اللهم صل على سيدنا محمد و على اله و صحبه و بارك و سلم
Allahumma inni 'a'u zubika min fitnatil masi khid dajjal - Ya ALLAH, aku pohon perlindungan MU daripada fitnah Dajjal..

Hukum Sedekah Kepada Bukan Islam

*

Firman Allah (maksudnya): “Tidaklah engkau diwajibkan (wahai Muhammad) menjadikan mereka (yang tidak beriman) mendapat petunjuk (kerana kewajipanmu hanya menyampaikan petunjuk), akan tetapi Allah jualah yang memberi petunjuk kepada sesiapa yang dikehendakiNya (menurut peraturanNya). Dan apa jua harta yang baik yang kamu belanjakan (pada jalan Allah) maka (pahalanya) adalah untuk diri kamu sendiri dan kamu pula tidaklah mendermakan sesuatu melainkan kerana menuntut keredaan Allah dan apa jua yang kamu dermakan dari harta yang baik, akan disempurnakan (balasan pahalanya) kepada kamu, dan (balasan baik) kamu (itu pula) tidak dikurangkan”. (Surah al-Baqarah ayat 272) 

Ibn Kathir mentafsirkan ayat di atas bahawa, pemberian sedekah boleh kepada sesiapa sahaja, sama ada muslim atau bukan muslim , orang soleh atau tidak, tetap mendapat pahala dari sisi Allah selagi tujuannya mencari keredhaan Allah. (Tafsir al-Quran al-‘Azim, 2/476, Saudi: Dar ‘Alam al-Kutub)

*

Iqamah

*

Hukum membaca IQAMAH sebelum melakukan sembahyang fardhu adalah SUNNAT.

Kalau buat dapat pahala.



*

Kelebihan Orang Fakir

*

Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: “Aku melihat ke dalam Syurga maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah fuqara’ (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam Neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penghuninya adalah wanita.” (HR Bukhari dan Muslim)

Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: “Orang fakir yang beriman akan masuk syurga mendahului orang kaya selama setengah hari (akhirat), iaitu 500 tahun (dunia).” (Hadis Sunan Ibni Majah No. 4122, Kitabul zuhdi )

*

Doa Untuk Nabi SAW

*

(Moga Allah membalas bagi pihak kami akan segala kebajikan yang  dilakukan oleh Junjungan Nabi Muhammad saw. dengan balasan yang selayaknya buat baginda)

"Sesiapa yang mengucapkan: Jazallahu `anna Muhammadam maa huwa ahluh, ia akan menyibukkan 70 malaikat pencatat amalan selama 1000 hari". (HR. Imam ath-Thabraani)

70 malaikat pencatat amalan akan sibuk mencatatkan kebaikan selama 1000 hari untuk orang yang mengucapkan doa tersebut.

Wallahu a'lam.

*

Bagai Genggam Bara Api

*
"Akan datang kepada umatku suatu zaman yang ketika itu orang yang berpegang kepada agamanya seperti menggenggam bara api." (HR. At-Tirmidzi)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam kitab al-Fitan wal Malahim, no. 4333 bahwa Rasulullah saw. bersabda ketika menafsirkan ayat “alaikum anfusakum” (QS. al-Maidah: 105): “Bahkan perintahkanlah oleh kamu sekalian untuk berbuat amar ma’ruf nahi mungkar, sehingga jika engkau telah melihat manusia bersifat lokek, hawa nafsu meliar, dunia diutamakan, dan setiap orang yang mempunyai pendapat,  telah bangga dengan pendapatnya sendiri, maka hendaklah kalian menjaga diri kalian sendiri dan meninggalkan orang-orang awam, kerana sungguh setelah itu akan ada hari-hari orang yang sabar ibarat menggenggam bara api. Orang yang beramal (pada zaman itu, akan mendapatkan pahala) seperti pahala lima puluh kali orang yang beramal di antara kalian.” Dalam riwayat lain ada tambahan, “Para shahabat ketika itu bertanya kepada Rasulullah, “Lima puluh kali kami atau mereka?” Rasulullah menegaskan, “lima puluh kali kamu sekalian (yakni para sahabat).”

Nabi SAW. bersabda, “Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran, kesabaran di hari itu seperti menggenggam bara api, bagi yang beramal pada waktu itu akan mendapatkan pahala lima puluh.” Seseorang bertanya: “Lima puluh dari mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “lima puluh kali kamu sekalian (yakni para sahabat).” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi lihat Silsilah Ash Shahihah no. 494)

Wallahu 'alam.

*

Dajjal

*

Rasulullah saw. bersabda, "Sungguh aku tahu apa yang ada bersama Dajjal, bersamanya ada dua sungai mengalir. Salah satunya secara mata kasar berupa air putih dan yang lainnya secara mata kasar berupa api yang bergejolak. Bila ada yang menjumpainya, hendaklah mendatangi sungai yang dia lihat berupa api dan hendaklah menutup mata, kemudian hendaklah menundukkan kepala lalu meminumnya kerana sesungguhnya itu adalah air dingin." (HR. Bukhari)

Rasulullah saw. bersabda, Sesungguhnya Dajjal itu adalah seorang laki-laki yang pendek, berkaki bengkok, berambut kerinting, buta sebelah matanya, di atas matanya ada kulit tebal, diantara kedua matanya tertulis KAFIR (KAF, FA, RA) yang boleh dibaca oleh setiap mukmin." (HR. Bukhari)

Rasulullah saw. bersabda, "Apabila kalian selesai dari tasyahud akhir, hendaklah memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara, iaitu; dari azab neraka Jahannam, dari siksa kubur, fitnah kehidupan dan kematian serta dari fitnah Dajjal." (HR. Bukhari)

Sabda Nabi saw, “ Sesiapa yang menghafal sepuluh ayat pertama surah Al-Kahfi maka dia akan selamat dari fitnah dajjal". (HR Muslim, Nasaei, Tirmizi, Abu Daud)

Wallahu a'lam.


*



Link pilihan:

Al Masih Ad Dajjal


Video - Surah Al-Kahfi Ayat 1-10


*



Tak diterima solat 40 hari

*

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Sesiapa yang datang kepada TUKANG TILIK, kemudian bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka TIDAK DITERIMA SOLATNYA selama 40 HARI". (HR. Muslim)

Wallahu a'lam.


*

Adab Khilafiah

*

Para Fuqaha telah menggunakan perkataan ikhtilaf dan khilaf dengan makna yang sama iaitu sesuatu yang tidak disepakati oleh para fuqaha dalam masalah-masalah ijtihadiyah. Terdapat lebih dari satu pendapat atau pandangan yang berbeza.

Adab dan sikap yang  dituntut atas perkara yang telah menjadi ikhtilaf atau khilaf ulama ialah :
- Dilarang mengkritik dan merendahkan pendapat yang dikemukakan.
- Dilarang berbantah-bantah dan dipanjangkan perdebatan.
- Tidak memandang salah atau ganjil terhadap pendapat yang dikemukakan.
- Menghormati pendapat ulama tersebut dan pengikut yang mengamalkannya.
- Berbaik sangka dengan pendapat yang dikemukakan.
- Berlapang dada dengan pendapat ulama tersebut dan pengikut yang mengamalkannya.

Wallahu a'lam.



Sumber:

http://nasronhashim.blogspot.com/2012/07/adab-adab-berbeza-pendapat-khilafiah.html
http://www.jais.gov.my/index.php?option=com_content&task=view&id=882&Itemid=1
http://onemas-jendelailmu.blogspot.com/2010/11/nasehat-kepada-yang-suka-melemparkan.html



*



Hukum Pukul Gendang Dalam Masjid

*

Hukum memainkan gendang di dalam masjid adalah perkara khilafiah, ada ulama' membolehkannya dan ada ulama' melarangnya. 

Adab dan sikap yang  dituntut atas perkara yang telah menjadi ikhtilaf atau khilaf ulama ialah :
- Dilarang mengkritik dan merendahkan pendapat yang dikemukakan.
- Dilarang berbantah-bantah dan dipanjangkan perdebatan.
- Tidak memandang salah atau ganjil terhadap pendapat yang dikemukakan.
- Menghormati pendapat ulama tersebut dan pengikut yang mengamalkannya.
- Berbaik sangka dengan pendapat yang dikemukakan.
- Berlapang dada dengan pendapat ulama tersebut dan pengikut yang mengamalkannya.

Wallahu 'alam.



Sumber:

https://www.facebook.com/abunawasmajdub/posts/259892924156560
http://www.aswj-rg.com/2014/04/menjawab-tuduhan-bidaah-qasidah-di-masjid.html
http://www.fikihkontemporer.com/2012/12/hukum-memainkan-rebana-didalam-masjid.html 
http://jomfaham.blogspot.com/2014/01/hukum-zikir-sambil-menari.html 




*

Benarkah kisah Nabi Ibrahim mencari Tuhan ?

*

Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah percaya dan yakin bahawa semua Nabi dan Rasul Allah seluruhnya, mustahil atas mereka itu kufur dan sesat, sebelum menjadi Nabi dan selepas menjadi Nabi.

Al ‘Allamah al Qadhi ‘Iyadh pula menyatakan dalam kitabnya al Syifa bi Ta’rif Huquq al Mustafa: “Apa yang pasti, para nabi adalah maksum sebelum dilantik menjadi nabi dan terhindar dari kejahilan tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, dan terpelihara daripada merasa ragu walau sedikitpun mengenai perkara ini.

l-Imam al-Mulla ‘Ali al-Qari al-Hanafi yang menyatakan: Dalam kitab Syarh al-’Aqa’id dinyatakan, bahwa para Nabi as. maksum dari perbuatan dusta, khususnya dalam kaitannya dengan urusan syariat, penyampaian hukum, dan bimbingan kepada umat. Mengenai maksum dari perkara tersebut yang dilakukan secara sengaja telah menjadi ijmak, adapun yang dilakukan karena lupa, menurut pendapat mayoritas tetap maksum. Soal kemaksuman mereka dari dosa-dosa yang lain dapat diperincikan, bahwa menurut ijmak mereka maksum dari kekufuran, sebelum dan setelah turunnya wahyu, begitu juga —menurut pendapat jumhur— maksum dari dosa besar yang dilakukan secara sengaja. Berbeda dengan pengikut Hasyawi. Namun, maksum darinya kerana lupa juga dibolehkan oleh kebanyakan ulama’. Soal dosa kecil, menurut jumhur boleh saja. (al-Imam al-Mulla ‘Ali al-Qari al-Hanafi, Syarh Kitab al-Fiqh al-Akbar, Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, cetakan I, 1995, hal. 104)


Wallahu a'lam.

Salah satu keistimewaan para Nabi dan Rasul adalah bahawa mereka sebagai manusia yang paling sempurna kejadian dan akhlaknya, paling tinggi ilmunya, paling mulia keturunannya, paling benar perkataannya, paling dapat dipercayai, dan mereka terhindar dari segala samada secara fisik mahupun rohani.

Para Nabi sentiasa mendapat pengawasan, pertolongan dan petunjuk daripada Allah SWT. Oleh itu mereka terhindar dari segala perbuatan dosa. Artinya, mereka tergolong “maksum “, tidak melakukan kesalahan dengan sengaja apalagi perbuatan dosa. - See more at: http://sejukkan-iman.blogspot.sg/2011/12/sifat-nabi-dan-rasul.html#sthash.Whk4AAOi.dpuf

Link pilihan:

http://setiawanhary.blogspot.com/2013/05/tafsir-al-anam-74-79-siapa-bilang.html

http://indonesiaindonesia.com/f/90318-nabi-ibrahim-pernah-mengalami-transisi-keimanan

http://annawrahnotes.wordpress.com/2013/07/08/para-pencari-tuhan/

http://jamaluddinab.blogspot.com/2011/02/taubat-si-jemaah-tabligh-3-nabi-ibrahim.html

http://alvianiqbal.wordpress.com/2009/04/24/meluruskan-kisah-nabi-ibrahim-2

http://www.academia.edu/5532066/Pemaknaan_QS_Al_Anam_Ayat_74-79

http://abu-syafiq.blogspot.com/2007/06/asri-hina-nabi.html

*



Hukum makmum mengangkat tangan ketika khatib berdoa khutbah Jumaat.

*
Petikan dari buku koleksi fatwa-fatwa Mufti Kerajaan Negeri Johor jilid 1 oleh al-Allamah Dato' Syed Alwi bin Tahir al-Haddad, halaman 68 - 69, terbitan Bahagian Penerbitan Jabatan Agama Johor, cetakan ke-3 (1981)

Perkara: Hukum menadah tangan ketika khutbah dibaca

Soal: Bagaimanakah caranya doa pada hari Jumaat pada khutbah yang kedua wajibkah bagi makmum menadah tangan amin.

Jawab: Tidak wajib dan tidak sunat.

Perkara: Menadah tangan kerana doa khatib

Soal: Waktu khatib di atas mimbar membaca khutbah maka apakala dibaca doa bagi sekelian muslimin bolehkah sekelian makmum itu menadah tangan mengatakan Amin kerana saya ada mendengar setengah daripada guru-guru berkata boleh dan setengah berkata tidak.

Jawab: Tidak sunat mengangkat tangan.

Wallahu a'lam.


*



Link pilihan:

Solat Jumaat

Hukum bercakap semasa imam khutbah Jumaat

Hukum puasa sunat pada hari Jumaat



*

Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China

*

« اطلبوا العلم ولو بالصين ، فإن طلب العلم فريضة على كل مسلم »

“ Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China, kerana sesungguhnya menuntut ilmu sangatlah wajib atas setiap orang muslim”.

Nash di atas adalah matan dari hadits dhoif tetapi diriwayatkan melalui banyak sanad, di antaranya Imam Baihaqi dalam kitab syi’bul iman. Ahli hadits menyatakan di antara perowi hadits tersebut adalah Abu ‘Atikah yang dikatakan oleh ulama’ hadits sebagai perowi dhoif, sehingga muncul banyak pendapat dalam menilai hadits ini sebagai hadits dhoif, bathil atau tidak bersanad. Namun demikian, menurut al-hafidh al-Mazi : kerana hadits ini memiliki banyak jalan (sanad), maka dari dhoif naik ke derajat hasan lighoirihi. Oleh kerana itu TIDAK BOLEH bagi kita mengatakan bahwa ia bukan hadits atau hadis palsu.

Wallahu 'alam. 



Sumber: 

http://forsansalaf.wordpress.com/2010/04/04/tuntutlah-ilmu-hingga-negeri-china

http://www.alhamidiyah.com/?v=fatwa&baca=20 

http://halaqah.net/v10/index.php?topic=14090.0 

http://abuzulfiqar.tripod.com/id84.html

*

Syurga di bawah kaki ibu

*

Seorang sahabat bernama Jahimah pernah datang menemui Nabi saw. lalu berkata: Wahai Rasulullah, aku ingin ikut berjihad, dan aku datang kepadamu untuk meminta pendapatmu. Nabi saw. bertanya, “Adakah engkau masih mempunyai ibu ?” Jahimah menjawab: "Ya, masih ada". Nabi saw. berkata, “Hendaklah engkau menjaganya kerana sesungguhnya syurga itu di bawah kakinya.” (HR. an-Nasa`i, sanadnya hasan)



*

Rob bij 'alni muqi mas solaah

*
Rob bij 'alni muqi mas solaa ti wa min zur ri yati, rob bana wa taqab bal doaa.


*

Arah Pandangan Mata Ketika Solat

*

Arah pandangan mata ketika solat di dalam mazhab Syafi`i :


Dinyatakan dalam "Fathul `Allam bi Syarhi Mursyidil Anaam" pada halaman 359 - 360, juzuk ke-2, sebagai berikut:-
"Di antara sunnat haiah dalam solat adalah memandang ke tempat sujud walaupun ketika solat di sisi Ka'bah. Berbeza dengan pendapat yang dipegang oleh Imam al-Mawardi dan orang yang mengikutinya yang berpendapat bahawa orang yang solat di sisi Ka`bah disunnatkan memandang kepada Ka'bah. Perbuatan memandang ke arah tempat sujud ini disunnatkan dalam seluruh solat tersebut daripada awal sehingga akhirnya melainkan ketika mengucapkan "illa Allah" dalam tasyahhud. Maka ketika itu, sunnat memandang kepada jari telunjuk yang diangkat walaupun ianya tertutup (yakni jari telunjuk tersebut terlindung di bawah kain seperti rida` yang digunakan oleh mushalli) berdasarkan kepada hadits yang shahih. Dan berkekalan memandang kepadanya selama ianya diangkat dan ianya (yakni jari telunjuk tadi) diangkat sehinggalah si mushalli berdiri untuk rakaat seterusnya dalam tasyahhud awwal dan sehingga si mushalli mengucapkan salam dalam tasyahhud akhir."

Habib Hasan bin Ahmad al-Kaaf hafizahullah dalam "at-Taqriirat as-Sadiidah" pada halaman 150 yang merupakan nukilan daripada ajaran guru beliau, al-Habib Zain Bin Sumait hafizahullah, menjelaskan bahawa antara sunnat haiah dalam solat adalah memandang ke tempat sujud walaupun ketika bersolat di belakang Ka'bah atau di belakang Junjungan Nabi SAW. Maka pandangan adalah di jatuhkan ke tempat sujud secara mutlak melainkan ketika mengucapkan "illa Allah", di mana pandangan dijatuhkan ke jari telunjuk sehinggalah salam.
  
Oleh itu, ketika solat, apa jua jenis solat, sunnat mata kita memandang ke arah tempat sujud pada setiap masa melainkan ketika menaikkan jari telunjuk tatkala mengucapkan "illa Allah"dalam tasyahhud. Ketika jari telunjuk diangkat maka pandangan mata kita sunnat diarahkan kepadanya sehinggalah ianya diturunkan ketika bangkit untuk ke rakaat ketiga atau ketika salam setelah tasyahhud akhir. Inilah pandangan yang dipegang oleh kebanyakan ulama kita termasuklah Imam Ibnu Hajar rahimahullah dan Imam Ramli rahimahullah.


Wallahu 'alam.


Sumber: http://bahrusshofa.blogspot.com/2013/04/tempat-jatuh-pandangan-mata.html

*




Link pilihan:

Jari Telunjuk Ketika Tahiyyat


*

Jahanamiyyun (Bekas Penghuni Neraka)

*

Dari Anas bahawa Nabi saw. bersabda, “Ada satu kaum yang akan keluar dari Neraka setelah dia dijilat oleh apinya, lalu setelah mereka masuk Syurga, para penghuni Syurga memanggil mereka Jahanamiyyun (bekas penghuni Jahanam)”. (HR. Bukhari)

Dari Imran bin Hashin bahawa Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya berkat syafaatku akan keluar dari Neraka satu kaum yang disebut Jahanamiyyun”. (HR. Tirmidzi)

Disebut di dalam hadis dari Jabir, “...Setelah orang-orang yang mendapat syafaat dikeluarkan dari Neraka, Allah Yang Maha Memberkati lagi Maha Tinggi berfirman, “Akulah Allah !. Aku mengeluarkan mereka kerana Ilmu dan Rahmat Ku”. Allah kemudiannya mengeluarkan mereka dalam jumlah yang berlipat ganda dan pada leher mereka tertulis, ‘Orang-orang yang dimerdekakan oleh Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung’. Mereka kemudian dimasukkan kedalam Syurga dan disana mereka diberi nama al-Jahanamiyyun”.

Diriwayatkan oleh Abu Muhammad alias Abdul Wahab atau lebih dikenali dengan panggilan Ibnu Rawahah, dari al- Hafiz as- Salafi, dari al-Hajib alias Abu Hasan Ibnu Allaf, dari Abu Qasim bin Busyran, dari al-Ajiri alias Abu Bakar Muhammad ibnu Husin, dari Abu Ali al-Hasan bin Muhammad bin Syu’bah al-Anshari, dari Ali bin Muslim ath-Thusi, dari Marwan bin Mu’awiyah, dari Amr bin Rifi’ah ar-Rab’i, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa’id al-Khudri bahawa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya penghuni Neraka dia ada yang kekal penghuni Neraka dimana mereka itu tidak mati dan tidak juga hidup didalamnya. Juga terdapat penghuninya yang akan dikeluarkan darinya, iaitu ketika mereka jatuh kedalamnya lalu menjadi rentung. Setelah mendapat Izin (Iradah) Allah, mereka lalu dikeluarkan dan dilemparkan kedalam sungai kehidupan. Para penghuni Syurga lalu menyiramkan air kepada mereka, sehingga mereka tumbuh (hidup). Setelah mereka masuk Syurga dan mendapat panggilan Jahanamiyyun, mereka memohon kepada Allah Yang Maha Penyayang untuk menghilangkan sebutan itu. Allah kemudian mengkabulkan permintaan mereka, lalu mereka bergabung dengan penduduk Syurga terdahulu. Ada pun sebutan ‘orang-orang yang saling mencintai kerana Allah’ adalah sebutan yang mulia dan luhur. Oleh kerana itu orang-orang yang mendapat sebutan itu tidak memohon kepada Allah untuk menghapuskan serta menghilangkannya”. 

Diriwayatkan oleh Abu Bakar al-Bazzari dalam kitabnya ‘Musnad al-Bazzari’, dari Abu Sa’id al-Khudri bahawa Nabi saw. bersabda, “Ada pun para penghuni Neraka yang memang menjadi penghuni tetapnya, mereka tidak mati dan juga tidak hidup didalamnya. Sedangkan orang-orang dikehendaki oleh Allah untuk dikeluarkan, mereka akan dimatikan terlebih dahulu oleh api Neraka, baru kemudian dikeluarkan darinya. Selanjutnya mereka akan dilemparkan ke dalam sungai kehidupan, Allah mengirimkan airnya kepada mereka sehingga mereka muncul seperti munculnya biji dalam endapan yang dibawa oleh aliran. Mereka lalu masuk Syurga dan diberi nama JAHANAMIYYUN atau bekas/mantan penduduk jahanam oleh para penghuni Syurga. Kemudian mereka memohon kepada Allah untuk dihilangkan sebutan itu dari mereka dan Allah pun mengabulkannya”.  



Wallahu 'alam.




Link pilihan:

Orang Islam Tidak Kekal Dalam Neraka 

Syafa'at Nabi Muhammad SAW 

Nabi Membawa Rahmat

Kelebihan Berselawat


*

Syafaat Nabi Muhammad SAW.

*

Dari Anas bin Malik r.a., katanya: Rasulullah s.a.w., bersabda: "Allah akan menghimpunkan sekalian manusia pada hari qiamat, maka dengan sebab dahsyatnya keadaan di situ, mereka merasa berat dan resah gelisah lalu mereka diilhamkan jalan untuk melepaskan diri dari yang demikian. Mereka pun berkata sesama sendiri: "Bukankah elok kalau kita mencari orang yang dapat mengemukakan syafaat kepada Tuhan kita supaya Tuhan melepaskan kita dari penderitaan tempat ini?" Nabi s.a.w., bersabda: "Setelah itu, mereka pun pergi menemui Nabi Adam a.s., serta berkata: Engkau ialah bapa sekalian manusia, Allah telah menciptakanmu dengan kekuasaanNya dan meniupkan padamu dan roh-Nya, serta ia memerintahkan Malaikat sujud kepadamu; tolonglah kemukakan syafaat kepada Tuhamu untuk kami supaya ia melepaskan kami dari penderitaan tempat ini". Mendengarkan yang demikian, Nabi Adam berkata: "Aku bukanlah orang yang berpangkat boleh menunaikan maksud kamu", (dan pada satu riwayat, Nabi Adam berkata: "Aku bukanlah orang yang layak untuk itu), serta ia menyebut salah silapnya yang pernah dilakukan, dengan sebab itu ia merasa malu kepada Tuhannya; tetapi, kata Nabi Adam: "Pergilah kamu menemui Nabi Noh, Rasul yang pertama yang telah diutus oleh Allah Taala'."Nabi s.a.w., bersabda: "Setelah itu mereka pun pergi menemui Nabi Noh a.s., maka Nabi Noh menjawab dengan katanya: "Aku bukanlah orang yang berpangkat boleh menunaikan maksud kamu itu", (pada satu riwayat, Nabi Noh berkata: "Aku bukanlah orang yang layak untuk itu"), serta ia menyebut salah-silapnya yang pernah dilakukan, dengan sebab itu ia merasa malu kepada Tuhannya: Tetapi, kata Nabi Noh, "Pergilah kamu menemui Nabi Ibrahim yang Allah telah jadikan dia orang yang berdamping di sisi-Nya." Nabi s.a.w, bersabda: "Setelah itu merekapun pergi menemui Nabi Ibrahim a.s., maka Nabi Ibrahim menjawab dengan katanya: "Aku bukanlah orang yang berpangkat boleh menunaikan maksud kamu itu, (dan pada satu riwayat: Nabi Ibrahim berkata: "Aku bukanlah orang yang layak untuk itu"), serta ia menyebut salah silapnya yang pernah dilakukan, dengan sebab itu ia merasa malu kepada Tuhannya; Tetapi, kata Nabi Ibrahim: "Pergilah kamu menemui Nabi Musa a.s., yang Allah berkata-kata dengannya serta memberikannya kitab Taurat. " Nabi s.a.w., bersabda: "Setelah itu mereka pun pergi menemui Nabi Musa a.s., maka Nabi Musa menjawab dengan katanya: "Aku bukanlah orang yang berpangkat boleh menunaikan maksud kamu itu, (dan pada satu riwayat: Nabi Musa berkata: Aku bukanlah orang yang layak untuk itu), serta ia menyebut salah silapnya yang pernah dilakukan, dengan sebab itu ia merasa malu kepada Tuhannya, Tetapi, kata Nabi Musa: "Pergilah kamu menemui Nabi Isa a.s., Roh Allah dan kalimah-Nya." Nabi s.a.w., bersabda: "Setelah itu mereka pun pergi menemui Nabi Isa Roh Allah dan kalimah-Nya, maka Nabi Isa menjawab dengan katanya: "Aku bukanlah orang yang berpangkat boleh menunaikan maksud kamu itu", (dan pada satu riwayat: Nabi Isa berkata: "Aku bukanlah orang yang layak untuk itu"), Tetapi kata Nabi Isa, "Pergilah kamu menemui Nabi Muhammad s.a.w. , seorang hamba Allah yang telah diampunkan salah silapnya yang terdahulu dan yang terkemudian." Kata rawi: Rasulullah s.a.w., bersabda: "Setelah itu mereka pun datang menemuiku, aku pun memohon izin mengadap Tuhanku, lalu diizinkan"; (dan pada satu riwayat: Baginda s.a.w., bersabda: "Setelah itu mereka datang menemuiku, aku pun berkata: "Akulah orang yang layak untuk itu, akulah orang yang layak untuk itu" maka aku pun pergi serta memohon izin mengadap Tuhanku, lalu diizinkan), maka apabila aku mengadap-Nya, aku merebahkan diri sujud, lalu dibiarkan-Nya aku sujud seberapa lama yang Allah kehendaki, kemudian diserukan daku: Wahai Muhammad! angkatlah kepalamu, dan berkatalah apa sahaja hajatmu supaya diperkenankan, mintalah supaya diberikan, dan kemukakan syafaat supaya dikabulkan syafaatmu; maka aku pun mengangkat kepalaku serta memuji Tuhanku dengan Puji-pujian yang diajarkan kepada aku oleh Tuhanku `Azza wa Jalla; kemudian aku kemukakan syafaatku;" (dan pada satu riwayat: Baginda s.a.w., bersabda: "Lalu diizinkan daku mengadapnya, maka aku pun berdiri mengadapnya serta memujinya dengan puji-pujian yang aku tidak dapat menyebutnya sekarang, yang Allah mengilhamkannya kepadaku, kemudian aku menumuskan muka sujud kepadanya hingga aku diseru: "Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu dan berkatalah apa sahaja nescaya diperkenankan, mintalah supaya diberikan dan kemukakanlah syafaat supaya dikabulkan syafaatmu; Maka aku pun merayu dengan berkata: "Wahai Tuhanku! Kasihanilah umatku! Kasihanilah umatku!), (dan pada satu riwayat lagi: Baginda bersabda: "Maka aku pun mengangkat kepalaku serta memohon dengan berkata: "Wahai Tuhanku! Segerakanlah apalah kiranya, perbicaraan hitungan amal khalayak yang ramai ini. (Al-Jama'ah)

Syafaat yang tersebut dalam hadis yang panjang di atas ialah yang dinamakan "al-Syafaah al-Uzma" (Syafaat yang terbesar) yang dikhaskan untuk Nabi Muhammad s.a.w. sahaja mengemukakannya ke hadhrat Allah 'Azza wa Jalla. Syafaat ini juga dikatakan syafaat umum, untuk seluruh makhluk yang berada di Padang Mahsyar, samada mereka itu mukmin atau pun kafir. Syafaat untuk memohon kepada Allah untuk dipercepatkan hisab (perbicaraan hitungan amal).

Para Ulama berbeza pendapat berkenaan berapa peringkat atau berapa jenis syafaat Nabi Muhammad s.a.w.

Menurut an-Nuqqasy, ada tiga peringkat syafaat yang diberi kepada Rasulullah:
Pertama ialah syafaat umum, memohon kepada Allah untuk dipercepatkan hisab (perbicaraan hitungan amal).
Kedua, ialah syafaat mempercepatkan orang-orang Islam masuk ke dalam Syurga.
Ketiga ialah syafaat bagi menyelamatkan orang-orang Islam yang melakukan dosa-dosa besar.

Menurut Ibnu Athiyah di dalam tafsirnya, syafaat baginda ada dua peringkat sahaja. Pendapat ini paling terkenal dan diperakui oleh banyak ulama-ulama tafsir. Iaitu syafaat umum tadi dan syafaat mengeluarkan orang-orang yang berdosa dari dalam Neraka.

Manakala menurut al-Qadhi Iyadh, "Syafaat Nabi Muhammad saw pada hari kiamat kelak ada lima peringkat (jenis) :
Pertama, syafaat yang bersifat umum.
Kedua, syafaat memasukkan sesuatu kaum ke dalam Syurga tanpa hisab.
Ketiga, syafaat baginda untuk melepaskan sesuatu kaum dari umatnya yang seharusnya dimasukkan kedalam Neraka kerana dosa-dosanya, kemudian dilepaskan dan dimasukkan pula kedalam Syurga.
Keempat, syafaat baginda kepada orang-orang berdosa yang telah dimasukkan ke dalam Neraka dan kemudiannya dikeluarkan dan dimasukkan kedalam Syurga. Syafaat ini juga dimiliki oleh Nabi-nabi lain, para Malaikat dan sesetengah manusia pilihan.
Kelima,syafaat baginda untuk menaikkan dan meninggikan martabat dan darjat kepada penghuni-penghuni Syurga (yang terpilih).
Kemudian menurut Imam al-Qurthubi, terdapat satu lagi syafaat iaitu yang keenam. Ia adalah syafaat untuk bapa saudaranya Abu Talib supaya seksaannya diringankan.

*

Dari Imran bin Hashin bahawa Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya berkat syafaatku akan keluar dari Neraka satu kaum yang disebut Jahanamiyyun”. (HR. Tirmidzi)

Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda, "Seutama-utama manusia bagiku pada hari kiamat ialah orang yang terbanyak berselawat pada aku, yakni lebih diutamakan untuk memperoleh syafaat dan dapat kedudukan yang terdekat denganku". (HR. Termidzi)

Sabda Nabi saw. "Setiap nabi-nabi ada doa yang dimakbulkan Tuhan. Maka semua nabi-nabi itu bersegera mengajukan permohonannya. Tetapi saya menyimpan doa saya itu untuk memberi syafaat kepada umatku di hari kiamat nanti. Dan ia akan dicapai insya-Allah oleh orang yang mati tanpa mempersekutukan Allah." (HR. Imam Muslim)

Dari Abu Hurairah bahawa dia telah bertanya kepada baginda Rasulullah, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagia dengan syafaatmu pada hari kiamat nanti ?". Baginda bersabda, "Telah aku duga sebelum ini wahai Abu Hurairah, kamulah orang pertama yang akan bertanya soalan ini kepadaku kerana ingatan kamu yang sangat besar kepada hadis-hadisku. Orang yang paling bahagia dengan syafaatku dihari kiamat kelak ialah orang yang membaca Laa ilaa ha il lallah dengan ikhlas dari batinnya ". (HR. Bukhari)

Dari Zaid bin Arqam bahawa Nabi saw. bersabda, "Sesiapa membaca 'Laa ilaa ha il lallah' dengan ikhlas, maka dia akan masuk syurga". Seorang sahabat bertanya, "Apa yang membuktikan keikhlasan ?". Baginda menjawab, "Jika apa yang diucapkan itu boleh mencegahnya dari semua perkara yang diharamkan Allah". (Diriwayatkan oleh Tirmidzi al-Hakim di dalam kitabnya Nawadir al-Usul)


Wallahu 'alam.


Sumber: http://kubranewszamany.blogspot.com



Link pilihan:


Jahanamiyyun

Nabi Pembawa Rahmat

Kelebihan Berselawat





*

Popular Posts