"Tiap-tiap diri akan merasai mati. Sesungguhnya akan disempurnakan pahala kamu pada hari kiamat. Sesiapa yang TERSELAMAT DARI NERAKA dan dimasukkan ke dalam syurga, sesungguhnya BERJAYA lah dia, dan ingatlah bahawa kehidupan di dunia ini hanyalah kesenangan yang memperdaya." (Ali Imran : 185)

Isu Kalimah ALLAH

*
Sila lihat gambar dibawah, bible terjemahan Melayu yang dinamakan al-kitab.




Ia ada mengatakan: Allah sangat mengasihi orang di dunia ini sehingga Dia memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada Anak itu tidak binasa tetapi beroleh hidup sejati dan kekal. Allah mengutuskan anak-Nya ke dunia ini bukan untuk menghakimi dunia, tetapi untuk menyelamatkannya.

Apabila di dalam Bible terjemahan Melayu itu mengatakan ALLAH mempunyai anak, maka ini SANGAT BERSALAHAN dengan fahaman Islam.

Fahaman Islam mengatakan Allah tidak mempunyai anak dan tidak diperanakkan.

Apabila perkataan God di dalam bible diterjemahkan kepada perkataan ALLAH maka ia telah memberi maksud yang sangat bertentangan dan menyelewang dari fahaman Islam.



Saya MEMBANTAH penggunaan kalimah ALLAH yang sebegini. 

Bible berbahasa English ditulis perkataan God, bukan perkataan Allah. 

Terjemahan God ke bahasa Melayu ialah Tuhan.

Kenapa di Malaysia mereka tidak terjemah perkataan God kepada Tuhan ?

Kenapa di Malaysia mereka tukar perkataan God kepada kalimah ALLAH ?

Klik -> Bukti niat jahat mereka !


*

Azab Terelak

*
Anas ra. berkata, Nabi shallaAllahu `alaihi wa sallam bersabda,  Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku merencanakan azab dan seksa bagi penghuni bumi namun bila Aku melihat kepada mereka yang memakmurkan masjid dan mereka yang beristighfar di waktu fajar, Aku elakkan azab yang Ku rencanakan itu." (HR Baihaqi) 


*

Kelebihan Surah Yasin

*
Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari, maka pagi harinya dia diampuni oleh Allah. Sesiapa yang membaca surat ad-Dukhan, maka dia diampuni oleh Allah." (HR Abu Ya'la). Menurut al-Hafidz Ibn Katsir, hadits ini sanadnya jayyid (shahih). Komentar Ibn Katsir ini juga dikutip dan diakui oleh al-Imam asy-Syaukani dalam tafsimya Fath al-Qadir, bahwa sanad hadits tersebut jayyid, alias shahih.

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari kerana mencari redha Allah, maka Allah akan mengampuninya." (HR. Ibn Hibban dalam Shahihnya). Hadits ini dishahihkan oleh al-Imam Ibn Hibban dan diakui oleh al-Hafidz Ibn Katsir dalam Tafsirnya, al- Hafidz Jalahiddin as-Suyuthi dalam Tadrib ar-Rawi, dan al-Imam asy-Syaukani dalam tafsir Fath al-Qadir dan al-Fawaid al-Majmu’ah.

Asy-Syaukani berkata dalam al-Fawaid al- Majmu’ah sebagai berikut: "Hadits, "Sesiapa membaca surat Yasin kerana mencari redha Allah, maka Allah akan mengampuninya, diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Abu Humairah secara marfu’ dan sanadnya sesuai dengan kriteria hadits shahih. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dan al-Khathib. Sehingga tidak ada alasan merryebut hadits tersebut dalam kitab-kitab al-Maudhu’at (tidak benar menganggapnya sebagai hadits maudhu’)." (Asy-Syaukani, al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah halaman 302-303).

Ibn Hibban dalam kitab sahihnya meriwayatkan hadith Jundab bin AbdiLLah, RasuluLlah sallaLLahu 'alaihi wasallam bersabda yang bererti: "Surah al Baqarah adalah tulang belakang al Quran, ia diturunkan oleh lapan puluh malaikat dengan membawa satu persatu ayat. Sedangkan ayat kursi diturunkan dari bawah Arsy'. kemudian ia dikumpulkan dengan ayat-ayat surah al Baqarah. Surah Yasin pula adalah hati al Quran, tidak ada orang yang membacanya dengan mengharap redha Allah dan pahala akhirat melainkan dia akan mendapat ampunan dari-Nya. Bacalah surah Yasin untuk saudara-saudara kamu yang telah meninggal dunia." (Ditakhrij oleh Ibn Hibban di dalam Kitab Sahihnya pada bab Fadhilat Surah al Baqarah. Demikian juga al Haithami meriwayatkannya di dalam kitab Mawarid al Dzam'an, (jilid V, h 397).

Imam Ahmad juga meriwayatkannya di dalam al Musnad dari Ma'qal bin Yasar (jilid v h 26). Al Haithami mengulas hadith tersebut di dalam kitab Majma' al Zawaid, "Hadith tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad, di dalamnya ada salah seorang perawi yang tidak disebut namanya, bagaimanapun perawi perawi lainnya adalah sahih (jilid VI h 311)

Daripada Anas RadiyaLlahu 'anhu: Sabda Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam:  "Sesungguhnya bagi tiap-tiap sesuatu itu ada jantung (hati), dan jantung (hati) al Quran ialah surah Yasin. Dan sesiapa yang membaca surah Yasin, akan dituliskan Allah baginya dengan membacanya pahala seumpama membaca al Quran sepuluh kali." (HR. at-Tirmizi dan ad-Darimi)

Menurut Imam at Tirmizi darjat hadith ini adalah hasan gharib. Ia telah diriwayatkan oleh lima orang sahabat radiyaLlahu anhum iaitu Abu Bakar as Siddiq, Anas r.a, Abu Hurairah r.a, Ubay bin Kaab r.a dan Ibn Abbas radiyallahu anhuma. Maka dari segi istilah ia bilangan yang cukup menjadi hadith mahsyur. (Rujuk Majalah Q & A Bil 3, m/s 76-77. Dijelaskan oleh Ustaz Mohd Khafidz Bin Soroni (Jabatan Hadith KUIS))

Imam as-Sayuthi dalam kitabnya "Khushushiyyaat Yawmil Jumu`ah" menulis:- Imam al-Baihaqi dalam kitab "asy-Syu`ab" telah mentakhrijkan daripada Abu Hurairah r.a., katanya:- Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:- "MAN QARA-A LAILATAL JUMU`ATI HAAMIIM AD-DUKHAAN WA YAASIIN ASHBAHA MAGHFURAN LAHU (Sesiapa yang membaca pada malam Jumaat surah ad-Dukhan dan surah Yasin, maka berpagi-pagilah dia dalam keadaan terampun)".

Al-Ashbihani meriwayatkan dengan lafaz:- "MAN QARA-A YAASIIN FI LAILATIL JUMU`ATI GHUFIRA LAHU ( Sesiapa yang membaca surah Yasin pada malam Jumaat, nescaya diampunkan baginya).


Berkaitan dengan membaca al-Qur'an atau zikir secara berjamaah atau beramai-ramai, al-Imam asy-Syaukani telah menegaskan dalam kitabnya, al-Fath ar-Rabbai fi Fatawa al-Imam asy-Syaukani sebagai berikut: “Ini adalah himpunan ayat-ayat al-Qur'an ketika melihat pertanyaan ini. Dalam ayat-ayat tersebut tidak ada pembatasan zikir dengan cara mengeraskan atau memperlahankan, meninggikan atau merendahkan suara, bersama-sama atau sendirian. Jadi ayat-ayat tersebut memberi pengertian anjuran zikir dengan semua cara tersebut.” (Syaikh asy-Syaukani, Risalah al-Ijtima’ ‘ala adz-Dzikir wa al-Jahr bihi, dalam kitab beliau al-Fath ar-Rabbani min Fatawa al-Imam asy-Syaukani halaman no. 5945).

Pernyataan asy-Syaukani di atas, adalah pernyataan seorang ulama yang mengerti al-Qur'an, hadits dan metode pengambilan hukum dari al-Qur'an dan hadits. Berdasarkan pernyataan asy-Syaukani di atas, membaca al-Qur'an bersama-sama tidak ada masalah, bahkan dianjurkan sesuai dengan ayat-ayat al-Qur’an yang menganjurkan kita memperbanyak zikir kepada Allah.

Wallahu 'alam.




Sumber:

https://www.facebook.com/IslamicMotivationIndonesia/posts/659391567447300

http://jomfaham.blogspot.sg/2012/03/buku-40-hadith-popular-palsu-yang-palsu.html

https://www.facebook.com/notes/kami-tidak-mahu-fahaman-wahhabi-di-malaysia/soal-jawab-hadith-surah-yasin-sebagai-jantung-hati-al-quran/225335527531596

http://bahrusshofa.blogspot.com/2006/08/membaca-yaasiin-malam-jumaat.html

Hukum Membaca Yasin dan tahlil secara berjamaah


*

Hukum Sebut Sayyidina

*

Fuqaha' Syafi'iyah berpendapat sunat menyebut sayyidina ketika berselawat atas alasan penghormatan dan adab.

Imam Asnawi di dalam kitab Al-Muhimmaat mengemukakan ucapan Syeikh Izzud-din bin Abdus-salam, dia berkata : “Pada prinsipnya pembacaan selawat di dalam tasyahhud itu hendaklah ditambah dengan lafaz “sayyidina”, demi mengikuti adab dan menjalankan perintah. Atas yang pertama hukumnya mustahab (sunat).

Dengan demikian di dalam membaca shalawat boleh bagi kita mengucapkan “Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad”, meskipun tidak ada pada lafazh-lafazh shalawat yang diajarkan oleh Nabi (ash-Shalawat al Ma'tsurah) dengan penambahan kata “Sayyid”. Karena menyusun dzikir tertentu yang tidak ma'tsur boleh selama tidak bertentangan dengan yang ma'tsur. 

Sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menambah lafazh talbiyah dari yang sudah diajarkan oleh Rasulullah. Lafazh talbiyah yang diajarkan oleh Nabi adalah:

لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ
Namun kemudian sabahat Umar ibn al-Khaththab menambahkannya. Dalam bacaan beliau:

لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ ، وَالْخَيْرُ فِيْ يَدَيْكَ، وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ
Dalil lainnya adalah dari sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar bahwa beliau membuat kalimat tambahan pada Tasyahhud di dalamnya shalatnya. Kalimat Tasyahhud dalam shalat yang diajarkan Rasulullah adalah “Asyhadu An La Ilaha Illah, Wa Asyhadu Anna Muhammad Rasulullah”. Namun kemudian ‘Abdullah ibn ‘Umar menambahkan Tasyahhud pertamanya menjadi:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
Tambahan kalimat “Wahdahu La Syarika Lah” sengaja diucapkan oleh beliau. Bahkan tentang ini ‘Abdullah ibn ‘Umar berkata: “Wa Ana Zidtuha...”. Artinya: “Saya sendiri yang menambahkan kalimat “Wahdahu La Syarika Lah”. (HR Abu Dawud)


Dalam sebuah hadits shahih, Imam al-Bukhari meriwayatkan dari sahabat Rifa'ah ibn Rafi', bahwa ia (Rifa'ah ibn Rafi’) berkata: “Suatu hari kami shalat berjama'ah di belakang Rasulullah. Ketika beliau mengangkat kepala setelah ruku' beliau membaca: “Sami’allahu Liman Hamidah”, tiba-tiba salah seorang makmum berkata:
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

Setelah selesai shalat Rasulullah bertanya: “Siapakah tadi yang mengatakan kalimat-kalimat itu?". Orang yang yang dimaksud menjawab: “Saya Wahai Rasulullah...”. Lalu Rasulullah berkata:
رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِيْنَ مَلَكًا يَبْتَدِرُوْنَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلَ
“Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berlomba untuk menjadi yang pertama mencatatnya”.


al-Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Fath al-Bari, dalam menjelaskan hadits sahabat Rifa’ah ibn Rafi ini menuliskan sebagai berikut: “Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan kepada beberapa perkara. Pertama; Menunjukan kebolehan menyusun dzikir yang tidak ma'tsur di dalam shalat selama tidak menyalahi yang ma'tsur. Dua; Boleh mengeraskan suara dzikir selama tidak mengganggu orang lain di dekatnya. Tiga; Bahwa orang yang bersin di dalam shalat diperbolehkan baginya mengucapkan “al-Hamdulillah” tanpa adanya hukum makruh” (Fath al-Bari, j. 2, h. 287).

Dengan demikian boleh hukumnya dan tidak ada masalah sama sekali di dalam bacaan shalawat menambahkan kata “Sayyidina”, baik dibaca di luar shalat maupun di dalam shalat. Karena tambahan kata “Sayyidina” ini adalah tambahan yang sesuai dengan dasar syari’at, dan sama sekali tidak bertentangan dengannya.

Asy-Syaikh al’Allamah Ibn Hajar al-Haitami dalam kitab al-Minhaj al-Qawim, halaman 160, menuliskan sebagai berikut:

وَلاَ بَأْسَ بِزِيَادَةِ سَيِّدِنَا قَبْلَ مُحَمَّدٍ، وَخَبَرُ"لاَ تُسَيِّدُوْنِي فِيْ الصَّلاَةِ" ضَعِيْفٌ بَلْ لاَ أَصْلَ لَهُ
“Dan tidak mengapa menambahkan kata “Sayyidina” sebelum Muhammad. Sedangkan hadits yang berbunyi “La Tusyyiduni Fi ash-Shalat” adalah hadits dha'if bahkan tidak memiliki dasar (hadits maudlu/palsu)”.


Di antara hal yang menunjukan bahwa hadits “La Tusayyiduni Fi ash-Shalat” sebagai hadits palsu (Maudlu’) adalah karena di dalam hadits ini terdapat kaedah kebahasaan yang salah (al-Lahn). Artinya, terdapat kalimat yang ditinjau dari gramatika bahasa Arab adalah sesuatu yang aneh dan asing. Yaitu pada kata “Tusayyiduni”. Di dalam bahasa Arab, dasar kata “Sayyid” adalah berasal dari kata “Saada, Yasuudu”, bukan “Saada, Yasiidu”. Dengan demikian bentuk fi’il Muta'addi (kata kerja yang membutuhkan kepada objek) dari “Saada, Yasuudu” ini adalah “Sawwada, Yusawwidu”, dan bukan “Sayyada, Yusayyidu”. Dengan demikian, -seandainya hadits di atas benar adanya-, maka bukan dengan kata “La Tasayyiduni”, tapi harus dengan kata “La Tusawwiduni”. Inilah yang dimaksud dengan al-Lahn. Sudah barang tentu Rasulullah tidak akan pernah mengucapkan al-Lahn semacam ini, karena beliau adalah seorang Arab yang sangat fasih (Afshah al-‘Arab).

Bahkan dalam pendapat sebagian ulama, mengucapkan kata “Sayyidina” di depan nama Rasulullah, baik di dalam shalat maupun di luar shalat lebih utama dari pada tidak memakainya. Karena tambahan kata tersebut termasuk penghormatan dan adab terhadap Rasulullah. Dan pendapat ini dinilai sebagai pendapat mu’tamad.

Asy-Syaikh al-‘Allamah al-Bajuri dalam kitab Hasyiah al-Bajuri, menuliskan sebagai berikut:
الأوْلَى ذِكْرُ السِّيَادَةِ لأَنّ الأفْضَلَ سُلُوْكُ الأدَبِ، خِلاَفًا لِمَنْ قَالَ الأوْلَى تَرْكُ السّيَادَةِ إقْتِصَارًا عَلَى الوَارِدِ، وَالمُعْتَمَدُ الأوَّلُ، وَحَدِيْثُ لاَ تُسَوِّدُوْنِي فِي صَلاتِكُمْ بِالوَاوِ لاَ بِاليَاءِ بَاطِلٌ
“Yang lebih utama adalah mengucapkan kata “Sayyid”, karena yang lebih afdlal adalah menjalankan adab. Hal ini berbeda dengan pendapat orang yang mengatakan bahwa lebih utama meninggalkan kata “Sayyid” dengan alasan mencukupkan di atas yang warid saja. Dan pendapat mu’tamad adalah pendapat yang pertama. Adapun hadits “La Tusawwiduni Fi Shalatikum”, yang seharusnya dengan “waw” (Tusawwiduni) bukan dengan “ya” (Tusayyiduni) adalah hadits yang batil” (Hasyiah al-Bajuri, j. 1, h. 156).  



Allah humma Solli Wa sollim 'ala Sayyidina Muhammad, Wa 'ala ali Sayyidina Muhammad.


*

*

*




Link pilihan:

Imam Mekah sebut Sayyidina -> https://www.facebook.com/mohd.hanif.779/videos/10205245774497972/


Sebut Sayyidina bukan bida'ah sesat -> https://www.facebook.com/note.php?note_id=112872728729645


*

Hukum Sambutan Maulidur Rasul

*

Imam Abu Syamah berkata: Suatu hal yang baik ialah apa yang dibuat pada tiap-tiap tahun bersetuju dengan hari maulid Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam memberi sedekah, membuat kebajikan, maka hal itu selain berbuat baik bagi fakir miskin, juga mengingatkan kita untuk mengasihi junjungan kita Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam membesarkan beliau, dan syukur kepada Tuhan atas kurniaanNya, yang telah mengirim seorang Rasul yang dirasulkan untuk kebahagiaan seluruh makhluk. (I’anatut Tholibin, juzu’ III, halaman 364) – Imam Abu Syamah adalah seorang ulamak besar Mazhab Syafie dan merupakan guru kepada Imam An Nawawi.

Imam Jalaluddin al Suyuthi dalam bukunya ‘Husnul Maqshid fi Amalil Maulid’ memberikan penjelasan tentang sambutan Maulid Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam: Menurutku, bahawa hukum dasar kegiatan maulid yang berupa berkumpulnya orang-orang yang banyak, membaca beberapa ayat-ayat al Quran, menyampaikan khabar-khabar yang diriwayatkan tentang awal perjalanan hidup Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam dan tanda-tanda kebesaran yang terjadi pada waktu kelahiran Baginda, kemudian dihidangkan makanan untuk mereka dan mereka pun makan bersama, lalu mereka pun berangkat pulang, tanpa ada tambahan kegiatan lain. Adalah termasuk bid’ah hasanah dan diberikan pahala bagi orang yang melakukannya. Imam para hafizh Abu Fadhl Ibnu Hajar telah menjelaskan dasar hukumnya sunnah.

Wallahu 'alam.



Sumber:

http://jomfaham.blogspot.com/2010/02/mengapa-menyambut-maulidur-rasul.html

https://www.facebook.com/syaroni.assamfury/posts/678019522248960


*

Sadaqallahul 'azim

*
Maha Benar Allah, yang Maha Agung

Al-Imam Al-Qurthubi menuliskan dalam kitab tafsir, Al-Jami’ li Ahkamil Quran bahwa Al-Imam At-Tirmizy mengatakan tentang adab membaca Al-Quran. Salah satunya adalah pada saat selesai membaca Al-Quran, dianjurkan untuk mengucapkan lafaz shadaqallahul a’dzhim atau lafadz lainnya yang semakna.

Syaikh Athiyah Saqr, Mufti Mesir, ketika ditanya apa hukum membaca Shadaqallahul ‘Azhim. Beliau berkata: “Kalimat Shadaqallahu Al ‘Azhim yang diucapkan oleh pembaca Al Quran atau oleh pendengar setelah selesai membaca atau mendengar ayat-ayat Al Quran, bukanlah bid’ah tercela, bahkan  memiliki landasan yang cukup kuat. Iaitu:
1. Tidak ada satu pun dalil yang melarangnya.
2. Kalimat itu merupakan zikir.
3. Para ulama menjadikannya sebagai salah satu adab ketika selesai membaca Al Quran. Bahkan menurut mereka jika ia diucapkan dalam solat, tidak membatalkan solat. Demikianlah pendapat kalangan mazhab Hanafi dan Syafi’e.
4. Lafal atau ucapan tersebut demikian dekat dengan apa yang diperintahkan dalam Alquran serta merupakan ucapan orang mukmin di saat akan perang. 

Wallahu 'alam.



Sumber:

http://www.fimadani.com/membaca-shadaqallahul-azhim-setelah-tilawah-al-quran/

https://islamicc.wordpress.com/tag/hukum-membaca-shadaqallahul-adzim/


*

Hadith Dhaif

*

Al-Hafiz Ibnu Solah telah mentakrifkan hadith dhaif (lemah), dengan katanya bahawa: “setiap hadith yang tidak mencukupi syarat-syarat hadith sahih dan tidak juga mencukupi syarat-syarat hadith hasan, maka itulah hadith dhaif”. (139تدريب الراوي :ص )

HUKUM BERAMAL DAN BERHUJAH DENGAN HADITH DHAIF

Boleh beramal dengan hadith dhaif pada fadhail amalan dan kelebihan seseorang atau sesuatu tetapi dengan beberapa syarat. Ini adalah pendapat jumhur ulama’. Di antaranya Amirul Mukminin Fil Hadith Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani, Al-Hafiz Imam Nawawi, Imam Al-Suyuti, Al-Hafiz Al-Iraqi, Al-Khatib Al-Baghdadi dan lain-lain. Pendapat ini adalah yang muktamad di sisi Imam Muhaddithin kerana ianya disokong oleh Syeikhul Islam Ibnu Hajar Al-Asqalani. Syeikh Jamaluddin Al-Qasimi pernah menyatakan dalam kitab beliau ‘Qawaid Al-Tahdis’ m/s 113: “”هذا هو المعتمد عند الأئمة Ertinya: “Ini adalah pendapat yang muktamad di sisi imam-imam hadith”. (255-257: (الحديث الضعيف أسبابه وأحكامه)

Ada pun syarat-syarat beramal dengan hadith dhaif sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Hafiz Al-Sakhawi dalam kitabnya, Al-Qaul Al-Badi’: “Aku telah mendengar daripada guru kami Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani r.h.m memberitahu berulang kali bahawa syarat-syarat beramal dengan hadith dhaif itu ada tiga:

1)      Bahawa kedhaifan hadith itu tidak bersangatan. Hadith yang bersangatan dhaif ialah perawinya pendusta atau yang dituduh dengan dusta. Syarat ini disepakati oleh ulama.

2)      Bahawa sesuatu hadith dhaif itu termasuk di dalam asal (Quran, Hadith, Ijma’ dan Qias) yang umum.

3)      Bahawa tidak mengiktikadkan datang daripada nabi shollallahu 'alaihi wasallam ketika beramal dengannya supaya tidak disandarkan kepada baginda shollallahu 'alaihi wasallam dengan apa yang tidak dikatakan.

Al-Hafiz Ibn Hajar al-Haithami ada menyebut mengapa dibenarkan beramal dengan hadith dhaif dalam fadha'il al-'amal : "Telah sepakat para ulama' boleh beramal dengan hadis dhaif dalam fadhail al-'amal; kerana jika ia adalah sahih (sebenarnya), maka ia akan diberikan haknya kerana mengamalkannya. Dan jika (ia tak sahih), maka ia tidak ada kesan ke atas hukum hakam (halal / haram) dan ia juga tidak mengurangi hak yang lain." (Dinaqalkan dari kitab Manhaj al-Naqd fi 'Ulum al-Hadith oleh Nuruddin al-'Itr, ms. 293)


Hadits Dha’if berbeza dengan Hadits Maudhu’.  Hadits Maudhu’ (hadis palsu) ialah sesuatu yang didakwa sebagai hadith tetapi telah diTOLAK atau disahkan sebenarnya ia bukan hadith. 





Link Pilihan :

Hukum Beramal dengan Hadis Daif

Memahami Hadis Dhaif 

Tidak boleh mengatakan “Rasulullah bersabda” pada hadits daif 

Dinilai dhaif tak semestinya dhaif ketika sampai kepada Imam-imam mazhab.

Memahami Hadis Maudhu'

https://www.facebook.com/sawanih/posts/605109959656314



Solat Sunat Qabliyah Juma’at

*

Di dalam mazhab Syafie, SUNNAT mengerjakan solat sunat Qabliyah Jum'at (solat sunat sebelum solat Jum’at). Waktunya ialah selepas masuk waktu zuhur dan sebelum solat Jum'at bermula.

صحيح ابن حبان بترتيب ابن بلبان
ذكر البيان بأن المصطفى صلى الله عليه وسلم كان يصلى الركعات التى وصفناها فى بيت لا المسجد
أخبرنا أبو خليفة , قال : أخبرنا مسدد بن مُسَرْهَد , قال حدثنا اسماعيل قال أيوب , عن نافع قال
كان ابن عمر يطيل الصلاة قبل الجمعة ويصلى بعدها ركعتين فى بيته , ويحدِّثُ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يفعل ذالك.
Dari Ibnu Umar Ra. Bahwasanya dia sentiasa memanjangkan shalat qabliyah jum’at. Dan dia juga melakukan shalat ba’diyyah jum'at dua raka’at. Dia menceritakan bahwasanya Rasulullah shallaAllahu `alaihi wa sallam sentiasa melakukan hal demikian”. (Sahih Ibnu Hibban)

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:
( فَائِدَةٌ ) : لَمْ يَذْكُرْ الرَّافِعِيُّ فِي سُنَّةِ الْجُمُعَةِ الَّتِي قَبْلَهَا حَدِيثًا ، وَأَصَحُّ مَا فِيهِ مَا رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ  … عَنْ أَبِي صَالِحٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، وَعَنْ أَبِي سُفْيَانَ ، عَنْ جَابِرِ قَالَ : جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَقَالَ لَهُ : أَصْلَيْتَ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تَجِيءَ ؟ قَالَ : لَا ، قَالَ : فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا . قَالَ الْمَجْدُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ فِي الْمُنْتَقَى : قَوْلُهُ : قَبْلَ أَنْ تَجِيءَ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُمَا سُنَّةُ الْجُمُعَةِ الَّتِي قَبْلَهَا ، لَا تَحِيَّةَ الْمَسْجِدِ .
“Keterangan penting. Al-Imam al-Rafi’i tidak menyebutkan dasar hadits tentang shalat sunnah Qabliyah Jum’at. Dasar yang paling shahih mengenai hal tersebut adalah hadits riwayat Ibnu Majah … dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dan dari Abi Sufyan dari Jabir, yang berkata: “Sulaik al-Ghathafani datang ketika Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam sedang khutbah. Lalu Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam berkata kepadanya: “Apakah kamu sudah menunaikan shalat sebelum datang kemari?” Sulaik menjawab: “Tidak.” Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Shalatlah dua raka’at dan percepatlah.” Al-Imam Majduddin Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab al-Muntaqa: “Sabda Nabi Shallahu’alaihi wasallam: “Sebelum datang kemari”, menjadi dalil bahwa kedua raka’at tersebut adalah shalat sunnah Qabliyah Jum’at, bukan shalat Tahiyyatal Masjid.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, dalam al-Talkhish al-Habir, juz II, hal. 74).


Sumber:

http://salafytobat.wordpress.com/2009/04/27/shalat-qabliyah-jum’at-dalilnya-sahih

http://infomajelis.blogspot.com/2009/05/qobliyah-jumat.html

http://berandamadina.wordpress.com/2010/01/19/

http://www.idrusramli.com/2013/adakah-shalat-sunnah-qabliyah-jumat/ 

*

Sapu Muka Lepas Doa

*

Menurut ulama dalam mazhab Shafie, perbuatan menyapu muka selepas berdoa adalah SUNAT.

Di dalam kitab al-Azkar karangan Imam Nawawi رحمه الله تعالى pada bab adab-adab ketika berdoa, beliau berkata: “Dan telah berkata Abu Hamid al-Ghazali didalam ihya, adab berdoa itu ada sepuluh. …….. Yang ketiga: menghadap qiblat, dan mengangkat kedua belah tangan dan menyapu keduanya ke muka pada akhir doa (setelah habis berdoa) …”

Di dalam kitab Fathul Muin, karangan Syaikh Zainuddin Ibni Abdil ‘Aziz al-Malibari asy-Syafi’iy, dituliskan: “Dan disunatkan waktu berdoa itu, mengangkatkan kedua tangan yang suci keduanya sampai sejajar dengan dua bahu, dan disunatkan menyapu muka dengan kedua tangan itu selepas berdoa …”

Di dalam kitab Hasyiah al-Baijuri, karangan Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad As Syafie Al Bajuri, dituliskan: “Dan tidaklah disunatkan menyapu muka setelah selesai berdoa di dalam solat [contohnya doa qunut], bahkan terlebih baik meninggalkannya. Bersalahan dengan ketika di luar solat, maka disunatkan menyapu muka ……”


Hadith Sayyidina Umar yang diriwayatkan oleh Imam al-Tirmizi: "Sesungguhnya nabi sallallahu `alaihi wa sallam sekiranya mengangkat tangannya (untuk berdoa), baginda tidak akan meletakkan tangannya ke bawah kembali melainkan selepas disapu mukanya".  
Ibn Hajar di dalam kitab Bulugh al-Maram dan juga Imam al-Son’ani di dalam Subul al-Salam menyatakan yang hadith ini diterima sebagai hadith hasan kerana banyak hadith-hadith saksi penguat yang lain, seperti hadith riwayat Ibn Abbas di dalam Sunan Abu Daud dan juga beberapa kitab hadith yang lain. 


Wallahu 'alam.



Link pilihan:

Hukum sapu muka selepas solat


*

Sapu Muka Lepas Solat

*
Menurut ulama dalam mazhab Shafie, perbuatan menyapu dahi selepas solat adalah digalakkan.

Ada pandangan dalam mazhab Shafie turut menyatakan SUNAT menyapu di dahi dengan menggunakan tangan kanan selepas solat.

“Rasulullah sallallahu `alaihi wa sallam apabila selesai daripada solatnya, maka Nabi menyapu dahinya dengan tangan kanannya sambil berdoa, ‘Ashadua an la ilaha illallah ar Rahmanar Rahiim. Allahumma azhib ‘annil hammi wal aza’ (Aku naik saksi tiada Tuhan selain Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih, Ya Allah jauhkan daripadaku kesakitan dan kedukacitaan),” (Riwayat al-Tabarani).

Daripada Qatadah: “Sesungguhnya Baginda menyapu dahinya apabila tamat daripada solat sebelum memberi salam.” (Musannaf Abd Razzaq).
 
Berkata Imam Nawawi di dalam Kitab al-Azkar:  Dan aku meriwayatkan di dalam kitab Ibn al-Sinni dari Anas RA berkata: Adanya Rasulullah sallallahu `alaihi wa sallam ketika selesai solatnya, beliau mengusap dahinya dengan tangannya yang kanan lalu berdoa: "Aku bersaksi bahawasanya tidak ada tuhan kecuali Dia Zat Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang, YA Allah, hilangkanlah dariku kesusahan dan kesedihan" (al-Azkar, 69).

Menurut ulama mazhab Syafie seperti dinyatakan dalam kitab I’anah al-Talibin walaupun hadis-hadis ini dai'f (lemah), ia masih digalakkan kerana termasuk dalam kategori fadhail al-‘amal iaitu kelebihan amalan.  





Wallahu 'alam.



Link pilihan:

https://jomfaham.blogspot.sg/2017/03/sunnah-mengusap-wajah-selepas-solat.html 

http://bahrusshofa.blogspot.com/2006/10/sapu-muka.html

http://kongsakongsi.blogspot.com/2013/11/hukum-sapu-muka-selepas-solat.html



*

Popular Posts