan ia menepati perkara yang disucikan akan Allah yang Maha Tinggi dan Agung".[9]

10ـ قَالَ الشَّيْخُ مُـحَمَّدُ مَيَّارَةَ الْمَالِكِيُّ (1072هـ) مَا نَصُّهُ: "أَجْمَعَ أَهْلُ الْـحَقِّ قَاطِبَةً عَلَى أَنَّ اللهَ تَعَالَى لَا جِهَةَ لَهُ، فَلَا فَوْقَ وَلَا تَـحْتَ وَلَا يَـمِيْنَ وَلَا شِـمَالَ وَلَا أَمَامَ وَلَا خَلْفَ" اهـ.

Maksudnya:

Syeikh Muhammad Mayyarah al-Maliki (w. 1072H) berkata: "Seluruh golongan yang berpegang dengan kebenaran telah bersepakat bahawa Allah itu tidak ada arah bagiNya, tiada bagi-Nya atas , bawah, kiri dan kanan,depan dan belakang".[10]

11ـ وَقَالَ شَيْخُ الْـجَامِعِ الأَزْهَرِ سَلِيْمٌ الْبِشْرِيُّ (1335هـ) مَا نَصُّهُ: "مَذْهَبُ الْفِرْقَةِ النَّاجِيَةِ وَمَا عَلَيْهِ أَجْمَعَ السُّنِّيُّوْنَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى مُنَـزَّهٌ عَنْ مُشَابَـهَةِ الْـحَوَادِثِ مُـخَالِفٌ لَـهَا فِيْ جَمِيْعِ سِـمَاتِ الْـحُدُوْثِ وَمِنْ ذَلِكَ تَنَزَّهَهُ عَنِ الْـجِهَةِ وَالْمَكَانِ" اهـ، ذَكَرَهُ الْقُضَاعِي فِيْ"فُرْقَانِ الْقُرْءَانِ".

Maksudnya:

Syeikh al-Jami` al-Azhar Salim al-Bisyri (w. 1335H): "Mazhab golongan yang Berjaya dan pegangan bagi sekalian ahli sunnah ialah bahawasanya Allah disucikan daripada menyerupai perkara yang baharu dan Allah sama sekali tidak sama dengannya dalam apa jua sifat makhluk. Maka dengan ini diketahui bahawa Maha Suci Allah daripada berarah dan bertempat, kenyataan beliau ini disebutkan oleh al-Qudhai`e di dalam Furqan al-Quran".[11]

12ـ وَقَالَ الشَّيْخُ يُوْسُفُ الدِّجْوِيُّ الْمِصْرِيُّ (1365هـ) عُضْوُ هَيْئَةِ كِبَارِ الْعُلَمَاءِ بِالْأَزْهَرِ الشَّرِيْفِ فِيْ مِصْرَ مَا نَصُّهُ :"وَاعْلَمْ أَنَّ السَّلَفَ قَائِلُوْنَ بِاسْتِحَالَةِ الْعُلُوِّ الْمَكَانِيْ عَلَيْهِ تَعَالَى، خِلَافًا لِبَعْضِ الْـجَهَلَةِ الَّذِيْنَ يَـخْبِطُوْنَ خَبْطَ عَشْوَاءَ فِيْ هَذَا الْمَقَامِ، فَإِنَّ السَّلَفَ وَالْـخَلَفَ مُتَّفِقَانِ عَلَى التَّنْـزِيْهِ" اهـ.

Maksudnya:

Asy-Syeikh Yusuf ad-Dijwi al-Misri seorang anggota majlis ulama’-ulama’ besar al-Azhar asy-Syarif(W. 1365H): "Ketahuilah bahawa golongan salaf menyatakan bahawa mustahil bagi Allah kedudukan yang tinggi dalam erti kata lawan bagi rendah [dalam konteks tempat]. Yang demikian ini adalah bersalahan dengan sebahagian golongan jahil yang mendakwa dan mengeluarkan kenyataan secara membuta tuli tentang hal ini. Kerana sesungguhnya golongan Salaf dan Khalaf bersepakat kedua-duanya dalam menafikan tempat dan arah bagi Allah".[12]

13ـ وَقَالَ أَيْضًا: "هَذَا إِجْمَاعٌ مِنَ السَّلَفِ وَالْـخَلَفِ" اهـ.

Maksudnya:

"Dan beliau juga berkata: "Ini adalah merupakan ijma` daripada para ulama’ Salaf dan Khalaf".[13]

14ـ وَقَالَ الشَّيْخُ سَلَامَةُ الْقَضَاعِيُّ الْعَزَامِيُّ الشَّافِعِيُّ (1376هـ) مَا نَصُّهُ: "أَجْمَعَ أَهْلُ الْـحَقِّ مِنْ عُلَمَاءِ السَّلَفِ وَالْـخَلَفِ عَلَى تَنَـزُّهِ الْـحَقِّ ـ سُبْحَانَهُـ عَنِ الْـجِهَةِ وَتَقَدُّسِهِ عَنِ الْمَكَانِ" اهـ.

Maksudnya:

Asy-Syeikh Salamah al-Qudha`ie al-Azami asy-Syafi`e (w. 1376H) berkata: "Ijma`para ahl al-haq yang terdiri daripada ulama’ salaf dan khalaf di atas penyucian Allah daripada berarah dan maha suci Allah daripada bertempat".[14]

15ـ وَقَالَ الْمُحَدِّثُ الشَّيْخُ مُـحَمَّدُ عَرَبِيُّ التَّبَّانَ الْمَالِكِيُّ الْمُدَرِّسُ بِـمَدْرَسَةِ الْفَلَاحِ وَبِالْمَسْجِدِ الْمَكِّيْ (1390هـ) مَا نَصُّهُ: "اِتَّفَقَ الْعُقُلَاءُ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ الشَّافِعِيَّةِ وَالْـحَنَفِيَّةِ وْالْمَالِكِيَّةِ وَفُضَلَاءِ الْـحَنَابِلَةِ وَغَيْرِهِمْ عَلَى أَنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مُنَـزَّهٌ عَنِ الْـجِهَةِ وَالْـجِسْمِيَّةِ وَالْـحَدِّ وَالْمَكَانِ وَمُشَابَـهَةِ مَـخْلُوْقَاتِهِ" اهـ.

Maksudnya:

Al-Muhaddith Syeikh Muhammad `Arabi al-Tabban al-Maliki (w. 1390H) guru di madrasah al-Falah: "Telah sepakat golongan cerdik pandai daripada golongan ahli sunnah yang terdiri daripada para ulama’ mazhab Syafie, Hanafi, Maliki dan ulama yang utama daripada mazhab Hanbali dan selain mereka atas bahawasanya Allah maha suci daripada berarah, berjisim, mempunyai ukuran,bertempat dan menyerupai sebarang makhluk".[15]

16ـ وَمِـمَّنْ نَقَلَ الْإِجْمَاعَ عَلَى ذَلِكَ فِيْ مَوَاضِعَ كَثِيْرَةٍ مِنْ مُؤَلَّفَاتِهِ وَدُرُوْسِهِ الْمُتَكَلِّمُ عَلَى لِسَانِ السَّلَفِ الصَّالِـحِ الْعَلَّامَةُ الشَّيْخُ عَبْدُ اللهِ الْـهَرَرِيُّ رَحِمَهُ اللهُ وَلَهُ عِنَايَةٌ شَدِيْدَةٌ بِتَعْلِيْمِ عَقِيْدَةِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْـجَمَاعَةِ لِلنَّاسِ فَقَالَ مَا نَصُّهُ: "قَاَل أَهْلُ الْـحَقِّ نَصَرَهُمُ الله: إِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَيْسَ فِيْ جِهَةٍ" اهـ،

Maksudnya:

Diantara mereka yang menukilkan ijma` berhubung perkara ini dalam banyak tempat di dalam karangan-karangannya dan siri-siri pengajian yang disampaikannya, yang mana beliau merupakan seorang yang berkata-kata berdasarkan kepada lisan golongan salaf as-soleh iaitulah al-`Allamah asy-Syeikh `Abdullah al-Harari semoga Allah merahmati beliau- dan beliau begitu memberi perhatian terhadap pengajaran akidah Ahlussunnah waljama‘ah kepada manusia, maka beliau berkata: "Golongan ahli kebenaran- mudah-mudahan Allah membantu mereka-:Sesungguhnya Allah subahanahu wa ta‘ala tidak berada pada suatu arah".[16]

فَالْـحَمْدُلِلَّهِ عَلَى ذَلِكَ.

Maksudnya:

"Maka bersyukur kepada Allah atas yang demikian itu".

وَقَدْحَذَّرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ الْأَهْوَاءِبِقَوْلِهِ: ((وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِيْ أَقْوَامٌ تَـجَارَى بِـهِمْ تِلْكَالْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ، لَا يَبْقَى مِنْهُ عَرَقٌوَلَا مِفْصَلٌ إِلَّا دَخَلَهُ)). رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ.

Maksudnya:

Sesunggunhya baginda Rasulullah sallallahu`alaihi ada mengingatkan tentang golongan yang mengikut hawa nafsu dengan sabda baginda yang mafhumnya: ((Sesungguhnya akan keluar satu kaum daripada umatku yang menuruti hawa nafsu sepertimana anjing yang gila. Tidak akan tinggal sebarang urat darah dan sebarang sendi melainkan ia akan meresap ke dalamnya)). Riwayat Abu Daud

فَالْـحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ لَنَا مَنْ يُبَيِّنُ عَقِيْدَةَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَيُدَافِعُ عَنْهَا. وَتَـمَسَّكْ أَخِي الْمُسْلِمَ بِـهَذِهِ الْعَقِيْدَةِ الَّتِيْ عَلَيْهَا مِئَاتُ الْمَلَايِيْنَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَالْـحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى تَوْفِيْقِهِ.اهـ.

Maksudnya:

Segala puji bagi Allah yang menjadikan kita sebahagian daripada golongan yang menerangkan aqidah Ahli sunnah waljama`ah dan mempertahankannya. Wahai saudara seagamaku, berpeganglah dengan aqidah ini yang mana ia merupakan pegangan ratusan juta daripada umat Islam. Segala puji bagi Allah atas taufik-Nya


Sumber Rujukan asal:

Asy-Syeikh Khalil ad-Durriyyan (2008), Ghayah al-Bayan Fi Tanzih Allah `An al-Makan Wa al-Jihah, Lubnan: Syarikat Dar al-Masyari` , cet 2, h. 23-26.

[1] Al-ImamAbu al-Mansur `Abd al-Qahir Ibn Tahir al-Baghdadi(t.t), Al-Farq bayn al-Firaq,Beirut: Dar al-Ma`rifah, h. 333.

[2]MuhammadMurtada al-Zabidi(t.t), Ittihaf al-Sadat al-Muttaqin, Beirut: Daral-Fikr, j. 2, h. 23.

[3] `Abdul Malik bin `Abdullahal-Juwaini (t.t), Al-Irsyad IlaQawati` al-Adillah Fi Usul al-I`tiqad, Beirut: Muassasah al-Kutubas-Saqafiyah, h. 58.

[4] Fakruddinar-Razi (t.t), Tafsir al-Kabir Wa Mafatih al-Ghaib, Beirut: Dar al-Fikr,j. 29, h. 216.

[5] Ismailasy-Syaibani (t.t), Syarh Aqidah at-Tahawiyyah al-Musamma Bayan I`tiqad Ahlal-Sunnah, h. 45.

[6] Saifuddinal-Amadi (1971), Ghayah al-Maram Fi `Ilm al-Kalam, Al-Kaherah, h.194.

[7] TajuddinSubki (t.t), Tabaqat asy-Syafi`eyyah al-Kubra,(Biodata Ahmad bin Yahya binIsmail) Al-Kaherah: Dar Ihya’ al-Kutub al-`Arabiyyah, j. 9, h. 35.

[8] TajuddinSubki (t.t), Tabaqat asy-Syafi`eyyah al-Kubra,(Biodata `Abdurrahman binMuhammad bin al-Hasan), Al-Kaherah: Dar Ihya’ al-Kutub al-`Arabiyyah, j. 8,h. 186.

[9] Lihat Kitab “al-Misdaras-Sabiq”, jilid 8, halaman, 185.

[10] MuhammadMayyarah (t.t), Ad-Dur as-Samin Wa al-Maurid al-Mu`in Syarhal-Mursyid al-Mu`in `ala adh-Dharuriy min `Ulum ad-Din, Beirut: Dar Fikr,h. 30

[11] Salamahal-Qadhai`e (t.t), Furqan al-Quran Bain Sifat al-Khaliq Wa Sifat al-`Akwan (dicetakbersama kitab al-Asma’ wa As-Sifat oleh al-Baihaqi), Beirut: Dar Ihya’at-Turath al-`Arabi, h. 74.

[12] Majallah al-Azhar, (tahun 1357H), jilid 9, juzuk 1, halaman 17.

[13] Lihat di dalam “al-Misdaras-Sabiq”, halaman 17.

[14] Salamahal-Qadhai`e (t.t), Furqan al-Quran Bain Sifat al-Khaliq Wa Sifat al-`Akwan (dicetakbersama kitab al-Asma’ wa As-Sifat oleh al-Baihaqi), Beirut: Dar Ihya’at-Turath al-`Arabi, h. 93.

[15] AbuHamid bin Marzuki (t.t), Bara’ah al-Asy`ariyyin min `Aqaid al-Mukhalifin,Dimasyq, j. 1, h. 79.

[16] Abdullah al-Harari (2007),Izhar al-`Aqidah al-Sunniyyah bi syarh al-`Aqidah al-Tahawiyyah, Lubnan:Syarikat Dar al-Masyari’, cet. 4, h. 127.


Sumber: http://notaaswaja.blogspot.sg/2013/05/ijma-ulama-allah-wujud-tanpa-bertempat.html

*

BENARKAH KISAH ALQAMAH ADALAH PALSU ?

*

Penjelasan daripada Ustaz Raja Ahmad Mukhlis :

Point Pertama: Bukan semua hadith yang tidak sahih itu dihukum palsu. Bahkan, sangat sukar untuk menghukum sesuatu hadith itu palsu, apatah lagi dengan perawi yang sekadar dhaif.

Al-Imam Ali al-Qari menukilkan dalam muqoddimah kitab al-Masnu', bahawa al-Imam al-Zarkasyi berkata:

بَيْنَ قَوْلِنَا : لَمْ يَصِحَّ ، وَقَوْلِنَا : مَوْضُوعٌ ، بَوْنٌ وَاضِحٌ. فَإِنَّ الْوَضْعَ إِثْبَاتُ الْكَذِبِ ، وَقَوْلُنَا : لَمْ يَصِحَّ ، إِنَّمَا هُوَ إِخْبَارٌ عَنْ عَدَمِ الثُّبُوتِ ، وَلا يَلْزَمُ مِنْهُ إِثْبَاتُ الْعَدَمِ "

Maksudnya:

Antara perkataan kami "tidak sahih" (sesuatu hadith tersebut) dengan perkataan kami "maudhu' (direka-reka)" (sesuatu hadith tersebut), ada perbezaan yang sangat ketara. Maka sesungguhnya al-wadh'u (rekaan) itu bermaksud menetapkan (hukum) pendustaan, sedangkan perkataan kami "tidak sahih" ialah (sekadar) menjelaskan tentang tidak thubut (tidak sabit daripada Rasulullah shollalalhu 'alaihi wasallam), tetapi tidak melazimkan daripadanya itu, menetapkan ketiadaan (iaitu: menetapkan ianya memang bukan hadis NAbi shollallahu 'alaihi wasallam).

Al-Imam Ibn Sholah berkata dalam kitab Ulum al-Hadith:

وكذلك إذا قالوا في حديث : " إنه غير صحيح " فليس ذلك قطعا بأنه كذب في نفس الأمر ، إذ قد يكون صدقا في نفس الأمر ، وإنما المراد به أنه لم يصح إسناده على الشرط المذكور ، والله أعلم .

Maksudnya: Begitu juga jika mereka (para nuqqod/penilai hadith) tentang sesuatu hadith: "Ia tidak sahih", maka bukanlah demikian itu suatu hukum secara muktamad bahawa ia suatu pendustaan pada perkara itu sendiri (dari sudut ianya memang hadith Rasulullah shollahu 'alaihi wasallam) Bahkan, boleh jadi ianya benar dari sudut sebenarnya perkara itu (boleh jadi benar ianya suatu hadith) cuma sanad-sanadnya sahaja tidak sahih mengikut syarat yang disebutkan (syarat hadith sahih).

Point Kedua: Kisah-kisah ini diriwayatkan oleh: al-IMam al-Baihaqi juga dalam kitab Syu'ab al-Iman:

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ الله الْحَافِظُ ، نا أَبُو عُمَرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ الزَّاهِدُ صَاحِبُ ثَعْلَبٍ بِبَغْدَادَ ، نا مُوسَى بْنُ سَهْلٍ الْمُوسِيُّ ، نا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ ، أنا فَائِدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، قَالَ : سَمِعْتُ عَبْدَ الله بْنَ أَبِي أَوْفَى ، قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : " يَا رَسُولَ الله ، إِنَّ هَاهُنَا غُلامًا قَدِ احْتُضِرَ يُقَالُ لَهُ قُلْ : لا إِلَهَ إِلا الله فَلا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَقُولَهَا ، قَالَ : أَلَيْسَ قَدْ كَانَ يَقُولُهَا فِي حَيَاتِهِ ؟ قَالُوا : بَلَى ، قَالَ : فَمَا مَنَعَهُ مِنْهَا عِنْدَ مَوْتِهِ ؟ قَالَ : فَنَهَضَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَهَضْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى الْغُلامَ ، فَقَالَ : يَا غُلامُ قُلْ : لا إِلَهَ إِلا الله ، قَالَ : لا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقُولَهَا ، قَالَ : وَلِمَ ؟ قَالَ : لِعُقُوقِ وَالِدَتِي ، قَالَ : أَحَيَّةٌ هِيَ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، قَالَ : أَرْسِلُوا إِلَيْهَا ، فَأَرْسَلُوا إِلَيْهَا فَجَاءَتْ ، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ابْنُكِ هُوَ ؟ قَالَتْ : نَعَمْ ، قَالَ : أَرَأَيْتِ لَوْ أَنَّ نَارًا أُجِّجَتْ فَقِيلَ لَكَ : إِنْ لَمْ تَشْفَعِي لَهُ قَذَفْنَاهُ فِي هَذِهِ النَّارِ ، قَالَتْ : إِذًا كُنْتُ أَشْفَعُ لَهُ ، قَالَ : فَأَشْهِدِي الله ، وَأَشْهِدِينَا مَعَكِ بِأَنَّكَ قَدْ رَضِيتِ ، قَالَتْ : قَدْ رَضِيتُ عَنِ ابْنِي ، قَالَ : يَا غُلامُ ، قُلْ : لا إِلَهَ إِلا الله ، فَقَالَ : لا إِلَهَ إِلا الله ، فَقَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ " ، تَفَرَّدَ بِهِ فَائِدٌ أَبُو الْوَرْقَاءِ ، وَلَيْسَ بِالْقَوِيِّ ، وَالله أَعْلَمُ

al-Imam al-Baihaqi sendiri gunakan lafaz "Wallahu a'lam.." adabnya para ulama' yang sungguh berilmu, berbanding para penilai segera masa kini yang merasai bahawa seolah2 ilmu mereka adalah dalil qat'ie dalam masalah penilaian hadith.

Point Ketiga: Siapa Fa'id yang dinilai dan dikritik dalam hadith ini?

Dalam Tahzib al-Kamal menyebut:

قال عَبْد الله بْن أَحْمَد بْن حنبل ، عَنْ أبيه : متروك الحديث.

# وقال عَبَّاس الدوري ، عَنْ يَحْيَى بْن معين : ضعيف ، ليس بثقة ، وليس بشيء.

# وقال عَبْد الرَّحْمَنِ بْن أبي حاتم : سمعت أبي وأبا زرعة ، يقولان : لا يشتغل بِهِ.

# وقال أيضا : سمعت أبي ، يقول : فائد ذاهب الحديث ، لا يكتب حديثه ، وكان عند مسلم بْن إِبْرَاهِيم عنه ، وكان لا يحدث عنه.

وكنا لا نسأله عنه ، وأحاديثه عَنِ ابْن أبي أوفى بواطيل لا تكاد ترى لها أصلا ، كأنه لا يشبه حديث ابن أبي أوفى ، ولو أن رجلا حلف أن عامة حديثه كذب لم يحنث.

# وقال البخاري : منكر الحديث .

# وقال أَبُو دَاوُد : ليس بشيء.

# وقال الترمذي : يضعف في الحديث.

# وقال النسائي : ليس بثقة.

# وقال في موضع آخر : متروك الحديث.

# وقال ابْن حبان : لا يجوز الاحتجاج بِهِ.

++ روى له : الترمذي ، وابن ماجه.

Dalam al-Dhu'afa' al-Kabir pula disebutkan:

عَنِ ابْنِ أَبِي أَوْفَى.

ذَكَرَ الْبُخَارِيُّ أَنَّهُ كُوفِيٌّ ، وَقَالَ غَيْرُهُ : بَصْرِيٌّ.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ ، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ دَاوُدَ الْخُرَاشِيُّ ، حَدَّثَنِي أَبُو الْفَتْحِ الْمُغِيرَةُ مِنْ أَهْلِ الْبَصْرَةِ ، قَالَ : كُنَّا عِنْدَ عِيسَى بْنِ يُونُسَ بِمَكَّةَ ، حَدَّثَنَا حَدِيثًا عَنْ فَائِدٍ الْعَطَّارِ أَبِي الْوَرْقَاءِ ، فَقَالَ الْمُسْتَمْلِيُّ أَوْ رَجُلٌ : هَذَا شَيْخٌ ضَعِيفٌ يَا أَبَا عَمْرٍو ، فَقَامَ وَقَالَ : نُهِينَا عَنْ مُجَالَسَةِ السُّفَهَاءِ.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الله بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ ، قَالَ : سُئِلَ أَبِي عَنْ فَائِدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَبِي الْوَرْقَاءِ ، فَقَالَ : مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ ، حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ ، قَالَ : سَمِعْتُ يَحْيَى ، قَالَ : فَائِدٌ أَبُو الْوَرْقَاءِ ضَعِيفٌ.

وَقَالَ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ : لَيْسَ بِشَيْءٍ.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ ، حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ ، قَالَ : سَمِعْتُ يَحْيَى ، قَالَ : فَائِدٌ أَبُو الْوَرْقَاءِ لَيْسَ بِثِقَةٍ.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَيُّوبَ ، قَالَ : سَمِعْتُ مُسْلِمَ بْنَ إِبْرَاهِيمَ ، وَسَأَلْتُهُ عَنْ حَدِيثٍ لِفَائِدٍ أَبِي الْوَرْقَاءِ ، فَقَالَ : دَخَلْتُ عَلَيْهِ ، وَجَارِيَتُهُ تَضْرِبُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِالْعُودِ ، قُلْتُ لِيَحْيَى : فَلِمَ كَتَبْتَ عَنْهُ ؟ قَالَ : لَمَّا كَتَبَ عَنْهُ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ.

حَدَّثَنِي آدَمُ ، قَالَ : سَمِعْتُ الْبُخَارِيَّ ، قَالَ : فَائِدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْعَطَّارُ أَبُو الْوَرْقَاءِ ، مُنْكَرُ الْحَدِيثِ

Namun begitu, al-Imam al-Tirmizi masih meriwayatkan satu hadith dalam al-Jami'e, daripada riwayat beliau lalu berkata:
وَفِي إِسْنَادِهِ مَقَالٌ فَائِدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ يُضَعَّفُ فِي الْحَدِيثِ وَفَائِدٌ هُوَ أَبُو الْوَرْقَاءِ

Tidak ada dalam kritikan (Jarh) para nuqqad terhadap Fa'id ini sehingga ke tahap pendusta, apatah lagi pemalsu hadith, sehingga melayakkan riwayat beliau dituduh sebagai palsu.

Bahkan, al-Imam al-Tirmizi dan al-Imam Ibn Majah meriwayatkan daripadanya, walaupun dengan ke'dha'ifannya.

Al-Imam al-MUbarakfuri menukilkan dalam kitab Tuhfah al-Ahwazi ketika mensyarahkan hadith Sunan al-Tirmizi tentang Fa'id bin Abd al-Rahman tadi dengan berkata:
قَالَ الْحَافِظُ الْمُنْذِرِيُّ : وَفَائِدٌ مَتْرُوكٌ رَوَى عَنْهُ الثِّقَاتُ ، وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ مَعَ ضَعْفِهِ يكْتبُ حَدِيثُه .

Al-Hafiz al-MUnziri berkata: Dan Fa'id ini ditinggalkan, (namun) para ulama' thiqah meriwayatkan daripadanya. Ibn 'ADiy berkata: "walaupun dengan kedha'ifan beliau, hadith beliau masih ditulis.

Maka, beliau bukanlah dikritik sehingga tahap pemalsu hadith, apatah menjadikannya sebagai sebab kisah ini dinilai palsu. Ini kerana, tidak ada pengakuan daripadanya bahawa dia memalsukan kisah ini.

Sebagaimana dinukilkan dalam Tahzib al-Tahzib bahawa beliau meriwayatkan daripada Abi Aufa hadith-hadith palsu. KIta mahu lihat contohnya dan adakah kisah ini, sebagaimana ianya dikeluarkan oleh al-Baihaqi dan sebagainya, adalah termasuk daripada hadith palsu yang dimaksudkan.

Bahkan, adakah daripada perkataan al-Hakim sendiri bahawa, riwayat Fa'id daripada Abi Aufa ini palsu, ianya secara mutlak dan umum ataupun masih banyak pengecualiannya. INi kerana, di sisi al-Hakim sendiri, sebagaimana dalam hadith tentang solat Hajat, beliau memberi penilaian positif terhadap riwayat Fa'id daripada Abi Aufa ini.

فَائِدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَبُو الْوَرْقَاءِ كُوفِيٌّ عِدَادُهُ فِي التَّابِعِينَ ، وَقَدْ رَأَيْتُ جَمَاعَةً مِنْ أَعْقَابِهِ ، وَهُوَ مُسْتَقِيمُ الْحَدِيثِ إِلَّا أَنَّ الشَّيْخَيْنِ لَمْ يُخَرِّجَا عَنْهُ ، وَإِنَّمَا جَعَلْتُ حَدِيثَهُ هَذَا شَاهِدًا لِمَا تَقَدَّمَ .

Rujuk al-Mustadrak. Maka, ini menunjukkan hatta di sisi al-Hakim sendiri, ianya tidak muktamad.

Adapun komen2 yang saya berikan ini sedikitpun tidak termasuk dalam menilai hadith ini atau memberi sebarang penilaian hukum tertentu terhadap kisah ini. Namun, ianya sekadar menilai komen-komen yang menilainya sebagai palsu, dengan beberapa ta'liqat. Ala kulli hal, saya bukanlah seorang naqid atau penilai sanad hadith sehingga layak memasuki gelanggang atau medan ini. Tetapi, selagimana tiada para nuqqad mutaqoddimin menilai kisah ini sebagai palsu, maka saya masih berpendirian ianya tidak sampai ke tahap palsu. Apatah lagi ianya diriwayatkan oleh beberapa imam hadith seperti al-Baihaqi, Ibn Abi al-Dunya dan sebagainya. Wallahu a'lam..

Hadith ini boleh dikatakan tidak menyalahi nas-nas syarak terutamanya dalam bab 'Uquq al-Walidain. Dalam hadith lain yang diriwayatkan oleh al-Hakim, alBaihaqi (Syu'ab), al-Bazzar dan sebagainya, Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ الذُّنُوبِ يُؤَخِّرُ الله مَا شَاءَ مِنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، إِلا عُقُوقَ الْوَالِدَيْنِ ، فَإِنَّ الله تَعَالَى يُعَجِّلُهُ لِصَاحِبِهِ فِي الْحَيَاةِ قَبْلَ الْمَمَاتِ

Setiap dosa itu boleh ditunda (seksanya) oleh Allah sebagaimana yang Dia kehendaki sehingga hari Kiamat, melainkan derhaka kepada kedua ibu bapa, maka Allah ta'ala akan mempercepatkan (seksanya) di dunia sebelum kematian.

Komen akhir berkenaan kisah Alqamah ini. Saya nukilkan kisah ini daripada al-Hafiz al-Imam al-Zahabi dalam kitab beliau al-Kaba'ir, walaupun dengan menggunakan lafaz tamridh, tetapi masih beliau meriwayatkannya. Maka, untuk mentohmah kisah ini sebagai palsu dan tidak boleh dikisahkan, apatah lagi menganggap perawinya dibelit oleh Iblis dan sebagainya, adalah tidak wajar. Wallahu a'lam.

حكي أنه كان في زمن النبي صلى الله عليه وسلم شاب يسمى علقمة وكان كثير الاجتهاد في طاعة الله في الصلاة والصوم والصدقة فمرض واشتد مرضه فأرسلت امرأته إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم إن زوجي علقمة في النزع فأردت أن أعلمك يا رسول الله بحاله فأرسل النبي صلى الله عليه وسلم عماراً وصهيباً وبلالاً وقال امضوا إليه ولقنوه الشهادة فمضوا إليه ودخلوا عليه فوجدوه في النزع فجعلوا يلقنونه " لا إله إلا الله " ولسانه لا ينطق بها فأرسلوا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم يخبرونه أنه لا ينطق لسانه بالشهادة فقال النبي صلى الله عليه وسلم: هل من أبويه أحد حي؟ قيل: يا رسول الله أم كبيرة السن فأرسل إليها رسول الله صلى الله عليه وسلم وقال للرسول قل لها إن قدرت على المسير إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وإلا فقري في المنزل حتى يأتيك قال: فجاء إليها الرسول فأخبرها بقول رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت: نفسي لنفسه فداء أنا أحق بإتيانه فتوكأت وقامت على عصا وأتت رسول الله صلى الله عليه وسلم فسلمت فرد عليها السلام وقال لها يا أم علقمة أصدقيني وإن كذبتي جاء الوحي من الله تعالى كيف كان حال ولدك علقمة قالت يا رسول الله كثير الصلاة كثير الصيام كثير الصدقة. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم فما حالك؟ قالت يا رسول الله أنا عليه ساخطة. قال ولم؟ قالت: يا رسول كان يؤثر علي زوجته ويعصيني فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " إن سخط أم علقمة حجب لسان علقمة عن الشهادة. ثم قال يا بلال انطلق واجمع لي حطباً كثيراً. قالت يا رسول الله وما تصنع قال: " أحرقه بالنار بين يديك " قالت: يا رسول الله ولدي لا يحتمل قلبي أن تحرقه بالنار بين يدي قال: يا أم علقمة عذاب الله أشد وأبقى فإن سرك أن يغفر الله له فارضي عنه فوالذي نفسي بيده لا ينتفع علقمة بصلاته ولا بصيامه ولا بصدقته ما دمت عليه ساخطة. فقالت: يا رسول الله إني أشهد الله تعالى وملائكته ومن حضرني من المسلمين أني قد رضيت عن ولدي علقمة. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: انطلق يا بلال إليه وانظر هل يستطيع أن يقول لا إله إلا الله أم لا؟ فلعل أم علقمة تكلمت بما ليس في قلبها حياء مني. فانطلق فسمع علقمة من داخل الدار يقول " لا إله إلا الله " فدخل بلال فقال: يا هؤلاء إن سخط أم علقمة حجب لسانه عن الشهادة وأن رضاها أطلق لسانه. ثم مات علقمة من يومه فحضره رسول الله صلى الله عليه وسلم فأمر بغسله وكفنه ثم صلى عليه وحضر دفنه ثم قام على شفير قبره وقال يا معشر المهاجرين والأنصار من فضل زوجته على أمه فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه صرفاً ولا عدلاً إلا أن يتوب إلى الله عز وجل ويحسن إليها ويطلب رضاها فرضى الله في رضاها وسخط الله في سخطها فنسأل الله أن يوفقنا لرضاه وأن يجنبنا سخطه إنه جواد كريم رؤوف رحيم


Rujuk : https://www.facebook.com/raja.ahmadmukhlis/posts/930474023684292
*

Hukum Liwat Isteri

*

"Terkutuklah lelaki yang melakukan hubungan seks dengan isterinya di duburnya." (HR Abu Dawud dan Imam Ahmad bin Hanbal dan dalam Shahih al-Jami '5 .889.)

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Ertinya : Allah tidak mahu melihat kepada laki-laki yang menyetubuhi laki-laki atau menyetubuhi wanita pada duburnya" (HR Tirmidzi : 1166, Nasa'i : 1456 dan Ibnu Hibban : 1456 dalam Shahihnya)

Sesiapa yang mendatangi para wanita pada dubur mereka, maka jadilah dia seorang kafir. (Hadith Riwayat al-Tabrani, al -Hafi? Nur al-dTn Ali b. Abi Bakr al-Haithaml, 1994, Majma' al-Zawiiz'd wa Mamba' al-Fawii'id, Kitiib al-Nikah, Bab fi man watl'Imraa 'h fi Duburiha, bil hadith : 7596, juzA, Beirut: Dar al-Fikri, P.549)

Di dalam Tafsir Ibnu Katsir Juz kedua bagi tafsir al-Baqarah: 223, saya memetik dua hadis yang menarik ini sebagai peringatan buat suami yang gemar mendatangi dubur isterinya iaitu:
حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى (مُحَمَّد بن المثنى بن عبيد بن قيس بن دينار العنزي أَبُو مُوسَى البصري الحافظ) ، ثنا عَبْدُ الصَّمَدِ ، ثنا هَمَّامٌ ، عَنْ قَتَادَةَ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ ، وَسُئِلَ عَنِ الَّذِي يَأْتِي امْرَأَتَهُ فِي دُبُرِهَا ، قَالَ : " تِلْكَ اللُّوطِيَّةُ الصُّغْرَى " . قُلْتُ : عَزَاهُ الشَّيْخُ جَمَالُ الدِّينِ إِلَى عِشْرَةِ النِّسَاءِ ، وَلَمْ أَرَهُ فِي الْمُجْتَبَى . قَالَ الْبَزَّارُ : لا أَعْلَمُ فِي هَذَا الْبَابِ حَدِيثًا صَحِيحًا

Telah menceritakan kepada kami Abu Musa, diceritakan Abd Shomad, diceritakan dari Hammam, dari Qatadah, dari Amr bin Syuaib, dari bapaknya (Syuaib bin Muhammad) dari datuknya (Abdullah bin Amr bin al-Ash), bahawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Mencampuri isteri di duburnya adalah homoseksual kecil”.

Katanya, Syeikh Jamaluddin sebagaimana di dalam Kitab 10 Wanita, ia tidak ada di dalam Kitab Mujtaba (Imam Nasa'i). Kata Bazzar, tidak diketahui di dalam bab ini hadis yang sahih. (Hadis Marfu’ Riwayat Imam Ahmad dan Baihaqi, dinilai tidak mengapa dengannya kerana terdapat Abu Musa (Muhammad bin Musanna bin Abid Al-Basri Al-Hafiz) seorang tsiqah tsabit pada Ibnu Hajar Asqolani, . Qatadah menceritakan, Uqbah bin Wasaj memberitahu dari Abu Darda’,
“dan tidaklah hal itu dilakukan kecuali oleh orang kafir”)

حَدَّثَنَا عَفَّانُ بن مسلم بن عبد الله الصفار أبو عثمان البصري ، حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ ، حَدَّثَنَا سُهَيْلٌ ، عَنِ الْحَارِثِ بْنِ مُخَلَّدٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ : " لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى رَجُلٍ جَامَعَ امْرَأَتَهُ فِي دُبُرِهَا

Telah menceritakan kepada kami Affan bin Muslim bin Abdullah As-Shafar Abu Utsman Al-Basri, Telah menceritakan kepada kami Suhail, dari Harits bin Mukhallad, dari Ibnu Abbas, bahawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Allah tidak akan melihat orang yang menyetubuhi seorang laki-laki atau isterinya pada bahagian dubur” (Hadis Gharib Riwayat Tirmizi dan Nasa’i serta Ibnu Majah dari jalan Muhammad bin Abd Malik bin Abi Syawarib. Imam Ahmad bin Hanbal berkata, Affan seorang mutsabbit yang telah dibuktikan,tidak mengapa kerana dia seorang yang shaduq. Dalam riwayat lain juga dari Abu Khalid Al-Ahmar dari Ad-Dhahak bin Utsman dari Makhramah bin Sulaiman dari Karib dari Ibnu Abbas.

Imam Tirmizi mengatakan hadis ini hasan gharib demikian juga Ibnu Hibban dan disahihkan Ibnu Hazm, perawinya mengikut syarat Imam Muslim tetapi tidak diriwayatkan oleh Muslim)

حَدَّثَنَا وكيع بن الجراح بن مليح الرؤاسي أَبُو سفيان الكوفي ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ، عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ ، عَنِ الْحَارِثِ بْنِ مَخْلَدٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَتَهُ فِي دُبُرِهَا

Telah menceritakan kepada kami Waki, Telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abi Solih, dari Harits bin Makhlad, dari Abi Hurairah berkata bahawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
“Terlaknat orang yang mencampuri isterinya di duburnya” (Hadis Marfu’ Riwayat Ahmad, Ibnu Majah melalui jalur Suhail dan Abu Daud serta an-Nasa’i dalam jalur Waki’ bin Jarah bin Malih Al-Kufi yang mana beliau dipuji oleh Imam Ahmad bin Hanbal kerana banyak hafazannya.

Dalam riwayat lain, mengatakan “(من أتى كاهناً فصدقه أو أتى امرأة في دبرها فقد كفر بما أُنزل على محمد)
Barang siapa yang mendatangi tukang ramal atau mendatangi isteri melalui duburnya, dia telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad” (hadis riwayat Abu Daud)


*

WAHABI adalah MUJASIMMAH

*



Mujassimah ialah orang yang mengatakan Allah ada JISIM, ada ANGGOTA TUBUH BADAN, seperti tangan, kaki, mata dll.

*

Sesiapa mengatakan Allah ada kaki, tangan, wajah, sebenarnya dia telah menjisimkan Allah Ta’ala, WALAUPUN dia kata kaki, tangan, wajah Allah tidak sama dengan kaki, tangan, wajah makhluk, WALAUPUN dia kata dia tidak bayangkan kaki, tangan, wajah Allah itu.

*

Imam Abu Jaafar ath-Thahawi berkata :

وَتَعَالىَ- أَيْ اللهُ- عَنِ اْلحُدُوْدِ وَاْلغَايَاتِ وَاْلأَرْكَانِ وَاْلأَعْضَاءِ وَاْلأَدَوَاتِ، لاَ تَحْوِيْهِ اْلجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ اْلمُبْتَدَعَاتِ

“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil mau pun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar maupun anggota badan yang kecil. Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan,kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.[Al-Aqidah ath-Thahawiyyah : 38]

*

Imam Abu Hanifah radiyallahu 'anhu : Allah adalah sesuatu yang tidak sama seperti sesuatu yang lain. Makna sesuatu itu adalah (Dia) wujud tanpa jisim, tanpa jauhar dan tanpa ardh. (Al Fiqh Al Akbar)

*

Imam Abu Al Fadhl Abdul Wahid bin Abdul aziz At Tamimi (410H) meriwayatkan : Imam Ahmad bin Hanbal mengingkari mereka yang menyifatkan Tuhan dengan kejisiman. Beliau (Imam Ahmad) berkata : Sesungguhnya, nama-nama diambil daripada syariat dan bahasa. Adapun ahli bahasa meletakkan nama tersebut (nama-nama yang boleh membawa kepada maksud jisim) dengan maksud, sesuatu yang ada ukuran, ketinggian, ukuran lebar, tersusun dengan beberapa anggota, mempunyai bentuk dan sebagainya. Sedangkan Maha Suci Allah daripada sebarang sifat kejisiman tersebut. (Manaqib Imam Ahmad karangan Imam al Baihaqi)

*

Imam Ibn Al-Batthal Al-Maliki berkata:

غرض البخاري في هذا الباب الرد على الجهمية المجسمة في تعلقها بهذه الظواهر، وقد تقرر أن الله ليس بجسم

فلا يحتاج إلى مكان يستقر فيه، فقد كان ولا مكان ، وانما أضاف المعارج إليه إضافة تشريف ، ومعنى الارتفاع إليه اعتلاؤه - أي تعاليه - مع تنزيهه عن المكان

Imam Al-Bukhari membentangkan bab ini dalam menolak golongan Jahmiyyah dan Mujassimah pada pergantungan mereka terhadap makna-makna zahir (mutasyabihat) tersebut. Maka, beliau (Imam Al-Bukhari) telah menetapkan bahawasanya Allah s.w.t. tidak berjisim dan tidak berhajat kepada tempat untuk menetap padanya. Allah s.w.t. telah wujud tanpa bertempat, maka Al-Ma'arij (naik) kepadaNya itu merupakan suatu nisbah kemuliaan.. [Bahjah An-Nufus 13/416]

*

Punca ini boleh berlaku ialah kerana KESILAPAN MEMAHAMI AYAT AL-QURAN dan HADIS YANG MUTASYABIHAT.

*

Dari Aisyah rodiallahuanha:

قَالَتْ قَالَ : رَسُوْلِ اللّه صَلَى اللّه عَلَيْهِ وَآلِهِ وصَحْبِه وَسَلَمْ ,إِذَاَ رَأَيْتُمْ الَذِيْنَ يَتْبَعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ, يعْنِيْ القُرْآنَ فَأُوْلَئِكا الَذِيْنَ سَمّى اللّٰه فاحذروهم.

Rasulullah salllahuaiahiwasallam bersabda, “Jika kamu menyaksikan orang-orang yang mengikut (MAKNA ZAHIR) ayat-ayat mutasyabihat, mereka inilah yang disebutkan oleh Allah (SESAT, dalam surah Al Imran ayat 7), maka waspadalah terhadap mereka”. (H.R Bukhari 4547 & Muslim 2665)

*

Al Imam Ahmad ar-Rifa'i (W. 578 H) dalam al Burhan al Mu-ayyad berkata:

وقال الإمام أحمد الرفاعي المتوفى سنة 578 هـ : "صونوا عقائدكم من التمسك بظاهر ما تشابه من الكتاب والسنة فإن ذلك من أصول الكفر"

"Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada MAKNA ZAHIR ayat al Qur'an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wasallam yang MUTASYABIHAT sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran".

*

Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitabn Al-Minhaj Al-Qowim Syarh Muqaddimah Al-Hadhromiyah: “Ketahuilah bahawa Al-Qorrofi dan selainnya telah menukilkan dari Imam Syafie, Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah rodhiyallahu ‘anhum bahawa mereka semua mengkafirkan mujassimah”.

*

Imam Imam Syafie berkata : Tidak boleh mengkafirkan seseorang pun dari ahli kiblat (Muslim) melainkan mujassim ( orang yang mengatakan Allah itu ada jisim) dan orang yang mengingkari ilmu Allah terhadap perkara-perkara juz'iyyat. (As Asybah wa An Nazho'ir m/s 488)

*

Contoh: https://www.youtube.com/watch?v=QYwP7pxu2wE


Wallahu A'lam.

Nikah Mut'ah

*

Dalam Mazhab Syafi'I, Imam Al-Syafi'I dalam kitabnya Al-Umm mengatakan, "Nikah mut'ah yang dilarang itu adalah semua nikah yang dibatasi dengan waktu, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, seperti ucapan seorang laki-laki kepada seorang perempuan, aku nikahi kamu selama satu hari, sepuluh hari atau satu bulan". Sementara itu Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu' mengatakan, "Nikah mut'ah tidak diperbolehkan, kerana pernikahan itu pada dasarnya adalah suatu aqad yang bersifat mutlaq, maka tidak sah apabila dibatasi dengan waktu."

Hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim menyatakan bahwa dari Sabrah bin Ma'bad Al-Juhani, dia berkata, "Kami bersama Rasulullah saw. Dalam suatu perjalanan haji. Pada suatu saat kami berjalan bersama saudara sepupu kami dan bertemu dengan seorang wanita. Jiwa muda kami mengagumi wanita tersebut, sementara dia mengagumi selimut (selendang) yang dipakai oleh saudaraku itu. Kemudian wanita tadi berkata, "Ada selimut seperti selimut.' Akhirnuya aku menikahinya dan tidur bersamanya satu malam. Keesokan harinya aku pergi ke Masjid Al-Haram, dan tiba-tiba aku melihat Nabi saw. sedang berpidato diantara pintu Ka'bah dan Hijr Ismail. Baginda bersabda, 'Wahai sekalian manusia, aku pernah mengizinkan kepada kalian untuk melakukan nikah mut'ah. Maka sekarang yang memiliki isteri dengan cara nikah mut'ah, hendaklah dia menceraikannya, dan segala sesuatu yang telah kalian berikan kepadanya janganlah kalian ambil lagi. Kerana Allah Azza wa Jalla telah mengharamkan nikah mut'ah sampai hari Qiamat." (Shahih Muslim II/1024).

Dalil hadits lainnya : Dari Ali bin Abi Thalib r.a. ia berkata kepada Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi saw. melarang nikah mut'ah dan memakan daging keledai jinak pada waktu Perang Khaibar. (Fath Al-Bari)


*

Yaqazah

*


"Suri" juga diistilahkan sebagai "Yaqazah" oleh para ulama'. Menurut Kamu Idris al-Marbawi[1] dan Dictionary Hans Wehr[2], Arti yaqazah menurut bahasa ialah jaga, ingat, sedar (bukan dalam keadaan mimpi), (yaqazah-yaqiza/yaquza)

Pengertian yaqazah di sisi ilmu tasawwuf pula ialah bertemu atau berjumpa dengan Rasulullah s.a.w. dalam keadaan jaga (bukan mimpi).

Anugerah yaqazah ini adalah daripada Allah yang tidak mustahil berlaku. Walaupun ia merupakan perkara yang bertentangan dengan adat kebiasaan (luar dari kebiasaan) pada logika manusia, namun ia masih dalam lingkungan mumkinat (harus) bagi Allah s.w.t. mengadakan atau tiadakannya.

Tidaklah mustahil penanugerahan ber-yaqazah juga merupakan antara karomah sejumlah para wali-Nya. Di antara prinsip dasar Aqidah Ahlussunah Wal Jama’ah adalah menyakini dan membenarkan adanya jenis-jenis perkara luar kebiasaan (khawariq lil-‘adah) yang boleh berlaku kepada golongan selain para rasul.

Antara dalil-dalil bagi mengemukan keharusan berlaku yaqazah adalah:

· Peristiwa Isra’ Mi’raj di mana Rasulullah s.a.w. dipertemukan dengan Nabi Musa a.s. (sedangkan Nabi Musa a.s. telah wafat lebih 600 tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad s.a.w.) sebagaimana ditafsirkan di dalam Al-Qur’an[4].

· Riwayat mengenai Nabi Muhammad s.a.w. bersembahyang berjemaah dengan para rasul di malam Isra’ sebelum Baginda s.a.w. dimi’rajkan[5]. Ibnu Arabi dalam kitabnya Fara’idul Fawa’id menulis: “Adalah harus (khususnya bagi wali Allah yang diberi karomah) untuk bertemu dengan zat Nabi baik rohnya atau jasadnya kerana Rasulullah seperti lain-lain nabi dan rasul, semuanya hidup bila mereka dikembalikan (kepada jasadnya) serta diizinkan oleh Allah keluar dari kuburnya”.

· Dipetik daripada Sahih al-Bukhari[6], حدثنا عبدان أخبرنا عبد الله عن يونس عن الزهري حدثني أبو سلمة أن أبا هريرة قال سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول من رأني في المنام فسير اني في اليقضة ولا يتمثل الشيطان بي Sesungguhnya Abu Hurairah r.a. berkata: “Aku dengar Nabi bersabda: “Sesiapa yang melihat aku di dalam mimpi, maka dia akan melihat aku di dalam yaqazah (keadaan jaga) dan shattan tidak boleh menyerupai diriku.”

Al-‘Allamah Al-Mufti Dr. Ali Jum’ah juga menjelaskan perihal hadis tersebut (Al-Bayan m/s161): “… Hadis tersebut menceritakan tentang kebolehan (keharusan) seseorang melihat Nabi s.a.w. secara yaqazah di semasa hidupnya di dunia…”

Lihatlah kitab ulama’ yang membahaskan mengenai masalah yaqazah:
· Imam Ibn Hajar dalam Fathul Bari iaitu syarah terhadap Sahih al-Bukhari.
· Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim.
· Imam Ibn Hajar Al-Haithami dalam buku fatwa beliau.
· Syeikh Yusuf an Nabhani di dalam Kitab Afdalul Salawat dan Kitab Sa’adah ad-Daraini.
· Imam al-Ghazali di dalam Kitab Al-Munziqu minal Dzalal.
· Imam Abdul Wahab Asy-Sy’arani di dalam Kitab Al-Mizan. Beliau meriwayatkan ucapan Imam Suyuthi, Imam Abu Hassan Asy-Syazili dan Imam Abu Abbas Al-Mursi mengenai pertemuan mereka dengan Rasulullah s.a.w. secara yaqazah (sedar terjaga).
· Husain Hasan Tomai pada bukunya bertajuk “Masalah Berjumpa Rasulullah Ketika Jaga Selepas Wafatnya”, Pustaka Aman Press Sdn. Bhd, Kota Bharu, Kelantan, 1989.
· Imam As-Suyuti di dalam kitab Tanwir Al-Halak fi Imkan Ru’yatu An-Nabi wa Al-Malak. Beliau berkata dalam “pendahuluan” pada m/s 10 percetakan Dar Jawamik Al-Kalim: “Telah banyak yang mempersoalkan mengenai sebahagian ahli rabbani yang melihat Nabi secara yaqazah ini. Adapun suatu golongan yang mengingkarinya pada zaman ini merupakan mereka yang tidak mempunyai latar belakang ilmu (yang cukup dalam bidang agama), sehingga menyebabkan mereka mengingkarinya dan berasa pelik mengenainya sehingga mendakwa bahawa ianya mustahil. Kini saya mengarang penulisan ini mengenai perbahasan tersebut…”

Rujukan:
[1]. Kamus Idris Al-Marbawi, karangan Sheikh Muhammad Idris Abdul Rauf al-Marbawi, Darul Nu’man, halaman 401.
[2]. Arabic-English Dictionary The Hans Wehr, edited by JM Cowan, 4th edition, halaman 1298. (awakening, waking, wakefulness, sleeplessness, vigilance, alertness, keenness of mind)
[3]. Rumusan daripada nota DPI Pergas-Kolej UNITI (modul DIA2113) bab Aqidah II halaman 41-45. [4]. Surah as-Sajadah: 23
[5]. Sila rujuk kepada artikel Isra’ Mi’raj di lelaman web kami (www.ahmadiah-idrisiah.com) untuk keterangan lanjut.
[6]. Matan yang serupa terdapat di dalam Sunan Abi Dawud namun berbeza sanad perawinya, yakni حدثنا أحمد بن صالح حدثنا عبد الله بن وهب قال أخبرني يو نس عن ابن شهاب قال أخبرني أبو سلمة بن عبد الر حمن أن أبا هريرة Juga, hadith serupa yang menjadi hujjah bagi membenarkan melihat Nabi di dalam mimpi terdapat di sisi Imam Muslim, Imam Tirmidziy, Imam Ibn Majah, Imam Ahmad, Imam Ad-Dairami.
[7]. Kitab ‘Fatwa’ jilid 2 bilangan 63 (1988), Pejabat Mufti, Kementerian Hal Ehwal Agama, Negara Brunei Darussalam pada 14 Jamadil Awal 1408H, 4 Januari 1988.
[8]. Kitab Al-Fawakih Ad-Diwani karangan Imam An-Nafrawi, jilid 3, m/s 360.
[9]. Buku yang diterjemah: Ilham, Kasyaf dan Mimpi daripada kitab Syaikh Al-Qaradhawi berjudul Mauqif al-Islam minal Ilham wal Kasyf war Ru’a wa minat Tama’imi Kahanah war Ruqa’, Maktabah Wahbah, 1415-H, Al-Qahirah Mishr.

Dipetik daripada laman web www.ahmadiah-idrisiah.com

*

Samiallahu liman hamidah atau Rabbana lakal hamdu

*

Imam Syafi'i menyatakan bahwa seorang yang mengerjakan solat, baik sebagai imam atau makmum atau solat bersendirian, ketika bangkit dari rukuk disunnahkan untuk mengucapkan "sami'allahu liman hamidah" dan setelah berdiri sempurna (i'tidal) disunnahkan untuk membaca "rabbana lakal hamdu".(Jalaluddin 'Abdurrahman Bin Abu Bakar As-Suyuthi, Al-Hawi Lil Fatawi, Darul Fikr, 1994, Juz.I, hal.41.).

Sumber: http://kyaijawab.com/index.php/post/53/Mengucapkan+samiallahu+liman+hamidah+atau+langsung+rabbana+lakal+hamdu

http://konsultasikitabkuning.blogspot.sg/2015/04/histori-samia-allahu-liman-hamidah-pada.html

https://haydaynet.blogspot.sg/2015/12/asal-usul-samiallahu-liman-hamidah.html

*

Doa Makan

*
*
Dari Ali bin Abi Thalib diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam Musnad imam Ahmad, dia berkata telah diceritakan pada aku oleh Abbas bin al-Walid, dia berkata telah diceritakan pada ku oleh Abdul Wahid bin Ziyad, dia berkata telah diceritakan padaku oleh Sa’id al-Jurairi dari Abi al-Ward dari Ibnu A’bud, dia berkata : “ Telah berkata pada ku Ali bin Abi Thalib :

يا ابن أعبد هل تدري ما حق الطعام ؟ قال : قلت : وما حقه يا ابن أبي طالب ؟ قال : تقول : باسم الله اللهم بارك لنا فيما رزقتنا ، قال : وتدري ما شكره إذا فرغت ؟ قال : قلت : وما شكره ؟ قال : تقول : الحمد لله الذي أطعمنا وسقانا

“ Wahai Ibna A’bud, apakah kamu tahu haknya makanan? Ia berkata, aku berkata : “ Apa hak makanan itu wahai putra Abu Thalib ? beliau menjawab : “ Hendaknya kamu ucapkan : Bismillah, Allahumma Baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa dst…”. (Musnad Ahmad : No. 1312)

Imam at-Tirmidzi menilainya hadits Hasan.
Takhrij hadits Ali bin Abi Thalib di atas sebagai berikut :

Sa’id al-Jurairi adalah Sa’id bin Iyas dinilai tsiqah, ia adalah ahli hadits dari Bashrah. Abu al-Ward adalah Ibnu Tsumamah bin Hazn al-Qusyairi, Ibnu Sa’ad mengatakan : “ Dia ma’ruf “. Dalam taqrib dikatakan : “ Dia maqbul (Dapat diterima) “. Ibnu A’bud, oleh Ali bin al-Madini dikatakan : “ Tidak ma’ruf, dan aku tidak mengenalnya selainnya “, akan tetapi imam Bukhari mengenalnya dan mengatakan dalam Tarikh al-Kabir : 4/430 : “ Ibnu A’bud meriwayatkan dari Ali “.

Melihat takhrij di atas, maka hadits di atas sanadnya bernilai Hasan sebagaimana dikatakan oleh syaikh Ahmad Syakir.

*

SALAWAT

*

Firman Allah Taala yang berbunyi;
إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bersalawat (memberi segala penghormatan dan kebaikan) kepada Nabi (Muhammad sallallahualaihi wasallam); wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya.” (Surah al-Ahzab ayat 56)

Disebutkan dalam kitab Imam al-Qurtubi di dalam Tafsirnya;إن معنى ذلك: أن الله يرحم النبي، وتدعو له ملائكته ويستغفرون،
“Sesunggunya makna (salawat Allah dan Malaikat kepada Nabi), bahawasanya ALLAH TAALA RAHMATI Nabi dan Malaikat mendoakan keampunan untuk Nabi...”

*

Popular Posts